
Momen malam pertama setelah menikah yang biasanya di jadikan sebagai malam unboxing, tidak berlaku pada pasangan pengantin baru ini. Malam itu keduanya justru hanya saling bertukar cerita, mengenal satu sama lain dan menonton drama bersama sebagai referensi kegiatan romantis mereka dalam menjalin rumah tangga.
Sebelumnya Kean pernah mengatakan akan romantis jika bersama istrinya, dan itu akan dia wujudkan. Namun, Kean juga butuh waktu untuk mempelajarinya terlebih dahulu karena dia bukanlah tipe pria romantis.
Malam yang penuh cerita mulai hilang, adzan subuh mulai berkumandang di mushola kediaman keluarga Fabio. Meskipun hanya tidur beberapa jam, tubuh Kean seperti mempunyai alarm yang akan otomatis bangun ketika mendengar waktu adzan.
Kualitas tidurnya malam ini begitu nyenyak dari biasanya. Apakah mungkin karena sudah ada yang menemani? Seperti sebelumnya, Dinda tidur sambil memeluk tubuh Kean.
Ketika sepasang mata itu telah terbuka, pertamakali yang dia lihat adalah wajah terlelap istrinya. Kean tersenyum, lalu mengecup kening Dinda. Pada kenyataannya bukan hanya Dinda saja yang merasa nyaman dengan Kean, tapi Kean juga merasakan hal yang sama.
"Din, ayo bangun." Kean menepuk pipi Dinda pelan, membuatnya sedikit menggeliat.
Melihat Dinda hanya menggeliat saja, membuat Kean bangun terlebih dahulu. Selesai mengambil air wudhu, baru Kean membangunkan Dinda lagi. Tapi, pada dasarnya Dinda yang memang sulit di bangunkan. Terpaksa Kean harus mengunakan cara ala-ala emak membangunkan putrinya yang sulit bangun dengan memercikkan air di wajahnya.
Merasakan wajahnya yang basah, membuat sepasang mata itu mulai membuka matanya.
"Abang?" lirih Dinda saat melihat suaminya berdiri di samping ranjang dengan membawa gelas kumur.
"Bangun, kita sholat subuh."
"Abang yang nyiram Dinda?" tanyanya saat merasakan wajahnya basah.
"Bukan nyiram hanya memercikkan sedikit saja."
"Apakah tidak ada cara yang lebih romantis gitu?" gerutu Dinda. Padahal semalam mereka sudah menonton film romantis agar Kean bisa lebih romantis, tapi ternyata tidak.
Kean geleng-geleng kepala dan menghembuskan nafas panjang. "Sudah cepetan bangun, nanti waktu sholat subuhnya keburu habis."
"Memangnya ada yang makan, kok bisa habis?"
"DINDA!" panggil Kean dengan penuh penekanan, membuat Dinda segera turun dari ranjang.
Melihat Dinda berjalan masuk ke kamar mandi, membuat Kean segera merapikan tempat tidurnya. Menikah dengan wanita seperti Dinda harus punya stok kesabaran ekstra agar bisa bertahan.
Selesai sholat subuh, seperti biasanya Kean akan murojaah hafalannya. Kean mengambilkan Al-Quran agar Dinda menyimak bacaannya jika ada yang salah.
"Abang suruh Dinda mengaji?"
"Apa kamu tidak bisa mengaji? Kean justru melontarkan pertanyaan kembali saat melihat wajah Dinda seperti terkejut.
" Bisa, sih! "
" Yaudah, simak Abang dulu sebentar ya. Nanti setelah itu gantian. "Kean membukakan surat yang akan dia baca, lalu segera membacanya. Ketika mendengar Kean mengaji tanpa membuka Al-Quran, membuat Dinda termenung dan terpesona.
__ADS_1
Ini suamiku seorang hafidz? Sungguh benar-benar di luar eksperimen, eh salah ekspektasi. Bang Kean benar-benar pria yang selalu membuatku tercengang.
Melihat Dinda hanya memandanginya, membuat Kean berhenti sejenak.
"Din, yang di simak Al-Qur'annya,.bukan abang!"
"Eh, iya." Dinda tergagap.
Saat Kean mau memulai kembali, Dinda menghentikannya sebentar.
"Abang seorang hafidz?" tanyanya yang sejak tadi penasaran
Kean hanya mengangguk. "Sudah, di simak. Nanti kalau ada yang salah, kamu benarkan."
Setelah itu, Kean melanjutkan murojaahnya sampai selesai. Satu jus buat Kean sudah biasa, tapi bagi Dinda itu sangat tidak biasa. Mendengar suara Kean yang mengaji, seperti penghantar tidur baginya.
" Kamu masih mengantuk? "
Dinda mengangguk." Habisnya suara abang bagaikan penghantar tidur."
Kean tersenyum mendengar ungkapan Dinda.
"Sekarang giliran mu yang mengaji."
Bola mata Dinda langsung terbuka lebar saat mendengar Kean menyuruhnya mengaji, alih-alih melanjutkan tidur.
"Em, tapi__." Dinda memang bisa mengaji, tapi mungkin amburadul. Karena terlalu jarangnya mengaji.
