
Di sebuah restoran yang sudah di dekorasi dengan nuansa yang begitu romantis, terlihat seorang pria tampan dengan setelan jas warna navy sedang duduk menunggu kedatangan sang wanita pujaan. Sekarang, dia tahu bagaimana rasanya gugup saat ingin melamar seorang wanita.
Ucapan papanya saat itu benar adanya, ketika ingin melamar seorang wanita akan sangat gugup.
Malam ini, Lean berencana ingin langsung melamar Lea. Dia berpikir bahwa mereka sudah tak perlu pacaran lagi karena sudah saling kenal satu sama lain. Jadi, Lean ingin mengajak Lea ke jenjang yang lebih serius.
Lean mencoba mengatur nafasnya agar tidak grogi. Sorot matanya terus tertuju pada jam tangan di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah berada pada angka pukul delapan malam, namun Lea tak kunjung datang juga. Padahal, mereka janjian pukul tujuh malam.
"Tuan, apakah mau saya sajikan makanan pembukanya dulu," tanya seorang pelayan.
" Tidak perlu. Jika butuh, saya akan panggil kalian."
"Baik, Tuan." Sang pelayan pun pergi dari hadapan Kean.
Sedangkan di belakang ada beberapa pelayan sedang berbisik sambil terus menatap Lean. Di karenakan restoran ini sudah di booking oleh Lean. Jadi tak ada pelanggan lain yang datang makan di restoran itu sehingga beberapa pelayan sedang menganggur, karena Lean belum memesan apapun.
"Sumpah pria itu tampan sekali bagaikan aktor hollywood, tapi sayang sudah ingin melamar wanita lain."
"Iya bener, aku juga jadi penasaran seperti apa wanita itu. Dia pasti sangat beruntung sekali mendapatkan pria setampan dan seromantis itu."
"Eh dengar-dengar dia juga seorang Dokter yang hebat lho."
"Tau dari mana kamu?"
"Aku kan penggemarnya di sosial media. Tapi, kenapa wanita itu belum datang juga? Andai saja itu aku, pasti sudah datang sejak tadi."
" Kalau mimpi jangan ketinggian, nanti jatuh, sakit!"
Jarum jam terus berputar, kini jam sudah menunjukkan pukul 8:30 menit.
Kenapa Lea belum datang juga, ya? Masak terjebak macet, sih! Apa aku coba telepon saja ya ... Gumam Lean dalam hati.
Sedangkan di tempat lain, terlihat seorang wanita cantik dan pria tampan, sedang menikmati olahraga panas mereka. Sekitar satu jam lebih mereka belum selesai melakukannya, bahkan sudah beberapa ronde dengan gaya yang berbeda.
__ADS_1
Pasangan itu bukanlah Kean dan Dinda, melainkan Leandra dengan kekasih barunya. Sudah lama dia tidak melakukan Having *** (berhubungan ****) seperti ini. Jadi, sekalinya main tak kunjung puas. Sejak tinggal di luar Negeri, having *** bersama dengan kekasihnya sudah biasa bagi Lea.
Meskipun sudah beberapa kali melakukan having ***, Lea tak pernah hamil. Karena dia tahu ilmunya agar tak hamil serta selalu menggunakan pengaman.
"Kamu luar biasa baby," ucap kekasih Lea.
"Tentu saja! Kamu juga sangat kuat dan pandai memuaskan ekspetasi **** ku ! Aku akan ke kamar mandi dulu." Lea beranjak turun dari ranjang panas mereka menuju kamar mandi.
Mendengar ponsel Lea terus berbunyi tanpa henti, membuat sang kekasih mengangkatnya.
" Halo Le, kamu sekarang ada di mana?" tanya Lean di ujung telepon.
" Lea lagi ada di kamar mandi, apakah ada sesuatu yang penting? Nanti akan saya sampaikan," ujar seorang pria di ujung telepon.
Lean terdiam ketika mendengar suara seorang pria yang menjawab telepon Lea.
Siapa pria itu? Dan di mana dia sekarang? Bukankah tadi Lea sudah menerima tawaranku untuk Dinner bersama?
" Halo Dok, apakah anda mendengar perkataan saya?" ucap pria itu di ujung telepon. Kekasih Lea memanggil Lean Dok, karena nomor ponsel Lean di tulis dengan nama Dokter Leanne. Nama formal yang tak ada spesialnya.
