My Best Partner

My Best Partner
Partner Terbaik ~ Bab 110


__ADS_3

Di sebuah ruangan bernuansa putih, terlihat seorang pria tampan mulai mengerjapkan matanya. Perlahan, sepasang mata dengan bola mata abu itu mulai terbuka. Sayup-sayup, terlihat gadis cantik tengah berdiri menghadap ke arah jendela.


Apakah aku sedang bermimpi? Batinnya saat melihat siapa sosok wanita itu.


Ketika melihat Lean sudah sadar, Nala segera menyelesaikan panggilannya bersama Mami Senja, lalu berjalan menghampiri Lean.


" Kakak sudah sadar? Mau minum?" tawar Nala yang tak mendapat respon apapun dari Lean. Karena dia masih belum percaya bahwa wanita yang ada di hadapannya saat ini benar-benar Nala. Semalam saat bertemu Nala, Lean sedang dalam keadaan setengah sadar sehingga dia mengira bahwa itu hanya mimpi.


" Jadi, ini beneran nyata? kamu sudah pulang?" tanya Lean.


Nala tersenyum. " Tentu saja aku nyata, masa halu," goda Nala yang membuat Lean tersenyum.


Lean berusaha untuk bangun dari tidurnya, namun kepalanya terasa sangat berat dan pusing sehingga membuat Nala membantunya.


" Apakah sudah nyaman?" tanya Nala yang di jawab anggukan kepala oleh Lean.


" Mau minum? Makan? Atau___"


" Minum saja dulu," jawab Lean cukup lirih karena tubuhnya masih sangat lemas.


Nala segera mengambilkan air minum untuk Lean. Air putih menyegarkan bagi tenggorokan yang kering.


" Makasih," ucap Lean dan di jawab senyuman oleh Nala.


" Kapan kamu kembali? " tanya Lean.


" Semalam," jawab Nala seraya mendudukkan bokongnya di sisi ranjang agar posisi mereka seimbang.


" Kenapa nggak bilang kalau pulang, kan bisa kakak jemput di bandara, " lanjut Lean.


" Kalau bilang, namanya bukan surprise dong. Oh, ya. Kakak sarapan dulu ya, buat isi tenaga." Nala segera mengambilkan makanan dari rumah sakit, dan menyuapinya untuk Lean.


Lean benar-benar tidak habis pikir bahwa dia akan jatuh sakit dan akan di rawat oleh Nala.


" Kakak kenapa natap aku seperti itu? Apakah ada yang salah di wajahku? "tanya Nala saat melihat Lean menatapnya nanar.


Lean menggeleng, karena memang tidak ada yang salah pada wajah Nala. Hanya saja, dia sangat merindukan gadis itu, namun tak mungkin dia memeluknya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari seorang perawat yang ingin memberikan obat. Saat melihat siapa perawat itu, Lean cukup terkejut.

__ADS_1


" Dokter Lean, baru selesai sarapan?" tanya Rena berusaha profesional. Tapi, masih mencoba memperhatikan penampilan Nala sekilas dari atas sampai bawah.


" Oh, Iya. Soalnya Kak Lean baru bangun," jawab Nala.


" Kalau begitu, saya suntikkan obat dulu ya," ucap Rena sembari menyuntikkan obat ke infus Lean.


Sebelum Rena keluar sudah ada yang mengetuk pintu lagi, membuat Nala segera membukakan pintu.


" Nala ..., " seru Anne yang langsung menghambur memeluk Nala karena dia sangat merindukan sahabatnya itu.


Suasana ruangan menjadi sangat ramai saat Mama Dira, Papa Ken, dan Anne datang.


Anne yang gemas, langsung mencubit pipi Nala seperti biasanya.


" Anne ... Cukup!" seru Nala yang kesal pipinya terus di cubit. Sedangkan Lean hanya tersenyum melihat interaksi adiknya dengan Nala. Dia juga ingin melakukan itu, tapi belum bisa.


" Anne, sudah ... kasihan Nalanya," lerai Mama Dira.


" Habisnya aku kangen banget, setengah bulan lebih nggak ketemu sama ini anak," ucap Anne yang masih gemas.


Rena yang sudah selesai menyuntikkan obat segera undur diri, namun dia tidak benar-benar pergi. Karena masih mencoba menguping dari bilik pintu, dia sangat penasaran apakah gadis itu benar wanita yang di cintai Lean?


" Kenapa semuanya bisa datang?" tanya Lean.


