My Best Partner

My Best Partner
Bab 83


__ADS_3

"Pacar? Kakak menganggap aku sebagai pacar?" tanya Nala dengan tersenyum karena nazarnya akhirnya terlaksana tanpa dia harus mengejar Lean.


Lean terdiam, dia mencoba mengingat kembali apakah dia tadi berkata pacar?


Astagfirullah ... Keceplosan lagi ni mulut memang lemes banget. Gerutu Lean sambil memukul mulutnya.


" Nal, maksud kakak bukan pacar yang seperti itu. Kamu___"


"Terus pacar seperti apa? Apa kakak hanya mau mempermainkan aku? Di naikan ke atas lalu di jatuhkan itu sakit!" sela Nala dengan wajah kesal.


" Kamu dengerin kakak ngomong dulu ya, jangan di potong. Kakak tidak ada niatan untuk mempermainkan kamu atau siapapun, karena kakak itu juga punya adik perempuan. Bukankah kakak sudah pernah bilang, kalau tidak suka pacaran. Jika mencintai seseorang, kakak akan menikahinya."


" Meskipun masih terbilang muda, tapi kakak sudah memiliki semua dan mampu untuk menjalani sebuah rumah tangga. Jadi, buat apa pacaran yang hanya buang waktu dan memperbanyak dosa? "


" Dan kamu ... " Lean menundukkan. Kepalanya. Entah kenapa tenggorokannya tercekat ketika ingin melanjutkan ucapan selanjutnya. Karena Lean sendiri juga bingung, harus berbuat seperti apa. Mimpi dari sholat istikharahnya benar-benar selalu terbayang dalam ingatannya. Padahal dia masih sekali melakukannya, tapi sudah terlihat begitu jelas.


" Dan apa kak? Kenapa tidak di lanjut?" ucap Nala yang sudah penasaran.


"Sekarang usiamu berapa?"


"16 tahun."


"Usia di perbolehkan menikah oleh Negara berapa?"


"19 tahun. Jika kurang harus melakukan Dispensasi!"


Dispensasi nikah merupakan upaya bagi mereka yang ingin menikah namun belum mencukupi batas usia untuk menikah yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sehingga orang tua bagi anak yang belum cukup umurnya tersebut bisa mengajukan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama melalui proses persidangan terlebih dahulu agar mendapatkan izin dispensasi perkawinan.


Lean tersenyum tipis, ternyata Nala tahu soal itu semua.


Nala mengerutkan dahinya ketika menyadari ada yang salah.


" Sebentar, kenapa kakak tiba-tiba menanyakan hal itu? Apakah___?"


"Kakak hanya ingin memberitahukan kamu, kalau kamu itu masih di bawah umur! Lebih baik sekolah yang bener, nggak usah mikirin pacaran atau menikah,"tukas Lean.


" Jadi, kakak mengatakan banyak hal hanya untuk menolak? "


Lean menggeleng." Tidak ada yang di tolak maupun menolak. Sebenarnya kakak penasaran, apa sebenarnya alasan kamu mengatakan bahwa kamu adalah pacar kakak itu bukan candaan. Apa kamu menyukai kakak? Jika suka, apakah kamu siap untuk menikah muda?"


Nala terdiam, dia bingung harus jujur atau tidak. Jika jujur, takut menyakiti.


Melihat Nala yang hanya diam saja, membuat Lean melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


" Yasudah, pikirkan dulu matang-matang pertanyaan kakak sebelum menjawabnya, jangan sampai mengambil keputusan yang akan kamu sesali nantinya."


Nala masih terdiam, sekarang giliran dia yang di buat diam seribu bahasa oleh Lean.


Dasar kak Lean aneh. Katanya nggak boleh mikirin pacaran atau menikah dulu. Lah sekarang justru menyuruh aku mikirin tentang apakah aku siap menikah muda jika menyukainya? Dasar aneh, sebenarnya maunya apa coba? Berhubungan dengan pria dewasa memang rumit! Gerutu Nala dalam hati.


Karena jam masuk kerjanya sudah mepet, terpaksa Lean tidak bisa mengantar Nala dan Anne pulang. Awalnya ingin memanggil taksi, tapi Nala menolak dengan mengatakan akan menelpon sopirnya untuk datang menjemput. Entahlah, dia masih ada sedikit trauma mau naik taksi. Lean juga setuju karena itu jauh lebih aman.


"Nanti, kalau sudah sampai rumah hubungi kakak ya. Biar nggak kepikiran," ucap Lean dengan tersenyum.


Nala hanya sanggup mengangguk, karena dia seperti terhipnotis dengan ucapan Lean. Nala menggeleng-gelengkan kepala untuk menyadarkannya.