"Anda siapa?" tanya Kean dengan suara sedikit bergetar.
"Oh, saya kekasihnya," jawab pria itu.
Deg
Hati Lean benar-benar terasa sakit tatkala pria itu mengenalkan dirinya sebagai kekasih Lea. Apalagi ketika mendengar suara Lea memanggil pria itu dan menyuruhnya mengambilkan handuk. Membuat hati Lean benar-benar hancur.
Kekasih Lea lupa mematikan panggilan Lean sehingga dia bisa mendengar percakapan Lea dan kekasihnya itu. Karena jarak kamar mandi sangat dekat dengan tempat di mana ponsel itu di letakkan.
" Beb bisakah aku ikut mandi juga?" ucap pria itu.
" Boleh, tapi hanya mandi saja. Tak ada yang lainnya, oke! Karena aku masih lelah," jawab Lea.
__ADS_1
Lean seketika mematikan panggilan itu, dia sudah tak mampu lagi mendengar percakapan mereka. Mata Kean sudah memerah, tangannya mengepal, hatinya benar-benar hancur dan kecewa. Dia tak menyangka bahwa Lea ternyata wanita yang pergaulannya bebas.
Lean tersenyum getir, ternyata apa yang di katakan Kean benar. Jika dia terus mencintai Leandra, dia akan tersakiti lagi.
Ternyata aku tetap saja tak bisa membuatmu jatuh cinta padaku Lea! Jerit Lean dalam hati.
Seketika ingatan tentang di mana Lea menolaknya dulu, kembali terlintas. Dulu, Lean juga pernah tersakiti karena Lea mengatakan bahwa dia mencintai Kean, bukan dirinya.
"Leandra Monroe, apakah kamu mau menjadi pacarku?"
" *Maaf Lean, aku tak bisa."
" Kenapa Lea? Bukankah selama ini kita dekat, bahkan banyak yang mengira bahwa kita ini adalah sepasang kekasih. Lalu kenapa kita tidak bisa menjadi sepasang kekasih sungguhan? Apa karena aku tak pantas? "
" Bukan tak pantas, kamu pria baik. Tapi, aku tidak pernah mencintaimu. Jadi, jangan paksa aku untuk bisa mencintaimu. Karena pria yang aku cintai adalah Kean, bukan kamu. Jika kita pacaran, aku tak akan bisa mendapatkannya*."
Saat itu, adalah pertama kalinya Lean merasakan sakit karena cinta. Dia tak pernah mengira jika saingan cinta terberatnya adalah sang kakak sendiri.
Lean mengira suatu saat nanti, Lea bisa berubah mencintainya, namun ternyata tidak. Sampai kapanpun, Lean tak pernah bisa mendapatkan cinta itu. Sekalipun dia berpura-pura tak tahu apa-apa.
Saat itu, Lean juga pernah minta pendapat Kean tentang Lea. Dan Kean hanya menjawab bahwa dia tak menyukai Lea karena dia wanita bermuka dua. Ketika mendengar Kean menghina Lea dengan sebutan wanita bermuka dua, Lean sempat tidak terima, bahkan sampai memusuhi Kean beberapa hari. Tapi, sekarang dia tahu kenapa Kean mengatakan bahwa Lea wanita bermuka dua.
Melihat Lean yang sedang tak baik-baik saja, membuat seorang pelayan mendekatinya.
"Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu, Tuan?" tawar sang pelayan.
Lean hanya memberikan kode untuk menyuruh pelayan itu pergi menjauhinya. Dia tak mau ada yang melihat kesedihannya saat ini. Seusai menenangkan diri, Kean bangun dari tempat duduknya.
"Makanan yang sudah saya pesan, kalian makan saja." ujar Lean, lalu pergi dari restoran itu.
"Tapi, Tuan___" seorang pelayanan ada yang ingin mendekati Lean. Namun, Lean segera memberikan lambaian tangan agar mereka jangan mendekatinya. Lagi pula Lean sudah membayar semuanya di awal.
Pada akhirnya usaha Lean berakhir sia-sia. Kisah cinta yang dia impikan hanya tinggal kenangan. Selama ini karir dan kehidupannya berjalan dengan lancar, tapi soal asmara Lean selalu gagal. Wajah tampan, karir bagus tak dapat menjamin bahwa kehidupan percintaannya akan bagus juga.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya