My Best Partner

My Best Partner
Bab 63


__ADS_3

Malam yang penuh dengan kejadian menyakitkan dan menakutkan telah hilang, tergantikan pagi yang menyapa. Deburan ombak menerpa terumbu karang, angin sepoi-sepoi membuat tirai kain berterbangan mengikuti angin.


Di sebuah cottage yang memiliki pemandangan laut dengan pasir putih, terlihat seorang pria tampan mulai mengerjapkan matanya. Semalam, dia memutuskan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Lean baru bisa tidur setelah sholat subuh sehingga di saat matahari sudah meninggi, dia baru bangun.


Meskipun dia seorang pria, Lean tetap saja mempunyai fase patah hati. Di mana ingin menyendiri untuk menyembuhkan luka hatinya. Cintanya untuk Lea bukan hanya sehari, atau sebulan melainkan bertahun-tahun dia menyimpan rasa itu.


Ada yang mengatakan jika kamu mencintai seseorang, dan ingin dia menjadi jodohmu. Maka, selipkan namanya dalam setiap doamu. Mintalah pada sang pemilik sesungguh-Nya, siapa tahu keinginanmu terkabul. Namun, ketika masih saja tidak bisa bersama, mungkin dia memang bukan jodohmu. Tapi, jangan khawatir karena Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu. .


Kejadian semalam, kembali terputar dalam ingatan Lean. Di mana dia mengetahui bahwa wanita yang ingin di lamarnya sudah memiliki kekasih, bahkan dia___


" Ah ...," teriak Lean seraya mengacak-acak rambutnya.


Kemudian, Lean bangun dari duduknya, menatap hari yang sudah terang. Tiba-tiba cacing di perutnya berdendang sangat kencang, membuat Lean semakin frustasi. Dia sedang tak nafsu makan, tapi sejak kemarin dia sudah tak makan. Sehingga membuat cacing-cacing itu berdemo minta di beri makan.


Dengan malas, Lean turun dari kasur menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Lalu keluar mencari makan, sekaligus membeli baju ganti.


Melihat menu makanan hasil laut di cottage ini yang sangat menggiurkan, membuat Lean kalap mata. Dia memesan beberapa menu makanan yang sudah membuatnya menelan salivanya dalam-dalam.


Beberapa menit kemudian, makanan pesanannya datang. Tanpa basa basi, Lean segera menyantap hidangan yang ada di depannya. Makanan ini terasa sangat nikmat, mungkin karena bahan-bahannya fresh. Jadi, semakin menambah kenikmatan cita rasa di dalamnya. Rasa tak nafsu makan jadi hilang seketika.


" Alhamdulillah, makanannya nikmat sekali. Pasti di dalam kamu sudah sangat bahagiakan kan, cacing? Karena tuan Mu ini baik hati sudah memberikan makanan yang enak dan lezat untuk kalian!" ucap Lean kepada cacing di dalam perutnya.


Selesai makan, Lean berjalan-jalan untuk mencari pakaian ganti. Kegiatannya hari ini adalah bersenang-senang untuk melupakan masalah yang ada. Jarang sekali, Lean bisa liburan sendiri seperti ini di sela-sela pekerjaannya yang padat. Namun, ketika melihat sepasang kekasih sedang bermesraan, membuat mental Lean kembali down.


Dia juga ingin, memiliki pasangan yang bisa di ajak bermesraan seperti itu, tapi harus halal dulu. Kalau tidak, bisa di jebloskan ke neraka sama Allah. Lean seketika bergidik ngeri ketika membayangkannya. Dia adalah pria yang sejak kecil di ajari dengan nilai-nilai agama yang kuat, namun Lean juga manusia biasa. Pasti ada kalanya khilaf dan berbuat dosa, karena setan, jin, dedemit masih banyak di sampingnya.


Ya Allah, berikan hamba-Mu yang jomblo ini kesabaran dan ketabahan saat melihat sesuatu yang romantis seperti itu. Semoga Engkau segera mengirimkan jodoh yang akan menjadi tulang rusukku, sekaligus partner dalam menjalani hidup ini dan semoga hamba di jauhkan dari Zina. Amin.Doa Lean dalam hati.


...☘️☘️☘️...


Jika Lean sedang menenangkan diri karena patah hati, berbeda dengan pengantin baru ini yang semakin romantis saja. Di saat Kean masih mandi, Dinda berusaha untuk menyiapkan pakaian untuk suaminya pakai.


Kean tersenyum ketika melihat pemandangan yang begitu indah ini. Dulu, dia menyiapkan semuanya sendiri, tapi kini sudah ada yang menyiapkan semuanya. Kean berjalan menghampiri Dinda, lalu memeluknya dari belakang.


" Makasih Nda," ucap Kean seraya mencium pipi Dinda.

__ADS_1


" Sama-sama, yasudah abang ganti baju dulu, ya."


" Loh, nggak di gantiin sekalian?" manjanya dengan mengerlingkan mata.


" Lebay, abang bukan bayi! Jadi, pakai baju sendiri, ya," ujar Dinda seraya pergi meninggalkan ruangan walk in closet.


Dinda hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat sikap manja Kean yang tidak akan dia tahu jika tak menjadi istrinya. Sikap Kean benar-benar berbanding terbalik 180 derajat jika bersama keluarga dan istrinya. Ternyata apa yang di katakan oleh Mama Dira dulu benar adanya, kalau Kean punya sisi berbeda.


