My Best Partner

My Best Partner
Bab 39


__ADS_3

" Apa Ibu ingin kita segera menikah?" tanya Kean mencoba memastikan kembali.


Nada kembali mengedipkan matanya. Menandakan bahwa apa yang di ucapkan Kean benar.


" Iya, Ibu ingin kalian menikah sekarang juga." Nada meminta itu karena dia merasa kalau usianya sudah tak lama lagi.


" Sekarang?" seru Kean dan Dinda bersamaan.


Mereka berdua sedikit terkejut saat mendengar Nada ingin melihat mereka menikah sekarang juga. Bukannya tidak mau, tapi masih banyak yang harus mereka urus sebelum melangsungkan pernikahan. Bahkan mereka baru resmi tunangan pagi ini, tiba-tiba langsung di minta menikah mendadak ya tentu saja kaget.


" Apa kalian belum siap?" tanya Nada saat melihat Dinda dan Kean seperti terkejut.


" Kalau Kean siap-siap saja, Bu. Tapi Dinda___" Kean menatap ke arah Dinda meminta pendapat darinya.


Dinda menggenggam erat tangan Ibunya, lalu mengecupnya lembut.


" Dinda akan turuti jika itu memang keinginan Ibu," pungkas Dinda.


Nada tersenyum, akhirnya keinginannya bisa terwujud. Di karenakan Nada meminta mereka untuk menikah sekarang juga, terpaksa mereka hanya bisa melakukan pernikahan secara agama terlebih dahulu. Kean langsung menyuruh anak buahnya untuk mencari ayah Dinda dan membawanya ke rumah sakit secepatnya. Lalu, Kean juga menghubungi Ken dan juga Dira untuk datang ke rumah sakit.


" Halo Assalamualaikum Pa, Papa sibuk apa tidak?" tanya Kean kepada seseorang di ujung telepon.


" Waalaikumsalam, ada apa, Kak?"


" Ibu Dinda sekarang sudah kritis, dan beliau ingin Kean dan Dinda menikah sekarang juga."


" Apa?!" bentak Ken. Dia sangat terkejut sampai membuat orang-orang di dekatnya menoleh ke arah Ken.


Saat ini, Ken sedang meeting bersama klien di luar. Melihat Kean menelfon tanpa henti, membuat dia izin pamit untuk mengangkat telepon terlebih dahulu.


" Kamu serius, Kak? Memangnya Dinda sudah menerima lamaran kamu?"


"Sudah, tadi pagi sebelum tahu kalau ibunya kritis."


"Jadi, Dinda sudah menerima lamaran kamu sebelum dia tahu kalau ibunya kritis?" Ken mencoba untuk memastikan kembali. Karena yang Ken tahu kalau Dinda tidak tahu sama sekali bahwa ibunya sedang sakit.


"Iya. Jadi, bisakah Papa dan Mama datang ke sini secepatnya? Sekaligus bawa penghulu, dan saksi. Kean butuh itu semua."


"Jadi, kalian__"


" Iya, kita nikah secara agama dulu, nanti baru daftar ke Kantor Urusan Agama ( KUA). Karena entah kenapa Kean mempunyai firasat tidak enak ketika mendengar permintaan bu Nada. Tapi, semoga itu tidak terjadi."


Kean memang melihat aura wajah bu Nada sudah terlihat berbeda. Apalagi saat mendengar permintaan bu Nada saat meminta mereka menikah sekarang, membuat perasaan Kean semakin tidak enak.


" Baiklah, Papa akan siapkan semua secepatnya. Jadi, kalian menikah di rumah sakit?"


" Ya mau bagaimana lagi, Pa."


" Ya sudah tidak apa-apa, nanti bisa di atur lagi."

__ADS_1


" Terimakasih, Pa."


Setelah terdengar ucapan salam dari Kean dan Ken, panggilan telepon pun di matikan. Entah kenapa, Kean merasa.sangat gugup sekaligus khawatir. Semoga perasaannya ini tidaklah benar. Kean berharap bahwa Dinda masih bisa mewujudkan keinginannya untuk membahagiakan bu Nada dan menemukan adiknya terlebih dulu. Namun, namanya maut, jodoh, dan rezeki tidak ada yang tahu. Semua itu rahasia dan ketentuan dari Allah.


Setidaknya mereka sudah ikhtiar dan berusaha, selebihnya serahkan semuanya kepada Allah. Selesai menelpon Ken, dan juga Dira. Giliran Kean menemui Lean untuk mengatakan kabar ini kepada adik kembarnya itu.


Untungnya Lean sedang tidak ada jadwal operasi. Jadi, Kean dengan mudah menemukan keberadaannya.


"Le," panggil Kean saat melihat Lean sedang berbincang dengan rekan kerjanya.


"Ada apa, Kak?" tanya Lean yang sudah menghampiri Kean.


Melihat saudara kembar itu sedang bersama, membuat para suster wanita terpesona melihatnya.


"Sumpah, saudara kembar ini kenapa terlihat sangat tampan sekali?"


"Iya bener, mereka berdua memang produk unggulan. Orang tuanya dulu gimana ya buatnya, bisa mempunyai anak kembar yang super duper tampan dan genius semua kayak gitu!" timpal perawat lainnya.


"Aku pengen bicara sesuatu, tapi nggak di sini. Bisa, nggak?"


"Em, aku lagi mau keliling periksa pasien, tapi kalau Kakak mau bicara sesuatu yang penting. Bicara di sini atau tunggu nanti setelah aku selesai keliling,"


Karena dia butuh bicara sekarang, Kean mendekatkan dirinya dan berbisik kepada Lean untuk meminta restu kalau sebentar lagi dia akan melaksanakan ijab qabul.


