
Mendengar cerita dari Kean, seakan Dinda pernah mengalami kejadian itu, tapi kapan dan di mana?
" Abang, boleh lihat gelangnya lagi?" tanya Dinda untuk memastikan.
" Untuk apa, Nda?" Bukannya memberikan, Kean justru bertanya balik. Dinda terus memaksa jadi Kean memberikannya.
Dinda mengamati betul-betul gelang yang sangat mirip dengan miliknya dulu. Dinda memicingkan matanya, lalu menatap wajah Kean lekat.
Apa jangan-jangan gadis itu aku?
Tiba-tiba Dinda mengambil ponselnya lalu mencari foto dia waktu masih kelas satu SMA di google dokumen, dan untungnya ketemu.
" Apakah dia gadis itu?" tanya Dinda seraya memperlihatkan foto lamanya. Dinda yang dulu, dan sekarang memang jauh berbeda.
Kean memicingkan matanya, dan mencoba mengingat-ingat lagi. Meskipun kejadian itu sudah lama, Kean selalu menjadikan pengingat bahwa dia pernah hampir meninggal dan di tolong seorang gadis kecil.
" Kamu kok bisa tahu?" tanya Kean penasaran. Meskipun waktu itu dia setengah sadar, tapi Kean sempat mencoba memperhatikan wajah gadis itu sebentar sebagai pengingat.
Dinda menghembuskan nafas panjang, setelah mengetahui bahwa Kean adalah kakak tampan yang pernah dia tolong.
" Itu aku!" pungkas Dinda.
Kean terkejut, dan mencoba melihat foto itu kembali, lalu melihat Dinda.
" Meskipun abang lihat 100 kalipun emang jauh berbeda! Itu aku dulu saat masih memakai behel dan dekil!" lirih Dinda yang sedikit malu memperlihatkan wajah ketika masih remaja.
Dulu, keluarganya pernah merasakan punya kehidupan yang layak sebentar. Gigi Dinda yang tak rata, langsung di bawa ke dokter untuk di rapikan. Karena memiliki ayah yang gila harta, membuat dia mudah tertipu hanya dengan di iming-imingi penggandaan uang dengan cepat. Setelah itu, keluarga Dinda kembali menjadi gelandangan.
Rumah yang layak di jual, uang pun habis demi menutupi kebutuhan sehari-hari. Melihat Dinda yang dulu memang cukup berubah, jadi pantas saja jika Kean tak mengenalinya.
Kean tiba-tiba memeluk Dinda, dia benar-benar bersyukur ternyata gadis kecil itu sudah ada di sisinya. Ternyata Tuhan memang selalu mengabulkan doa hambanya dengan cara yang tak disangka-sangka.
" Bagaimana kabarmu gadis kecil? Selama ini aku selalu mencarimu, tapi tak kunjung bertemu!"
"Terimakasih atas pertolonganmu dulu. Jika waktu itu kamu tidak menolongku, entah apa yang sudah terjadi padaku."
Apa yang selalu ingin Kean ucapkan pada gadis kecil itu, kini sudah terwujud. Dinda hanya tersenyum mendengar Kean yang mengucapkan terima kasih seperti ini.
" Jika gadis kecil itu bukan aku? Apakah abang akan memeluknya dengan erat seperti ini? "
Kean melepaskan pelukannya, lalu menarik hidung Dinda.
__ADS_1
" Tentu saja tidak! Kenapa? Apakah kamu akan cemburu?"
" Tentu saja cemburu!" ketus Dinda yang membuat Kean tersenyum, lalu memeluknya lagi.
...☘️☘️☘️...
Malam yang penuh cerita telah pergi. Sang pangeran tampan, telah menemukan gadis penolongnya yang baik hati. Selama mencari 5 tahun, pada akhirnya dia di pertemukan juga dengan gadis itu. Bukan hanya di pertemukan, bahkan di satukan menjadi sepasang suami istri yang penuh cinta dan kasih sayang.
Selesai joging dan sarapan bersama, Lean tiba-tiba mengajak Anne untuk pergi jalan-jalan lagi.
" Ha? Kakak serius ngajak aku jalan-jalan? Kemana?" tanya Anne antusias karena jarang-jarang kakaknya seperti ini karena terlalu sibuk.
" Kamu mau nggak?"
"Tentu saja mau, tapi___ apakah kakak sedang kesambet atau___?" tanya Anne curiga.
" Iya kesambet adik cantik!" cetus Lean.
" Ciyee ..." seru Anne seraya mengendus - endus di dekat Lean.
" Sepertinya aku mencium aroma orang yang sedang jatuh cinta! Tenang, aku akan mengajaknya kok, tanpa kakak suruh pun aku sudah menyadarinya!" cetus Anne dengan senyuman penuh arti.
" Bagus kalau sudah paham!" Lean berjalan pergi masuk ke dalam kamarnya.
Akhirnya mereka bisa jalan rame-rame seperti ini, tanpa orang tua. Biasanya dulu, mereka akan liburan bersama tiga keluarga Papa bucin, sekarang hanya minus sabrina, tapi di gantikan oleh Dinda.