Dia akan bersikap dingin dengan wajah datar ketika berada di luar, namun akan menjadi hangat bila bersama orang yang dia sayangi. Bahkan pria yang dulunya kaku, tak bisa romantis sama sekali. Kini justru selalu bersikap romantis kepada istrinya.


" Kamu adalah pria yang selalu mengejutkan Bang, dan bisa buat aku semakin mencintaimu," gumam Dinda.


Jika ada yang tanya, siapa diantara mereka yang paling bucin, jawabannya adalah Dinda. Karena dialah yang semakin tak bisa jauh dan kehilangan pria itu. Siapa coba yang rela kehilangan suami perfek seperti Kean, dia itu bagaikan pria limited edition. Dari awal, memang Dinda yang jatuh cinta duluan, sebelum Kean. Bagi Dinda, Kean adalah dunia sekaligus cahaya bagi hidupnya.


Dia adalah pria yang benar-benar membuat Dinda hidup bagaikan seorang ratu. Dulu, dia tak pernah membayangkan bisa memiliki kehidupan pernikahan bak tuan puteri di negeri dongeng atau drama romantis yang sering dia tonton. Andaikan ini hanya sebuah mimpi, Dinda tak ingin bangun dari mimpinya.


"Nda," panggil Kean lembut ketika melihat sang istri sedang melamun.


" Eh, iya" jawab Dinda sedikit gelagapan. Dia kaget saat mendengar Kean memanggilnya.


" Nggak ada kok,"elak Dinda.


" Kok melamun? "tanya Kean yang sedikit tak percaya dengan jawaban Dinda.


" Kita berangkat sekarang saja, ya. Nanti takut telat!" Dinda mencoba mengalihkan pembicaraan.


Melihat jam di pergelangan tangannya, Kean mengangguk. Sepertinya mereka memang sudah harus berangkat ke kantor. Seperti biasanya, mereka akan sarapan bersama di meja makan, hanya minus Lean saja.


Semalam, Lean berbohong dengan mengatakan bahwa dia ada pekerjaan mendadak sehingga tidak bisa pulang ke rumah. Pekerjaannya yang memang siaga 24 jam, dan sering ada operasi mendadak, membuat semua orang percaya bahwa Lean tidak pulang karena pekerjaan.


" Kalian serius, sudah mau kerja lagi? Tidak mau ambil cuti buat honeymoon?" tawar Papa Ken.


Cuti Honeymoon? Kenapa aku tidak kepikiran sama sekali, ya? Ah, Papa memang sangat peka sekali. Gumam Dinda dalam hati.


" Sepertinya, akan ambil setelah masa magang Dinda selesai, Pa," jawab Kean.

__ADS_1


Ah, aku sampai lupa kalau masih magang. Dasar Dinda, kalau soal libur kerja aja langsung semangat dan tidak lupa, giliran tugas kuliah aja lupa! Gerutu Dinda pada dirinya sendiri.


" Oh, begitu."


" Memangnya magangnya sampai kapan? "tanya Mama Dira.


" Kurang lebih 2 bulan setengah, Ma. " jawab Dinda dengan nada sedikit lesu. Mengingat masa magangnya masih lama.


" Lumayan lama, ya. "


Melihat ekspresi Dinda yang seperti lesu, membuat Papa Ken merasa iba.


" Kalian boleh ambil cuti kalau mau, lagian magang di perusahaan suami sendiri juga.bisa di atur," ucap Papa Ken yang membuat sedikit kelonggaran pada menantunya itu.


" Memangnya bisa, Pa?" tanya Dinda antusias dengan wajah bahagia.


" Bisa saja, tapi___ masa magang kamu di perpanjang untuk menggantikan hari cuti, mau?" bukan Papa Ken yang mengatakan, melainkan Kean.


Raut wajah Dinda kembali lesu, melihat sifat suaminya yang tidak berubah jika menyangkut soal pekerjaan. Sedangkan Papa Ken, Mama Dira, dan juga Anne hanya bisa tersenyum. Kean tak mau di bilang pilih kasih, karena dia harus profesional. Sekalipun, dia juga ingin pergi liburan.


" Kakak ... Kakak, masak sama istri sendiri nggak ada kelonggaran sedikit, sih! Kan kasihan kak Dinda, pasti pengen liburan sekalian honeymoon, kan?" timpal Anne yang di angguki oleh Dinda.


Dinda memberikan jempol kepada adik iparnya yang pengertian itu. Meskipun belum terlalu dekat, tapi Anne menyukai Dinda yang bisa mengalahkan kakaknya itu.


" Anak kecil nggak usah ikut campur, lebih baik urus saja nilai sekolahmu itu! Ada yang merah apa nggak?" cetus Kean yang seketika membuat Anne merasa kesal.


" Kakak!!" sungut Anne dengan wajah marah serta berkacak pinggang. Dia paling tak suka mendengar Kean yang membahas soal nilainya.


Dinda yang belum tau apa-apa tentang Anne hanya bisa diam saja. Karena mau membantu juga nggak tahu mau bantu apa.


...****************...


Oh ya, Novi mau bilang makasih buat yang sudah mendoakan.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya..

__ADS_1


__ADS_2