My Best Partner

My Best Partner
Partner Terbaik~ Bab 103


__ADS_3

Melihat Nala yang tersedak, membuat Aldert segera memberikan segelas air minum. Nala pun mengambilnya, dan meneguk minuman itu.


" Pelan-pelan, tidak. Akan ada yang berebut makanan denganmu!"


" Ha?" Nala bengong ketika mendengar ucapan itu keluar dari Oomnya ini.


Dasar, Oom Al crazy! Padahal, dia yang membuat aku tersedak gara-gara pertanyaan aneh yang tiba-tiba keluar dari mulutnya itu. Kesal Nala dalam hati.


" Lagian, ngapain Oom nanya seperti itu?"


" Hanya pengen nanya saja!" jawabnya singkat dengan ekspresi biasa saja, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


" Oh, berarti aku tidak wajib jawab!" tandas Nala yang kemudian segera bangun dari duduknya untuk mencuci piring bekas makanannya.


Aldert terdiam saat melihat sikap ketus Nala.


Apakah aku salah bicara? Batin Aldert. yang jadi ikut bingung dengan perubahan drastis mood Nala.


Selesai makan, mereka segera pergi ke rumah sakit. Selama di perjalanan, Nala hanya terdiam tanpa kata. Mereka berdua seperti orang asing.


" Nal," panggil Al, namun tidak mendapatkan jawaban dari Nala.


Apakah dia marah? Tapi kenapa? Gumam Aldert yang jadi ikut bingung dengan perubahan drastis sikap Nala.


Sampai mereka sampai di parkiran rumah sakit pun, Nala diam saja dan pergi begitu saja, tanpa menunggu Aldert.


Aldert yang bingung, segera mengejar Nala dan ingin bertanya apakah dia ada salah? Karena tidak enak jika sampai Moe melihat mereka bertengkar.


Aldert mencekal tangan Nala untuk menghentikan langkahnya. Melihat Aldert yang seperti ingin berbicara, membuat Nala segera melepaskan earphone yang ada di telinganya.

__ADS_1


" Ada apa Oom Al?"


" Jadi, kamu sejak tadi memakai earphone?" tanya Aldert untuk memastikan.


Nala mengangguk. Albert tepuk jidat karena dia sudah salah paham. Awalnya dia mengira bahwa Nala marah padanya karena tidak menanggapi panggilannya, tapi ternyata dia sedang memakai earphone.


" Oom!" panggil Nala saat melihat Aldert hanya diam saja.


" Iya."


" Ada apa?" tanya Nala lagi.


Aldert menggeleng, dia tidak jadi menanyakan hal yang ternyata hanya salah paham. Takutnya terkesan terlalu sok dekat. Padahal, mereka baru kenal semingguan.


Karen Aldert hanya menggeleng, membuat Nala melanjutkan langkah ya menuju ruang rawat inap Oma Sekar.


...☘️☘️☘️...


Banyak yang mengatakan bahwa seorang ayah itu akan sangat protektif dan dekat dengan anak perempuannya. Maka dari itu, lahirlah istilah cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya.


Kenapa ayah sangat protektif, posesif dan lain sebagainya pada anak perempuan. Karena seorang anak perempuan adalah tanggung jawab ayah dan saudara laki-lakinya (jika punya) sebelum dia menikah. Setelah menikah, barulah akan berpindah alih kepada suaminya.


" Kenapa aku merasa agak sepi ya Ken, apa karena personil Papa bucin hanya tinggal duo, tidak trio lagi?" ucap Papa Rian ketika mengingat biasanya mereka berkumpul bertiga bersama Aron. Tapi, karena Aron sekarang sudah tinggal di luar Negeri jadi personel Papa bucin tinggal duo saja.


" Sepertinya begitu! " jawab Papa ken singkat.


" Kamu mah gitu, aku sudah bicara panjang kali lebar kali tinggi, kamu jawabnya hanya singkat, padat dan jelas!" ketus Papi Rian.


Papa Ken hanya bisa tertawa sembari geleng-geleng kepala melihat tingkah Papi Rian yang tidak berubah. Masih sama seperti dulu yang suka mengomel jika dia menjawab singkat.

__ADS_1


" Oh, ya? Kira-kira ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba mengajak lunch berdua, padahal kemarin kita baru bertemu."


" Hanya ingin membicarakan soal anak-anak."


" Anak-anak? Tumben, bicara soal anak tidak mengajak induknya!"


" Kamu kira ayam apa!" sungut Pap Ken.


" Bercanda Masbro, woles ... jangan suka marah-marah, nanti cepat tua! "


( kayak syair lagu).


Papa Ken hanya bisa menghembuskan nafas panjang, ketika mendengar Papi Rian semakin banyak bicara seperti Aron. Andai ada dia, makin seru perkumpulan mereka.


" Ri, kalau misalnya ... ada seorang pria mapan yang datang melamar Nala. Apakah kamu akan membiarkan dia menikah muda?"


Khuk...


Papi Rian seketika tersedak saat mendengar perkataan Papa Ken. Memang benar, bahwa Papi Rian pernah punya niatan untuk menjodohkan Nala sama Lean, tapi saat itu mereka tidak membahas umur berapa Papi Rian memperbolehkan Nala untuk menikah. Papa Ken menanyakan hal itu, karena dia juga mempunyai anak perempuan, sehingga dia tahu bagaimana perasaan sayang seorang ayah pada putrinya, menikahkan seorang anak perempuan juga adalah kewajiban ayahnya, dan itu tidaklah mudah.


Pada umumnya orang akan mengira bahwa seorang Ibu yang paling berat melepaskan anaknya untuk menikah, karena dialah yang mengandung, melahirkan, dan mengurusnya sampai dewasa. Tapi, harus kalian ketahui bahwa sebenarnya seorang ayah juga sama beratnya ketika menikahkan putrinya, hanya dia pandai menyimpan perasaannya. Menikahkan putrinya, sama halnya dengan memberikan semua tanggung jawabnya kepada pria yang akan menjadi suami putrinya.


Oleh karena itu, seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya, pasti akan sangat pemilih pada pria yang akan menjadi suami putrinya.


Dalam hati kecilnya selalu bertanya-tanya . Apakah pria itu bisa menjaga, melindungi, mencintai, menyayangi putriku seperti diriku? Akankah dia bisa menggantikan tanggung jawab yang selama ini aku tanggung untuk putriku?


Bisakah dia memperlakukan putriku sama seperti aku yang memperlakukannya seperti seorang putri?


Dan masih banyak lagi...

__ADS_1


...****************...


Jadi rindu sama ayah. Begitulah, sebenarnya cinta ayah juga sama besarnya pada putrinya.


__ADS_2