Sadar Nal, apakah kamu sudah terpikat dengan kakak tengil itu? Tapi, memang tak ada salahnya juga sih, tertarik dengan kak Lean. Dia itu, bisa di bilang cowok idaman jika sifat tengilnya di kurangin dikit, eh tapi sepertinya itu yang membuatnya beda daei kaka Kean deh!


Di saat Nala masih hanyut dalam lamunan dan pikirannya sendiri. Tiba-tiba Anne datang mengagetkannya .


"Nal," panggil Anne seraya menepuk pundak Nala.


"Astaga!" Nala terjingkat kaget karena Anne tiba-tiba menyentuhnya.


"Astagfirullah, Nal. Sudah di ingatkan berkali-kali kok!" gerutu Anne ketika melihat temannya yang masih saja mengucapkan astaga.


"Iya, Astagfirullah hal adzim."


"Nah, gitu kan enak di dengernya. Eh, tapi kenapa kamu kaget? Lagi ngelamunin apa? Terus kak Lean mana?" tanya Anne saat melihat Nala hanya sendirian.


"Kak Lean sudah pulang, katanya sudah waktunya jam masuk kerja!"


"Oh, terus gimana tadi?"


"Apanya?"


"Ya kalian___ udah beres apa belum?" tanya Anne kepo.


"Apaan sih, Anne? Nggak ngerti aku!" elak Nala yang belum siap cerita ke Anne.


Tak lama kemudian, supir Nala sudah datang menjemput. Jadi, mereka memasuki mobil untuk pulang ke rumah.


...☘️☘️☘️...


Sesampainya di rumah sakit, Lean langsung di hadapkan dengan Rena yang sudah menunggu di depan pintu ruangannya.


"Rena? Ada apa?" sapa Lean.

__ADS_1


"Saya___" melihat wajah Lean yang terluka, membuat Rena refleks ingin menyentuh wajah Lean. Namun, Lean segera menghindar.


"Maaf, Dokter Lean. Tadi saya reflek, tapi wajah Anda kenapa?" tanya Rena dengan raut wajah khawatir.


"Oh, tadi ada masalah sedikit. Kamu sendiri ada apa berdiri di depan ruangan saya?"


"Oh, saya hanya ingin mengantarkan kudapan yang saya buat sendiri untuk anda." Rena menyodorkan sebuah tas bekal makanan ke Lean.


Dengan ragu-ragu, Lean mengambil kudapan itu. Melihat Lean mengambilnya, membuat Rena tersenyum bahagia.


" Terimakasih, ya."


" Sama-sama, jangan lupa di makan dan semangat kerjanya, "ucap Rena dengan tersenyum.


Lean hanya mengangguk biasa saja tanpa tersenyum. Tapi, tiba-tiba ponselnya berbunyi sebuah notifikasi pesan masuk.


Nala : Apakah kakak sudah sampai?


Lean menarik sudut bibirnya sedikit membuat senyuman tipis. Meskipun tipis, masih terlihat oleh panca indra Rena.


Ketika melihat Lean ingin masuk ke dalam ruangannya, Rena segera menyingkir dari depan pintu.


Melihat Lean yang masuk ke dalam ruangannya tanpa melihat ke arahnya justru menatap layar ponsel, membuat Rena cemburu dan kesal.


Kira-kira siapa yang mengirim pesan sampai bisa membuat Dokter Lean tersenyum. Bahkan, di depanku saja dia tidak tersenyum. Bukankah katanya tidak punya pacar dan memberikan kesempatan padaku? Tapi, apa ini? Sepertinya aku harus mencari tahu! Gumam Rena dalam hati.


Setelah meletakkan tas bekal makanan dari Rena, Lean segera membalas pesan dari Nala.


Lean : Baru saja sampai, kamu sendiri, apakah sudah di jemput supir?


Nala mengirim foto supirnya yang ada di depan.


Nala : Sudah juga, ini masih dalam perjalanan mau mengantar Anne pulang.


Lean : Yasudah, kalau begitu hati-hati di jalan. Kakak mau kerja dulu.


Nala : Iya, semangat kerjanya.


Sebuah emoticon senyum membuat Lean ikut tersenyum. Entahlah, status hubungan mereka itu tidak jelas. Bukan hanya status hubungan, perasaan saja juga belum jelas.


Lean akan terus melakukan sholat istikharah sampai dia benar-benar yakin atas petunjuk dari Allah.


Ada yang mengatakan : Jika berjodoh, seberapa jauh kamu pergi atau menghindar, akan tetap mendekat dan di mudahkan jalannya, dan begitupun sebaliknya. Jika tidak berjodoh seberapa keras kamu berjuang, tidak akan bisa bersama.

__ADS_1


Saat ini, Lean hanya bisa pasrah, dan ikuti alurnya saja. Toh jodoh juga sudah ada yang mengatur.


...****************...


__ADS_2