Kean menyuruh Dinda memulai dari surah al-fatihah sebagai pembuka. Awalnya lancar karena surah itu sering di baca saat sholat, tapi surah selanjutnya sudah banyak sekali yang salah tanda bacanya.
Melihat hal ini, mengingatkan Kean kepada Papanya dulu. Dia harus mengajari Ken baca Al-Qur'an agar mendapatkan restu untuk bisa menikahi mamanya, dan kenangan itu terulang kembali sekarang. Di mana Kean harus mengajari istrinya mengaji.
"Bang sudah ya," rengek Dinda yang sejak tadi di salahkan oleh Kean.
"Baiklah, tapi mulai hari ini. Setiap ba'da sholat subuh dan maghrib kamu akan belajar baca Al-Quran jika tidak ada kendala."
Bola mata Dinda terbelalak sempurna lagi.
" Abang tidak bercanda, kan?"
" Abang serius, bukan bercanda! Kamu sekarang adalah tanggung jawab abang sepenuhnya, bahkan dosa kamu abang yang tanggung. Jadi, abang harus bisa mendidik kamu ke jalan yang di ridhai-Nya. Karena baik buruknya sikap seorang istri adalah cerminan dari suaminya. Apakah dia bisa mendidiknya atau tidak."
Dinda hanya bisa mengangguk saja.
__ADS_1
" Kalau begitu sekarang kamu mandi, setelah itu kita sarapan bersama. "
" Ini nggak ada waktu tidur lagi? "
Kean menyipitkan matanya, membuat Dinda segera bangun dari tempat duduknya, lalu membereskan alat sholatnya. Baru sehari menjadi istrinya, sudah membuat Dinda tahu bagaimana ekspresi wajah Kean yang masih bisa di bantah atau tidak.
Melihat Dinda yang mulai patuh, membuat Kean tersenyum sambil memijat pelipisnya.
Karena terburu-buru waktu masuk ke kamar mandi, membuat Dinda lupa membawa baju ganti, dan pakaiannya sudah terlanjur dia letakkan di tempat baju kotor.
"Astaga, Dinda ... Kenapa bisa lupa sih?" Dinda merutuki sifat cerobohnya yang datang di waktu tak tepat.
"Tapi, bukankah tidak apa-apa ya. Kita kan sudah menikah, kemarin juga aku sudah melihat tubuh sixpack abang." Dinda tersenyum saat membayangkan kembali bagaimana tubuh Kean yang penuh roti sobek.
"Din, pa masih lama?" panggil Kean.
Panggilan Kean langsung membuat lamunan Dinda buyar. "Iya bang, sebentar."
Perlahan, Dinda keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang di lilitkan di atas dada karena maid belum menyiapkan bathrobe khusus untuknya.
Melihat Dinda hanya memakai handuk seperti ini, membuat jakun Kean naik turun.
"Kamu nggak bawa baju ganti?"
"Lupa! Dinda segera berlari kecil sambil memegangi handuknya agar tak jatuh. Sedangkan Kean segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajah dan menenangkan sesuatu yang sudah menegang di bawah sana.
Kean adalah pria normal, dia akan bern*afsu jika melihat wanita yang dia sukai berpakaian seksi seperti itu. Wajah Kean terlihat merah padam bagaikan kepiting rebus.
"Tahan Kean ... Kamu pasti bisa menahannya!" Kean menarik nafas dan membuangnya perlahan.
Di ruang walk in closet, Dinda mencoba mencari pakaian santai yang akan dia kenakan. Namun, yang dia dapat justru justru lingerie seksi dengan bahan yang menerawang dan seksi sekali.
" Ini seriusan abang yang pesan baju seperti ini?" saat melihat ada kartu ucapan di dalam kotak baju lingerie itu, Dinda baru sadar kalau ini yang di maksud kado dari aunty sinta.
Dear Dinda.
Semoga kamu suka dengan kado dari aunty, ya. Aunty sudah belikan beberapa baju perang agar kamu bisa menyenangkan hati suami. Semangat!, kamu harus lebih agresif jika berhadapan dengan pria dingin seperti Kean.
"Jadi ini yang di namakan baju perang seorang istri?" Dinda mencoba menempelkan baju itu di depan tubuhnya. Melihatnya sendiri saja sudah bisa membuat Dinda bergidik ngeri, apalagi memakainya di depan Kean. Tapi ... Sudahlah! Itu di pikir nanti. Yoh sekarang mau sarapan bareng keluarga. Jadi aku tak perlu memakai baju ini dulu."
Dinda segera meletakkan baju itu ke dalam kotaknya kembali, dan mengambil baju yang lainnya. Melihat baju-baju yang di bawa aunty sinta panjang semua, membuat Dinda mengerti kalau ini pasti permintaan Kean. Karena dia tak suka melihat Dinda memakai baju yang memperlihatkan auratnya di depan umum.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...
Untuk yang belum tahu kalau abang Kean adalah seorang hafidz, kalian bisa baca novel sebelumnya ya. Yang judulnya Anak genius : Papa bucin yang posesif. Itu juga alasan kenapa abang Kean selalu menundukkan pandangan dan tidak mau pacaran, karena dia takut hafalannya hilang karena terlalu banyak dosa.