My Best Partner

My Best Partner
Bab 127


__ADS_3

Selesai mandi, ternyata Nala sudah tertidur. Membuat Lean hanya bisa menghembuskan nafas panjang, lalu duduk di sisi ranjang. Lean menatap wajah terlelap istrinya, lalu mengecup kening Nala lembut.


Nala mencoba untuk tidak bergerak agar Lean tidak menyadari bahwa dia hanya pura-pura tidur. Setelah mencium kening Nala, Lean ikut naik keranjang, dan memeluk tubuh Nala erat. Lean juga menciumi leher Nala karena dia tahu itu adalah titik sensitif sang istri. Benar saja, Nala tak sanggup untuk tidak bergerak saat lehernya di cium.


Lean tersenyum puas tatkala dia berhasil membuat sang istri bergerak, sebenarnya Lean tahu bahwa Nala hanya berpura-pura tidur saja.


" Kenapa pura-pura tidur, huh?" bisik Lean yang membuat bulu kuduk Nala merinding terkena hembusan nafas Lean.


Nala mencoba melepaskan tangan Lean yang melingkar di perutnya, tapi Lean justru semakin mengerutkan pelukannya.


" Kak, lepasin!" pinta Nala.


Lean mengangkat tubuhnya sedikit agar bisa melihat wajah sang istri.


" Kamu kenapa? Cerita sama kakak, jangan hanya diam seperti ini," ucap Lean.


" Pikir saja sendiri!" ketus Nala dengan memalingkan wajah. Dia tidak sanggup menatap wajah Lean.


" Bee ..., kalau kamu tidak bicara mana bisa aku tahu? Aku bukan cenayang yang bisa membaca pikiranmu! "

__ADS_1


" Oh! "


Melihat Nala yang seperti ini, membuat Lean menghujani wajah Nala dengan ciuman bertubi-tubi. Dia benar-benar merasa gemas sekali, sedangkan Nala mencoba terus menghindar. Namun, kekuatannya tentu saja kalah dengan Lean.


" Kakak cukup! Jangan cium aku!" teriak Nala.


Lean berhenti. " Memangnya kenapa?"


" Karena aku tidak mau di cium dengan bibir bekas mencium wanita lain!" ketus Nala yang sudah keceplosan.


Deg


" Maksud kamu apa berkata seperti itu, Bee? "tanya Lean dengan tatapan tajam seakan meminta penjelasan.


Di karenakan posisinya saat ini kurang nyaman, Lean segera terduduk, begitupun dengan Nala.


" Tidak usah berpura-pura, aku sudah melihat semuanya! "pungkas Nala dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca. Entah kenapa, air matanya selalu saja ingin jatuh menetes jika mengingat kejadian itu.Kejadian itu benar-benar membekas di hati dan pikirannya.


" Aku masih belum paham, apa yang sebenarnya kamu maksud? Melihat apa? Dan mencium siapa? " tanya Lean yang masih bingung.

__ADS_1


Melihat Lean yang masih belum paham juga, membuat Nala semakin kesal.


" Tentu saja melihat kakak berciuman dengan wanita itu di atap rumah sakit!" tukas Nala dengan Nada yang cukup tinggi.


" Huh? Ciuman? Di atap ..., " Lean masih bingung. Dia mencoba mencerna ucapan Nala, sampai akhirnya dia mengerti sekarang.


" Jadi, kamu tadi sudah ke rumah sakit? "


" Tentu saja! Dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, suamiku sedang berciuman dengan wanita di masa lalunya. Apakah kakak masih mencintainya? Jika masih cinta, lalu kenapa meni___"


Ucapan Nala terhenti saat Lean tiba-tiba membungkam mulutnya dengan bibir. Nala mencoba memberontak untuk melepaskan ciuman itu, tapi Lean segera menekan tengkuk Nala dan semakin memperdalam ciumannya. Ini adalah pertama kalinya Lean menciumnya dengan penuh hasrat seperti ini, karena biasanya hanya kecupan sekilas. Melihat Nala yang sudah tidak memberontak lagi, membuat Lean memperlembut tempo pagutannya.


Meskipun masih pemula, Dia cukup handal bisa membuat Nala ikut terbuai dalam ciuman panas mereka. Pagutan itu baru terlepas saat keduanya hampir kehabisan nafas. Lean mengusap bibir Nala yang basah.


" Kakak mau membunuhku!" ketus Nala.


Lean tersenyum, melihat istrinya yang kesal. " Bukankah kamu juga menikmatinya?" goda Lean yang membuat wajah Nala memerah seperti kepiting rebus.


Ini adalah pertama kalinya Nala merasakan apa itu namanya ciuman seperti tadi. Pikirannya mencoba memberontak, tapi bibirnya justru merespon. Itulah pikiran dan tubuh yang tak sinkron.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2