My Best Partner

My Best Partner
Bab 85


__ADS_3

Nala masih terdiam, apakah dia harus jujur dan cerita  sama maminya atau tidak? Jika cerita   pasti akan di ledeki terus, kalau  tidak cerita dia dilema sendiri memikirkan apa yang harus dia jawab tentang pertanyaan Lean.


Ah … kak Lean memang bikin aku pusing. Nala masih saja hanyut dalam pikirannya sendiri.


“ Nal, apakah kamu sedang jatuh cinta?” pancing Mami senja ketika melihat putrinya hanya diam saja.


“ Iya, kenapa, Mi?” jawab Nala yang sedikit terkejut saat mami senja menyentuh tubuhnya.


 “Iya? Sama siapa? Ganteng


nggak?” goda Mami Senja yang sudah salah paham dengan jawaban iya dari Nala, bahkan langsung menghujani beberapa pertanyaan. Sedangkan Nala menjadi bingung sendiri, harus menjelaskan apa


Akhirnya terpaksa dia cerita dari awal sama maminya .


Mami Senja hanya diam mendengarkan cerita putrinya itu sambil senyum-senyum sendiri. Dia tidak menyangka bahwa putrinya kini sudah sebesar ini, bahkan sudah jatuh cinta.


“ Terus apakah kamu mencintai kak Lean?” tanyanya yang penasaran.


Nala menggeleng karena dia tidak tahu apakah dia sudah cinta atau belum sama Lean.


“ Em, begini … kalian kan sudah saling kenal sejak kecil, dan tentunya pasti ada rasa suka nggak mungkin benci. Tapi, apakah ada rasa aneh saat bersama Lean?”


Nala mengangguk, lalu menggeleng. Jujur dia juga bingung sendiri bagaimana perasannya kepada Lean. Karena dari kecil yang Nala suka bukan Lean, melainkan Kean.


Mami Senja hanya bisa tersenyum melihat ekspresi Nala, dia mengingatkan pada Senja muda yang dulu juga dilema saat di tanya mamanya tentang hubungannya dengan Rian.


Berkaca dari kejadian sebelumnya, membuat Jingga benar-benar ingin menjadi ibu sekaligus sahabat bagi Nala sehingga dia akan mudah bercerita dan berterus terang padanya. Karena itu memang di butuhkan bagi seorang ibu dan anaknya.


" Kalau kamu belum tahu jelas dengan perasaanmu sendiri. Maka, jalani saja dulu, seperti Mami sama papi dulu. Kita tidak pacaran, hanya saling kenal, jalan bareng, jujur satu sama lain, setelah cocok dan merasa nyaman kita langsung lanjut ke jenjang yang lebih serius. Karena waktu itu mami sama papi memang sudah sama-sama tidak sedang mencari pacar. Tapi, kamu berbeda Nal. "


" Berbeda kenapa, Mi? "


" Kamu itu masih kecil, belum ada tujuh belas tahun, bahkan sekolah saja belum lulus. Tapi, Mami tidak akan melarang jika kamu memutuskan untuk menikah setelah lulus sekolah. Karena menikah sambil kuliah juga tidak masalah. Namun, apakah kamu sudah siap lahir dan batin? Menikah muda itu tidak mudah, menikah bukan hanya untuk menghalalkan sebuah hubungan saja. Tapi banyak sesuatu yang membutuhkan kesiapan batin dan lahir," jelas mami Senja.


" Sekarang, Mami ingin kamu fokus dulu sama sekolah. Bukankah hanya tinggal dua bulan lebih? Soal cinta dan hubungan, jalani saja dulu."


" Jadi, Mami tidak melarang kalau Nala berhubungan sama kak Lean? " tanya Nala untuk memastikan.


Mami Senja menggeleng. Jika itu pria lain, dia pasti tidak akan langsung setuju dan mencari tahu dulu. Apakah pria itu benar-benar serius, baik, dan lain sebagainya. Tapi, Lean ... Meskipun mereka tidak tinggal bersama, Senja sudah cukup tahu betul seperti apa dia.

__ADS_1


" Sudah, sekarang kamu istirahat saja. Jangan terlalu di pikirkan, nanti pusing sendiri. Kalau memang jodoh, pasti akan ada jalannya dan bisa bersatu."


Setelah itu, Mami Senja keluar dari kamar Nala. Dia tersenyum sambil geleng-geleng kepala, tidak bisa membayangkan jika putrinya menikah di usia yang sangat muda. Nala itu masih sangat manja, terkadang masih suka tidur di tengah-tengah dirinya dan juga Rian. Bagaimana ceritanya jika dia menikah? Pasti Lean akan seperti mengurus bayi besar.


...☘️☘️☘️...


Di tempat lain, terlihat seorang pria tampan baru saja selesai memeriksa beberapa pasiennya. Dia membuka layar ponselnya, tak ada satu pun pesan yang masuk.


