
Sepulang dari mengecek proyek smart home, Kean melajukan mobilnya ke pusat perbelanjaan yang cukup besar. Melihat mereka tak langsung pulang ke apartemen, membuat Dinda sedikit bingung.
“ Kita mau ngapain ke sini, Bang?”
“ Kencan.”
“ Kencan?” ulang Dinda yang masih belum mengerti.
Masak mau kencan masih memakai baju kantor sih? Batin Dinda.
Kean mengangguk, dia keluar dari mobil lebih dulu, lalu mengitarinya untuk membukakan pintu buat Dinda. Kean sedikit membungkukkan badan, selepas itu mengulurkan tangannya seperti seorang pangeran meminta tangan seorang putri. Dinda tersenyum, melihat sikap Kean yang begitu
manis seperti ini.
Baru keluar dari mobi saja, sudah ada beberapa wanita yang menatap terpesona oleh ketampanan suaminya, membuat Dinda kembali masuk ke
dalam mobil untuk mengambil masker di laci dashboard mobil. Kemudian sedikit berjinjit karena perbedaan tinggi mereka cukup jauh. Kean yang
menyadarinya, langsung sedikit menunduk demi memudahkan Dinda.
“ Kamu juga pakai, dong,” ujar Kean yang sedikit tak terima jika hanya Kean yang memakai masker.
Dinda tersenyum dan memakai masker miliknya. Setelah itu, mereka berdua berjalan masuk ke pusat perbelanjaan dengan tangan yang terus bergandengan seperti orang ingin menyebrang. Tujuan pertama mereka adalah ke tempat perhiasan di mana Kean sudah memesan sebuah cincin pernikahan mereka.
“ Selamat Datang, ada yang bisa di bantu?” sapa seorang pramuniaga di toko itu dengan ramah.
“ Saya mau ambil cincin pesanan atas nama Keane,” ucap Kean.
“ Oh, mohon di tunggu sebentar ya,” ucap sang pramuniaga yang segera pergi mengambil ke tempat khusus pemesanan.
“ Abang pesan cincin? Buat apa?” tanya Dinda yang tak mengerti kenapa Kean memesan cincin.
“ Cincin pernikahan kita, karena kamu nggak mau ada acara yaudah kita langsung pakai saja,” ungkap Kean.
Beberapa menit kemudian, sang pramuniaga wanita itu sudah kembali dengan membawa kotak perhiasan yang di dalamnya terdapat sepasang cincin pasangan. Dinda tercengang ketika melihat begitu indah dan cantiknya cincin itu. Sepertinya,
itu cincin yang beberapa hari lalu sempat Kean tanyakan apakah cantik atau tidak.
“ Silahkan di coba.”
Kean langsung mengambil cincin berlian itu, lalu
memasangkannya di jari manis tangan Dinda, dan ukurannya juga langsung pas, meskipun tak di ukur di tempatnya secara langsung.
__ADS_1
“ Apakah suka?” tanya Kean selesai menyematkan cincin itu di jari manis Dinda.
Dinda mengangguk dan melihat cincin yang sangat cantik itu . lalu memeluk Kean tanpa peduli bahwa dia sedang berada di tempat umum. Dinda terharu, sekaligus bahagia karena tak pernah mengira bisa memakai cincin berlian di jari manis kiri dan kanan. Meskipun tak di berikan dengan cara romantis, itu sudah memporak-porandakan hatinya.
“ Didalamnya terukir nama kamu sama abang,” lirih Kean. Dinda langsung melepaskan pelukannya, lalu mencoba melepaskan cincin itu untuk melihat
apa yang di katakan Kean benar atau tidak. Dan ternyata benar, ada namanya dan Kean terukir di
dalam sana. Setelah itu , giliran Kean yang mencoba cincin miliknya.
“ Bagaimana, apakah sudah pas, Tuan,” ucap sang pramuniaga wanita.
“ sudah.”
Setelah keluar dari tempat perhiasan, Kean mengajak Dinda masuk ke sebuah counter handphone.
“ Kamu mau pilih yang mana? “ tawar Kean yang membuat Dinda lagi-lagi terkejut.
“ Buat apa, bang?
“ Tentu saja buat kamu sayang, kemarin abang lihat layar ponsel kamu sudah retak. Jadi, sekarang abang mau belikan kamu ponsel baru.”
Kean memang bukan pria yang tiba-tiba memberikan sebuah kejutan atau hadiah dengan cara romantis. Dia lebih ke pria pengertian yang cukup peka.
Dinda sedikit takut-takut mau memilih yang mana, takut nanti memberatkan Kean. Apalagi tadi sudah habis membeli sepasang cincin berlian yang
Melihat ada ponsel impiannya ada di depan mata, membuat Dinda terus memandanginya. Ingin bilang itu, tapi dia tahu kalau harganya cukup fantastis bagi Dinda.