Bola mata Lean membulat dengan sempurna, dia benar-benar terkejut saat mendengar bisikan Kean.


"Serius, buat apa aku bohong! Jadi, bisakah kamu menjadi saksi sekaligus pendampingku? Meskipun ini hanya ijab qabul dadakan, aku ingin kamu menemaniku."


"Tentu saja aku harus ada di sana! Jam berapa?"


Kean menggeleng. Dia juga belum tahu pasti, kapan waktunya akad ini dilaksanakan. Karena saat ini, anak buah Kean masih mencari di mana keberadaan ayah Dinda. Tanpa restu Ayah Dinda, pernikahan mereka tidak.akan sah karena dia masih hidup. Jadi, bagaimana pun caranya, Kean harus bisa menemukan keberadaan ayah Dinda secepatnya.


Tiba-tiba ponsel Kean berdering, ternyata anak buahnya.


"Halo bos," panggil seseorang dari ujung telepon.


"Ada apa?"


"Kita sudah menemukan orang yang anda suruh cari, Bos!"


"Kalian yakin? Coba lihat."


Setelah itu, panggilan telepon berganti dengan panggilan vidio. Ternyata apa yang di katakan anak buahnya benar, mereka sudah menemukan bambang dalam keadaan mabuk berat. Kean hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah calon mertuanya itu.


" Apakah di sana ada anak remaja berumur sekitar 15 tahun?"


"Tidak ada bos."


"Kalau begitu, cepat bawa dia ke rumah sakit Internasional xx."

__ADS_1


"Baik boss."


Sesudah itu, panggilan telepon di matikan.


"Gimana, Kak?" tanya Lean yang ikut penasaran.


"Ayahnya sudah ketemu, tapi adiknya belum."


Lean tersenyum. "Sepertinya Allah sedikit memperlancar urusanmu, Kak!" ujar Lean.


Selepas itu, Lean pamit untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Nanti jika acara sudah ingin di langsungkan, Lean akan segera datang ke ruangan Nada.


***


Di tempat lain, terlihat Mama Dira sedang terburu-buru untuk pergi ke rumah sakit setelah mendengar kabar kalau Kean akan menikah sekarang juga. Dia juga menelpon butik langganannya untuk menyiapkan dress panjang putih, serta perlengkapan lainnya yang nanti akan di pakai oleh Dinda. Meskipun hanya nikah secara agama dulu, Dira ingin mendandani Dinda sedikit.


Dia benar-benar terkejut sekaligus bahagia, akhirnya cinta putranya itu tidak bertepuk sebelah tangan. Dira berharap semoga ini adalah jalan dan pilihan terbaik bagi mereka berdua.


2 jam telah berlalu, semuanya sudah berkumpul di rumah sakit. Hanya Anne yang tidak ada di sana karena dia masih sekolah dan tidak tahu tentang masalah Kean.


Saat ini, Dinda sedang di make up di ruangan sebelah kamar Nada yang kebetulan kosong. Ken memang sengaja menyewa ruangan itu, sebagai tempat pemisah antara Kean dan Dinda sebelum sah.


Bambang yang sedang mabuk berat, langsung di guyur dengan air agar sadar. Awalnya, Bambang sempat meminta mahar yang banyak jika Kean ingin menikahi Dinda. Namun, tatapan tajam dari Nada membuatnya bungkam.


Nada membawa Bambang ke sini hanya untuk menyerahkan perwaliannya kepada wali hakim saja, bukan meminta mahar atau yang lainnya. Bukan hanya itu saja, Nada juga ingin Bambang mendapatkan ganjaran yang setimpal karena sudah menelantarkan dan menjual anaknya sendiri.


"Tapi, Dinda itu anakku. Jadi wajar saja kalau akau meminta mahar yang besar kepada calon suaminya," tukas Bambang.


Nada mencoba mengumpulkan semua energinya. "Kamu memang ayahnya, tapi kamu tidak berhak meminta hal itu karena kamu tidak pernah menjalankan kewajiban mu sebagai seorang Ayah,"telak Nada.


Seusai berbicara seperti itu, tubuhnya semakin lemah, dadanya juga terasa sesak. Dia benar-benar tidak menyangka, kenapa dulu bisa sangat mencintai pria seperti itu.


Melihat Nada yang mulai emosi, Lean mencoba melerai. Dia tidak mau melihat kondisi Ibu Dinda semakin drop.


Ingin rasanya Bambang melawan, tapi melihat banyak sekali penjaga di ruangan itu, membuat Bambang terpaksa menuruti permintaan Nada karena dia juga sudah tidak bisa melepaskan diri lagi.


Jika Lean berada di dalam ruangan untuk memantau kondisi Nada, berbeda dengan Kean yang masih berada di luar ruangan.


"Apakah kamu gugup Kean?" tanya Ken saat memperhatikan wajah Kean yang terlihat begitu tegang.


Kean mengangguk. Jujur, kali ini dia memang merasa sangat gugup sekali. Mengingat sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi seorang suami yang memiliki tanggung jawab besar terhadap istrinya.


Kean terus mengatur nafasnya dengan mengucapkan kalimat sholawat agar rasa gugup itu memudar.


"Apakah semuanya sudah siap?" tanya sang penghulu.


...****************...


Jangan lupa like, komen vote dan hadiahnya ya... Wah dah panjang banget part ini. Semoga suka...

__ADS_1


__ADS_2