Selesai siap-siap, Lean sedikit terkejut saat melihat pasangan pengantin baru juga ikut.
"Kakak mau kemana?" tanya Lean yang sedikit bingung melihat Kean sudah rapi dengan menggunakan baju pasangan.
" Loh, bukannya liburan bareng sama kamu, Anne, Nala, dan Nathan ke dufan ancol?" Kean jadi ikut bingung ketika melihat Lean justru kembali bertanya.
" Halo kakak ... Kakak ... Apa kalian sudah siap?" seru Anne yang baru saja turun ke lantai satu.
Ketiga kakaknya hanya mengangguk, karena mereka sudah siap lebih dulu. Setelah itu, mereka pergi bersama menggunakan mobil Kean. Sedangkan Nathan dan Nala berangkat sendiri, mereka akan bertemu di pintu masuk.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih, akhirnya mereka sampai juga. Sesampainya di sana, Nala dan Nathan sudah lebih dulu datang karena jarak rumah mereka lebih dekat.
Anne, dan Nala saling bergandengan tangan. Awalnya Anne juga ingin bergandengan tangan dengan Dinda agar mereka lebih dekat, tapi Kean yang sangat posesif tidak memperbolehkannya.
Mereka seperti triple date, tapi hanya Kean dan Dinda saja pasangan yang bisa gandengan tangan. Karena yang lainnya bukan muhrim.
__ADS_1
Pokoknya hari ini, Anne ingin main sepuasnya karena momen seperti ini bisa di anggap langka. Andai Lean sudah menentukan terlebih dahulu, pasti mereka tidak akan pergi ke sini. Untungnya kakaknya itu mudah lupa mengatakan tempat ke mana mereka pergi sehingga Anne bisa menentukannya.
Karena ini adalah weekend, banyak sekali pengunjung yang datang. Lean benar-benar menjaga kedua gadis kecilnya dari para pria yang menghimpit ataupun datang ingin mengajak kenalan.
" Kak Nathan mana?" tanya Nala yang sudah tak melihat kakaknya.
" Sibuk godain cewek!" sahut Lean dengan santainya.
" Oh, ya? Sejak kapan kak Nathan menjadi seperti itu?" tanya Nala yang belum percaya jika Nathan menjadi pria yang suka godain wanita.
Melihat Nala yang tak percaya, Lean segera memperlihatkan kepadanya seorang pria yang memang tengah asyik bercengkerama dengan beberapa pria. Bola mata Nala membulat sempurna, dia mengucek matanya, lalu mencoba memastikan kembali, takutnya salah, tapi ternyata benar. Pria itu adalah Nathan saudara kembarnya.
Nala ingin menghampiri Nathan, namun Lean menghalanginya.
" Biarin saja, kalian mau ke mana lagi biar kakak temani!" ujar Lean.
" Kak, pengen es crem...," pinta Anne seraya menunjuk penjual es cream.
" Yasudah, kalian tunggu sini dulu, jangan ke mana-mana, biar kakak yang beli es creamnya," ujar Lean yang seketika membuat Anne tersenyum bahagia.
Karena cuacanya lumayan panas, pembeli di penjual es cream cukup ramai sampai harus mengantri terlebih dahulu. Di saat Lean sedang mengantri, banyak para wanita yang menatap ke arahnya. Bahkan, ada beberapa yang meminta foto karena mengira bahwa Lean adalah turis.
Nala yang terus menatap Lean dari kejauhan merasa sedikit kesal, melihat banyak wanita yang mengerubungi Lean.
" Kamu kenapa, Nal?" tanya Anne ketika melihat sahabatnya itu hanya diam saja seraya menatap ke penjual es cream tanpa berkedip sedikitpun.
" Gapapa kok!" dusta Nala. Padahal tangannya sudah memilin ujung bajunya menahan rasa kesal. Entah kenapa dia merasa sangat kesal ketika melihat Lean di dekati banyak wanita, bahkan dia welcome saja saat ada yang mengajak foto bersama.
" Nal, kamu bau gosong nggak?" goda Anne.
" Bau gosong apa sih, Anne?" Nala jadi ikutan mencari aroma gosong yang di maksud Anne, tapi dia tak mencium aroma gosong.
"Oh, ternyata ada hati yang terbakar, mangkanya bau gosong!" ledek Anne menahan senyumnya. Sedangkan Nala mengerutkan keningnya karena tak paham maksud Anne.
" Kalau cemburu, samperin aja! Jangan hanya jadi penonton," tukas Anne ketika melihat sahabatnya ini masih tak paham juga.
" Si-apa yang cemburu! "elak Nala.
" Sudah sana, samperin .... " Anne mendorong pelan tubuh Nala agar pergi menghampiri Lean.
" Sudah, sana ... Nanti keburu di tikung betina lain, loh! "
__ADS_1
...****************...
Hei... Hei... Ternyata tebakan kalian semua benar ya😁