“ Boleh di lihat dan di coba kok, Kak,” ucap sang pramuniaga pria itu.
Pertma kali yang di sentuh Dinda adalah ponsel impiannya, dia tersenyum saat bisa menyentuhnya.
“ Mas kasih yang di pegang istri saya saja, ya.”
Dinda terbelalak ketika mendengar Kean membelikan ponsel itu tanpa melihat harganya.
“ Kenapa Nda? Bukankah kamu menyukainya?" ujar Kean ketika melihat tatapan istrinya yang tidak bisa di artikan.
“ Suka, tapi__”
“ Udah gapapa.” Setelah itu, Kean memberikan kartu debitnya kepada kasir untuk membayar ponsel itu.
Hari ini, benar-benar bagaikan mimpi bagi Dinda. Dinda melihat kembali cincin pernikahan yang tersematkan di jari manisnya, begitu cantik
__ADS_1
dan indah. Rasa Lelah setelah bekerja seketika hilang, mendapatkan kejutan bertubi-tubi. Padahal selama ini, Dinda sudah berusaha untuk menabung, tapi kebutuhannya cukup banyak jadi belum sempat ke beli. Kean benar-benar suami idaman, dia sudah mengerti tanpa harus di beritahu.
“ Mau nonton bioskop, makan, atau belanja?” tawar Kean lagi.
“ Belanja?” ulang Dinda yang sedikit terkejut mendengar Kean menawarkan belanja lagi. Padahal, biasanya kebanyakan pria akan malas di suruh menemani belanja, apalagi pulang kerja seperti ini.
“ Apakah dompet dan tubuh abang tidak capek?”
Kean tersenyum menatap istrinya ini yang sepertinya limited edition. Biasanya seorang wanita itu suka sekali belanja, apalagi mempunyai suami kaya, tapi Dinda tidak. Selama menikah, dia tak pernah minta apapun dari Kean, bahkan uang bulanan saja dia tidak pernah membahasnya.
“ Dompet abang masih tebal kok untuk memanjakan istri cantikku ini, soal tenaga masih cukup juga. Jika ada yang kamu butuhkan atau inginkan bilang saja sama abang, jangan hanya diam
seperti ini, ” ucap Kean seraya mencubit hidung Dinda.
Tiba-tiba, perut dinda berbunyi, menandakan bahwa dia sedang kelaparan. Kean hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat Dinda yang tak mau bilang kalau dia sudah lapar. Selepas itu, Kean langsung mengajaknya pergi mencari makan terlebih dahulu, nanti baru melanjutkan kencan atau shoping mereka.
Akhirnya, Dinda sudah mau memilih makanan apa yang ingi dia makan. Melihat istrinya tersenyum bahagia dan lahap makannya, itu sudah cukup
bagi Kean.
Meskipun tak mau mengambil warisan dari keluarga Fabio, karena merasa tak pantas mendapatkannya, aset yang di miliki Kean cukup banyak. Lahir dengan otak jenius, serta hidup hanya dengan seorang single mom, membuat Kean
sudah mandiri sejak kecil. Jadi, meskipun tak menjadi keluarga Fabio pun, Kean akan tetap menjadi pria sukses dengan segudang prestasi.
“ Bang, bukankah dua hari lagi kita pergi liburan?” tanya Dinda yang di jawab anggukan kepala oleh Kean.
“ Kalau gitu, kita cari baju-baju pasangan atau warna yang senada, mau nggak?” tanya Dinda dengan wajah penuh harap.
“ Iya, boleh. Kamu tidak ingin menonton bioskop?” tawar Kean.
Dinda menggeleng, dia lebih suka nonton film berdua saja nanti di apartemen. Lebih leluasa dan tidak banyak orang karena Dinda juga menyadari bahwa suaminya itu tak terlalu suka keramaian.
Selesai makan, mereka berdua melanjutkan shoping untuk belanja pakaian dan kebutuhan yang di perlukan. Malam ini, mereka tidak akan pulang ke
kediaman keluarga Fabio, melainkan ke apartemen Kean yang dekat dengan kantor. Sebelumnya,
Kean juga sudah izin untuk tidak pulang, dan menyuruh beberapa maid untuk mensterilkan apartemen miliknya, dan mengantarkan beberapa pakaian yang sudah dia siapkan.
Sebenarnya, Kean memang punya rencana untuk tinggal sendiri setelah menikah, dia ingin menjalani kehidupan pernikahan seperti pasangan pada
umumnya, sekaligus belajar membangun keluarga kecilnya sendiri. Namun, Mama Dira dan Papa Ken terlihat masih berat untuk menyetujuinya. Jadi, Kean melakukannya perlahan-lahan sampai mereka benar-benar siap di tinggal pergi Kean dan Dinda dari rumah.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya.
Soal crazy up akan di mulai besok sampai tanggal 13 ya...