"Apakah dia sudah tidur? Kenapa tidak memberi kabar jika sudah sampai rumah? Tapi, kenapa aku khawatir begini? Apakah aku sudah menyukainya?" Lean bermonolog sambil menatap layar ponselnya.


Daripada penasaran, dan khawatir lebih baik kirim pesan saja.


Lean : Gadis kecil, apakah sudah sampai rumah?


Beberapa menit kemudian, belum juga ada balasan dadi Nala.


Lean : Apakah sudah tidur?


Karena sudah waktunya pulang, Lean memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Dia ingin istirahat di kasur empuknya itu, namun di pertengahan jalan dia berpapasan dengan Lea.


Lean berusaha bersikap biasa saja, seperti tidak terjadi sesuatu pada mereka.


" Bisakah kita bicara sebentar?"


" Mau bicara apa?" tanya Lean tanpa menengok ke arah Lea.


Lea berjalan mendekati Lean dan berdiri di depannya dengan tatapan tak biasa.


" Sebentar saja, boleh, kan? Tidak akan lama kok," pinta Lea.


Lean paling tidak bisa menolak jika sudah ada yang memohon seperti ini. Sepertinya tidak apa-apa berbicara sebentar. Setelah itu, mereka berdua duduk di kursi tunggu yang cukup sepi dari orang agar pembicaraannya tidak terganggu.


Lean terlihat sekali jika menjauhi Lea, sampai jarak tempat duduknya cukup jauh.


" Apakah kamu benci dan jijik padaku, Le?" tanya Lea to the poin.


Lean mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan Lea.


" Kenapa kamu berkata seperti itu?"

__ADS_1


" Ya kamu lihat sendiri, selama beberapa hari ini, kamu terus menjauhiku. Bahkan, ketika kita tak sengaja berpapasan, kamu seakan tak melihatku! Dan sekarang, tempat dudukmu jaraknya sangat jauh, tidak seperti dulu."


Lean menaikkan sudut bibirnya." Aku tidak jijik ataupun benci padamu! Untuk apa aku melakukan itu? Apakah kamu sesuatu yang menjijikkan? Aku hanya menjaga jarak saja. "


Ucapan Lean sungguh menohok hati Lea. Padahal dulu Lea tak pernah menghiraukan Lean, tapi kenapa dia merasa sakit dan kehilangan jika Lean menjauhinya?


" Apakah pacarmu melarang kamu dekat denganku? Apa dia tidak tahu jika kita hanya sebatas sahabat? " tukas Lea.


" Tidak, dia tidak pernah melarangku. Hanya saja, kamu sudah punya pacar jadi harus ada hati yang kamu jaga, begitupun aku. Seorang laki - laki dan perempuan, tidak akan murni hanya sebatas sahabat. Tapi, Le ... Kamu mengatakan bahwa aku adalah sahabatmu, apakah kamu tahu apa arti kata sahabat? "


Lea terdiam, dia bingung harus menjawab apa.


" Seorang sahabat tidak akan membohongi sahabatnya, dan dia akan memperlihatkan wujud aslinya, bukan palsu belaka! "


Setelah itu, Lean pergi meninggalkan Lea yang masih duduk termenung di kursi. Dia benar-benar dibuat diam tak berkutik oleh Lean.


Apakah Lean sudah tahu semuanya? Batin Lea.


...☘️☘️☘️...


Di sebuah kamar yang mewah, terlihat seorang wanita cantik tengah memasukkan pakaian kedalam almari. Sejak tinggal bersama dengan pria yang suka kebersihan dan rapi. Dinda mencoba untuk mengimbanginya.


Kean memang tak pernah marah atau menyuruh Dinda untuk rapi, tapi dia langsung merapikan atau membersihkannya sendiri jika menurutnya tidak sesuai dengan hatinya. Jadi, Dinda ya berperasaan sendiri.


Ketika sedang menata pakaian, tiba-tiba Dinda menemukan sebuah kotak persegi yang biasanya di pakai untuk menyimpan sebuah perhiasan. Dinda membuka kotak itu, dan ternyata isinya sebuah gelang merah.


Dinda mengambil gelang itu, dan mencoba mengamatinya. Bentuk gelang itu seperti tak asing baginya, tapi di mana dia melihatnya?


Dinda mencoba mengingat-ingat kembali.


"Ya ... Gelang ini seperti gelang keberuntungan (jimat) tapi kenapa abang memilikinya? Abang adalah orang yang sangat agamis jadi tidak mungkin dia percaya dengan sesuatu yang takhayul seperti ini!" Dinda bermonolog seraya terus memandangi gelang itu.


Karena penasaran, Dinda memilih untuk menanyakan langsung saja, daripada suudzon dan berpikir yang tidak-tidak.


" Abang ... Ini gelang siapa? "tanya Dinda pada Kean yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Bola mata Kean membulat sempurna ketik melihat Dinda menemukan gelang merah yang sudah ia simpan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2