" Bukan tak boleh, Pa. Tapi, sepertinya kita sedang mengganggu orang yang sedang mengobati rasa rindu," cetus Anne yang segera mendapat cubitan kecil dari Nala.


" Apaan sih, Anne? Maksud Lean bukan itu, hanya__"


" Sudah, sudah ... Kamu mau bilang, kenapa kita bisa tahu kalau kamu sakit, kan?" Lean mengangguk, Mamanya ini benar-benar tahu apa yang sedang ia pikirkan.


" Tentu saja tahu, karena tadi pagi Nala menelpon Anne mengatakan bahwa kamu sakit. Makanya kita semua datang ke sini buat melihat bagaimana kondisi kamu, sekalian mengantar makanan penuh gizi biar kamu cepat sembuh," jelas Mama Dira.


" Sama gantiin Nala, dia pasti sangat kecapekan baru sampai Indonesia, sudah harus jagain kamu," timpal Papa Ken.


Ternyata benar, bahwa gadis itu wanita yang di cintai oleh Dokter Leanne! Pantas saja aku kalah, orang dia jauh lebih cantik, sepertinya juga anak orang kaya jika di lihat dari penampilannya, dan sudah dekat dengan keluarganya Dokter Lean. Sedangkan aku apa? Upik, abu!


Gitu aja, dulu bilangnya tidak memandang orang dari status sosial, ternyata ...


BULSHIT!!!

__ADS_1


Rena yang sudah tak sanggup lagi mendengarkan percakapan mereka, segera pergi.


...☘️☘️☘️...


Di tempat lain terlihat pasangan paruh baya tengah duduk santai sambil menikmati acara televisi yang mereka tonton.


" Pi, Mi, katanya Nala mau pulang? Kok belum sampai rumah?" tanya Nathan yang baru turun dari kamarnya.


Jika hari libur seperti ini, Nathan akan keluar dari kamarnya saat hari sudah siang. Karena semalam pasti habis begadang main game. Jadi, bangun paginya kesiangan.


" Masih di rumah sakit" jawab Papi Rian.


" Di rumah sakit? Memangnya Nala sakit? Terus kenapa Papi sama Mami hanya di sini saja?" tanya Nathan yang masih bingung.


" Bukan Nala yang sakit, tapi calon mantu Papa," pungkas Papa Rian yang masih asyik menonton.


" Calon mantu?" Nathan yang belum tahu apa-apa tentang Lean jadi bingung sendiri. Karena memang belum ada yang memberitahukan padanya.


Lean memang sudah datang menemui Mami Senja dan Papi Rian untuk meminta izin bahwa dia ingin serius dengan Nala. Tapi, dia masih ingin hal itu menjadi rahasia mereka bertiga sampai Lean sudah resmi melamar Nala.


" Memangnya Nala sudah mau menikah, Pi? Sama siapa?" tanya Nathan yang semakin penasaran.


" Sudah, kamu belum sarapan, kan? Makan dulu sana... Kalau sudah waktunya pulang, adikmu juga akan sampai orang dia di jemput supir. Jadi, aman!" tukas Mama Senja yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


Nathan yang memang sudah sangat lapar segera pergi menuju meja makan. Selepas Nathan pergi, Mami Senja memukul paha papi Rian.


" Ada apa sih, Mi? " gerutu Papi Rian yang tiba-tiba mendapatkan pukulan dari sang istri.


" Ada apa, hem? Papi sadar, nggak sih kalau sudah keceplosan sama Nathan?" ujar Mami Senja dengan wajah kesalnya.


" Ya, gapapa. Lagipula Nathan juga___" ucapan Papi Rian seketika berhenti saat menyadari bahwa Nathan pasti akan bertanya pada Nala. Dan ujung-ujungnya, Nala pasti akan bertanya pada mereka berdua tentang maksud dari perkataan itu.


" Juga apa?" tanya Mami Senja dengan tangan yang sudah menyilang di depan dada.


Papi Rian hanya bisa nyengir kuda karena dia sudah salah keceplosan.


"Cepat atasi sana!" titah Mami Senja dan segera di ikuti oleh Papi Rian. Gara-gara terlalu fokus menonton televisi sampai membuat Papi Rian lupa dengan kesepakatannya dengan Lean.


...****************...

__ADS_1


Makasih buat doa dari kalian semua ya...


Jaga kesehatan semua di musim pancaroba seperti ini.


__ADS_2