
" Papa kenapa narik tangan Mami?" tanya Mami Senja sembari mengusap tangannya yang sedikit memerah.
" Ya, masak kita mau berdebat di depan anak sama calon mantu!" jelas Papi Rian.
Mami Senja hanya diam sembari memanyunkan bibirnya karena masih merasa sangat kesal. Mami Senja marah karena dia tahu betul maksud dari suaminya itu bukan hanya sekedar lamaran biasa, melainkan akan ada akad secara agama sekalian.
" Mami kenapa tidak setuju?" tanya Papi Rian dengan nada lembut agar mereka tidak bertengkar.
" Karena Mami tahu, kalau lamaran itu bukan hanya sekedar lamaran biasa!" ketus Mami Senja.
Papi Rian tersenyum, ternyata istrinya itu cukup peka dan bisa membaca pikirannya. Sebelumnya, Papi Rian dan Papa Ken memang sempat membahas soal menikahkan mereka secara agama terlebih dahulu sembari menunggu Papi Rian melakukan dispensasi menikah pada pengadilan untuk Nala.
Tujuan dari menikahkan mereka secara agama terlebih dahulu karena ingin mengurangi atau mencegah sesuatu yang tidak di inginkan.
" Mi, sekarang Papi tanya. Waktu dulu kita mau menikah, Mami fokus apa nggak dengan kuliah?"
Mami Senja menggeleng, waktu itu dia memang sudah tidak terlalu fokus lagi, karena pikirannya sudah terbelah memikirkan tentang pernikahan.
" Lalu setelah menikah?"
" Ada perasaan lega. "
Kini, Papi Rian memegang kedua pundak Mami Senja, lalu memutar tubuhnya untuk melihat ke arah di mana Lean dan Nala berada.
" Coba perhatikan, apakah Mami bisa melihat seperti apa tatapan putri kita pada Lean?"
Mami Senja mengikuti perkataan Papi Rian untuk melihat tatapan Nala ke Lean.
" Bukankah putri kita sangat bahagia? Dan tatapannya sama seperti kamu 18 tahun yang lalu. "
" Sekarang Mami sudah paham, kan? Papi hanya ingin Mami tahu bahwa setiap keputusan yang Papi ambil, pasti sudah di pikirkan secara matang."
Mami Senja masih terdiam, mencoba menelaah dengan baik ucapan dari sang suami. Sedangkan Papi Rian, kembali menemui Nala dan Lean.
__ADS_1
" Papi tidak akan memaksa Mami untuk setuju. Pikirkanlah saja dulu dampak sebab dan akibat dari keputusan Papi apa? Banyak buruknya, atau baiknya."
Papi Rian pernah muda sehingga dia paham betul bagaimana perasaan sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta dan ingin menikah. Meskipun tidak bisa di samakan dengan dirinya dulu, Papi Rian hanya mengikuti saran dari sahabatnya yang memang benar jika di pikirkan kembali.
...☘️☘️...
Di malam hari, Mami Senja belum juga bisa tidur. Dia beranjak bangun lalu berjalan menuju ke dapur, dan kebetulan bertemu Nala yang juga masih belum tidur.
" Kok belum tidur, Nal?" tanya Mami Senja saat melihat putrinya sedang berada di dapur.
" Oh, kebangun Mi. Tadi udah sempat ketiduran, tapi kebagun lagi gara-gara lapar," jawab Nala polos.
" Lapar?" tanya Mami Senja sedikit heran, lalu melihat jam di dinding menunjukkan pukul 1 dini hari.
Nala hanya nyengir kuda karena malu. Begitulah Nala, sejak pulang ke Indonesia dia tiba-tiba sering merasa lapar di waktu tengah malam seperti ini. Mungkin masih terbawa dengan kebiasaan waktu di Belanda yang makan tengah malam biar nggak ngantuk mengikuti pelajaran.
" Terus kamu mau makan apa? Mau Mami masakin?" tawar Mami Senja.
" Nggak perlu Mi, Nala makan buah saja cukup!" Jawab Nala yang sudah memakan membawa pisang, anggur, dan lain sebagainya di sebuah wadah.
Nala mengangguk.
" Mami sendiri, kenapa belum tidur?" kini Nala yang kembali bertanya.
" Nggak bisa tidur, oh ya ... Apakah Mami bisa bicara dengan kamu?"
Nala mengangguk, lalu mereka berdua duduk di sofa agar lebih enak bicaranya. Sambil mendengarkan Maminya ingin berbicara apa, Nala masih asyik terus mengunyah buah-buahan.
" Nal, apakah kamu mencintai Lean? "
" Tentu saja, "jawab Nala yakin, tidak seperti sebelumnya yang hanya terdiam saat di tanya tentang hal itu.
" Secinta apa? "
__ADS_1
" Em ... Memangnya kenapa, Mi? " bukannya menjawab, Nala justru bertanya karena dia sedikit bingung kenapa Maminya tiba-tiba menanyakan hal ini.
" Hanya ingin tahu."
" Oh, secinta ... Nala rela melepaskan impian untuk kuliah di Belanda. "
" Sebesar itu? " Mami Senja memastikan lagi.
Nala mengangguk, membuat Mami Senja cukup terkejut karena dia tahu sebasar apa impian itu. Sebelumnya, Nala memang belum mengatakan pada siapapun soal hal ini.
" Apakah kamu tidak menyayangkannya, Nal? "
Nala menggeleng karena dia sudah tidak terlalu memimpikan hal itu.
" Jika tiba-tiba Papi menikahkan kalian secara agama, apakah kamu akan setuju?"
Nala tersenyum.
" Apakah Papi punya rencana untuk menikahkan Nala , Mi? " kini Nala justru kembali bertanya.
"Em, Mami hanya berandai saja. Apakah kamu sudah tidak takut lagi untuk menikah muda?"
Nala menggeleng.
Aku lebih takut kehilangan kak Lean, daripada menikah muda. Batin Nala.
...****************...
Cie Nala...
Orang lagi kasmaran mah, emang beda ya... 😁
Ayo siapkan pakaian dan hadiah yang mau ikut ke lamaran Nala dan Lean.
__ADS_1
Maaf baru update karena wifi di rumah eror, dan baru ngisi paketan juga.