
Sesampainya di meja makan, Lean sedikit terkejut saat melihat ada roti
Oudewijvenkoek yang sering di sajikan untuk menu sarapan orang belanda.
" Ma, ini Mama yang buat?" tanya Lean penasaran.
"Oh, bukan. Itu dari Om Rian dan Tante Senja," jawab Mama Dira.
" Apa mereka sudah pulang?"
" Sudah, kemarin mereka datang ke sini."
Lean segera menatap ke Anne dengan tatapan kesal. Bagaimana bisa dia ingin mengerjai kakaknya di saat Nala ternyata sudah pulang ke Indonesia.
Tanpa berpikir panjang, Lean segera pamit untuk segera berangkat ke rumah sakit. Melihat kakaknya yang terburu-buru pergi selepas mengetahui bahwa Om Rian sudah pulang, membuat Anne mengerti bahwa Kakaknya sedang berbohong.
" Percuma kakak ke sana, karena Nala tidak ikut pulang ke Indonesia!" pungkas Anne yang seketika membuat langkah Lean terhenti.
Lean membalikkan tubuhnya, menatap ke arah Anne.
" Maksud kamu apa Anne?" tanya Lean untuk memastikan. Rasa penasaran tentang Nala jauh lebih besar sampai membuat dia tidak sadar jika kedua orangtuanya menatap bingung.
" Bukankah ucapan ku tadi sudah jelas," jawab Anne santai sembari terus memakan roti.
" Ini sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba membahas Nala?" Tanya Papa Ken yang sudah sangat penasaran.
Lean hanya bisa menepuk jidat dan merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa melihat situasi dan kondisi di mana ia berada. Karena terlalu rindu sampai membuat seorang Leanne oleng.
(Rindu itu ternyata ... Nano, nano ya ... Le 😁🤭)
__ADS_1
Anne hanya mengangkat bahunya, menandakan bahwa dia tidak mau menjawab, dan terus melanjutkan makannya.
Sedangkan Kean jadi mati kutu, akankah dia berbicara dengan keluarganya sekarang? Padahal, rencananya Lean mau membuat surprise setelah di terima oleh Nala, bukan justru seperti ini. Jadi ketahuan kan kalau dia suka sama adik yang sudah bermain dengannya sejak kecil.
" Le, kenapa hanya diam saja? Jawab dong pertanyaan Papa, ada hubungan apa kamu sama Nala?" tanya Papa ken lagi yang sudah sangat penasaran.
" Em___ itu ___" Lean jadi bingung sekaligus gugup mau bilang.
Melihat Papanya yang sudah sangat penasaran, dan Kakaknya yang justru jadi manusia gagap, membuat Anne terpaksa bicara.
" Baiklah ... biar Anne___" dengan cepat, Lean segera membungkam mulut Anne agar tidak berbicara.
" Lean, adiknya kok di gituin sih. Lepasin!" titah Mama Dira yang tidak suka Lean bersikap kasar pada adiknya.
Terpaksa Lean melepas bekapan tangganya pada mulut Anne, membuat adiknya tertawa puas karena di bela oleh sang Mama.
Dalam keadaan yang sudah seperti ini, membuat Lean akhirnya berani untuk berkata jujur. Daripada bohong, dan akan di bongkar oleh adiknya jadi bakalan kena marah dia.
Lean menghembuskan nafas panjangnya, lalu bercerita dari awal kejadian kenapa Lean bisa sampai sholat istikharah demi mendapatkan petunjuk. Dan, sampai sejauh ini Nala lah yang selalu menjadi jawaban dari sholat istikharahnya. Awalnya Lean masih menyangkal dan tidak ingin percaya. Mungkin, ada kesalahan atau bagaimana sehingga dia terus melakukan berulang kali sampai sudah hampir sebulan.
Tapi, jawabannya selalu sama, tetap Nala bukan yang lainnya. Dan yang anehnya lagi, tanpa sadar Lean juga sudah mencintai gadis kecil itu.
Papa Ken dan Mama Dira mencoba menahan tawanya sampai Lean selesai bercerita, karena mereka tidak ingin memotong demi menghormati Lean yang sudah mau bercerita jujur.
Setelah Lean selesai bercerita, barulah Papa ken tertawa lepas, membuat Lean bingung sekaligus malu.
" Papa!" seru Mama Dira mencoba menghentikan Papa Ken yang terus tertawa dengan memberi kode untuk melihat ke arah Lean.
Papa Ken seketika bungkam saat melihat Lean menunduk seakan menahan malu.
__ADS_1
Andai bisa, Lean sudah ingin menenggelamkan wajahnya ke dasar laut, tapi dia masih ingin bertemu Nala, gimana dong?
" Maaf Le, Papa tidak bermaksud untuk menertawakan kamu. Papa tertawa karena mengingat pembicaraan Papa dengan Om Rian," pungkas Papa Ken.
Pembicaraan dengan om Rian?
Lean seketika mendongakkan kepalanya.. " Memangnya Papa sama om Rian berbicara apa?" tanya Lean yang seketika berubah menjadi mode kepo.
Mama Dira dan Anne hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Lean yang cepat sekali berubah mode.
" Apa kamu ingin dengar?" goda Papa Ken.
Lean mengangguk.
" Waktu terakhir Om Rian menginap di sini, dia sempat membahas ingin menjodohkan kalian, tapi Papa sempat menolak."
" Kenapa, Pa?" tanya Lean cepat. Membuat Papa Ken kembali ketawa dan geleng-geleng kepala.
Mungkin saat Rian berucap kemarin ada malaikat yang lewat. Jadi ucapannya di ijabah dengan cepat sama Allah, batin Papa Ken.
" Ya, karena Papa lebih suka mengarahkan, daripada menjodohkan. Biar kalian sendiri yang mencari siapa yang pantas menjadi Partner terbaik hidup kalian," jelas Papa ken.
Kean seketika tersenyum, setidaknya dia sudah mendapatkan lampu hijau, bakalan di terima jadi calon mantu.
" Tapi, bukankah Nala masih terlalu kecil? Apakah dia sudah siap untuk menikah?"Kini Mama Dira ikut bertanya.
Lean terdiam, karena sampai sekarang dia sendiri belum mendapatkan jawaban itu dari Nala. Sedangkan Anne hanya mendengarkan saja, karena dia sudah tahu jawaban dari pembicaraan ini.
...****************...
__ADS_1