My Best Partner

My Best Partner
Bab 47


__ADS_3

Setelah acara pengajian selesai, Nala segera pamit pergi menuju kamar Anne. Sedangkan yang lainnnya berkumpul di ruang keluarga. Rian sudah penasaran sekali dengan cerita bagaimana Ken tidak memberitahunya jika Kean menikah. Apakah dia sengaja menyembunyikannya?


Dinda yang sudah mulai merasa pusing, dan perutnya yang terasa sakit ingin sekali pergi menuju kamarnya. Melihat wajah istrinya yang sedikit pucat, membuat Kean sedikit khawatir.


"Kamu kenapa, Din?" tanya Kean.


"Em, sedikit pusing dan sakit perut, Bang," jawabnya.


"Kok nggak bilang dari tadi?"


Kean segera meminta pamit untuk pergi ke kamar dulu karena Dinda sakit. Mendengar Kean mengatakan bahwa Dinda sakit, membuat Mama Dira dan Lean mendekatinya.


"Apanya yang sakit, Din?"


"Hanya pusing dan sakit perut saja kok, Ma."


"Yaudah Kean, cepat bawa istrimu kembali ke kamar."


"Iya Kak, biar aku bantu periksa," imbuh Lean.


Setelah itu, Kean memapah Dinda pergi menuju kamarnya. Melihat wajah istrinya yang seperti.menahan rasa sakit, dan memegang perutnya, membuat Kean segera menggendong Dinda ala bridal style.


"Kakak, malu."


"Gapapa, daripada kamu malah pingsan di jalan!"


"Tapi aku berat," lirih Dinda seraya mengalungkan lengannya di leher Kean.


"Anggap saja olahraga angkat barbel. Lagian tadi siang juga abang kan yang gendong kamu masuk. Ke kamar."


Dinda.mengerucutkan bibirnya saat mendengar Kean menyamakannya dengan barbel. Tapi, dia merasa senang karena suaminya itu sangat perhatian dan tahu apa yang dia butuhkan.


Melihat ada beberapa sorot mata yang memandangnya, membuat Dinda merasa malu dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya.


Lean tersenyum ketika melihat kakaknya yang dingin itu, ternyata bisa perhatian juga ketika bersama istrinya. Dinda memang satu-satunya wanita yang bisa menaklukkan pria dingin itu.


"Wah, ternyata Tuan Kean so sweet juga ya, kalau sama istrinya."


"Iya, aku jadi iri dan pengen juga di gendong seperti itu dengan pria ganteng."


"Benar-benar wanita yang beruntung bisa mendapatkan Tuan Kean.


Bisik-bisik para maid saat melihat Kean menggendong istrinya menuju kamar.


Di ruangan keluarga, papa Ken mulai menceritakan tentang bagaimana pernikahan Kean yang terjadi sangat dadakan. Makanya dia tak menghubungi siapa pun, karena saat itu juga Ken sangat panik dan bingung.


"Aku turut berbela sungkawa,Ken. Aku tak menyangka kisah menantu mu sesedih itu. Pantas saja, saat menatapnya dia terlihat seperti mempunyai kesedihan yang begitu mendalam."


"Ternyata ilmu psikologi mu masih ada,"goda Ken.


" Maksudmu, apa berbicara seperti itu, Ken? Kamu meremehkan ku! ! Jangan lupa aku dulu pernah menjadi seorang psikolog yang terkenal dan hebat."


" Ya, aku tahu Dokter Rian yang sekarang bukan lagi seorang Dokter, "ledek Ken yang langsung mendapat tinjuan pelan di tangannya.


" Tapi, apakah Kean mencintainya? "


" Tentu saja. Jika t8dak cinta mana mungkin dia menikahinya, kamu juga bisa lihat kan bagaimana perhatian dan tatapan berbeda Kean kepada Istrinya. "

__ADS_1


" Iya juga, aku saja sampai merasa heran. Ternyata Kean yang begitu dingin, dan introvert justru menikah duluan. "


" Apakah ada yang salah jika Kean yang menikah duluan? Kenapa kalian semua merasa heran? "timpal Dira.


" Siapa semua, Dir? "tanya Rian.


" Sinta juga tadi bilang seperti itu! "


" Apa dia sudah datang ke sini? "


Dira mengangguk.


" Sebenarnya bukan hanya heran mbak, melainkan terkejut! Karena kita tahu bagaimana Kean dari kecil,"sahut Senja.


" Ya berarti jodoh Kean lebih cepat datangnya! "


Para orang tua itu mengangguk, menandakan bahwa ucapan Dira benar.


" Bagaimana Nathan, sudah jauh lebih baikan? "tanya Dira saat melihat Nathan hanya diam saja."


"Sudah jauh lebih baik, tapi masih harus terus melakukan terapi agar cepat bisa jalan normal." Yang menjawab bukan Nathan, melainkan Senja.


"Baguslah, nanti kalau sudah sembuh jangan main balapan lagi, ya." Nasehat Dira.


"Iya, Tante," jawab Nathan.


...☘️☘️☘️...


Di dalam kamar Kean, Lean sudah selesai memeriksa kondisi Dinda.


"Tekanan darahnya sedikit rendah, asam lambungnya juga naik, apa tadi siang tidak makan?"


"Makan sedikit, itupun di paksa dulu," jawab Kean yang kini menatap tajam ke arah Dinda.


"Pantes saja, tubuhmu juga butuh asupan gizi, Kak. Jadi, jangan sampai tidak makan."


"Kamu dengar itu Dinda," pungkas Kean dengan penuh penekanan.


Dinda hanya bisa menganggu.


"Jangan terlalu keras juga sama kakak Ipar, yang lembut dan sabar sedikit," goda Kean dengan menautkan satu alisnya.


"Kalau begitu, kita keluar ambil vitamin dulu," ajak Lean yang sudah melingkarkan lengannya di pundak Kean.


Setelah keluar dari kamar, Lean mengatakan apa semua yang dia lihat dari Dinda. Lean memberikan nasehat kepada Kean untuk lebih memperhatikan Dinda. Saat ini dia sedang berada di titik terendahnya. Jadi, Kean harus bisa menjadi tempat ternyaman bagi Dinda.


"Kau paham kan, Kak?"


Kean mengangguk.


"Jadilah support sistem terbaiknya bagi Dinda, dan tahan dulu itu juniormu!" goda Lean yang mencoba menahan tawa.


"Baik Dokter Leanne yang terhormat," pungkas Kean dengan senyum terpaksa dan tatapan dingin.


Kean juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan hal itu. Sampai Kean yang notabennya irit bicara, menjadi lebih banyak bicara agar Dinda merasa nyaman. Saat ini, dia juga dalam tahap belajar menjadi suami sekaligus partner terbaik bagi Dinda.


Setelah itu, Kean membawakan vitamin penambah darah dan juga obat maag untuk Dinda. Melihat Dinda yang tak ada di atas ranjang, membuat Kean segera mencari dimana keberadaannya.

__ADS_1


"Din ... Kamu di mana?" panggil Kean.


"Di kamar mandi, Bang," sahut Dinda.


"Oh, kalau begitu ambil air wudhu sekalian ya. Kita sholat isya dulu, baru istirahat."


...☘️☘️☘️...


Di dalam kamar Anne, Nala mencoba bertanya kepadanya kenapa Anne tidak cerita kalau Kean sudah menikah.


"Nala yang cantik, bagaimana aku bisa cerita kalau aku sendiri saja tidak tahu! Bahkan sampai sekarang aku belum berkenalan dengan kakak ipar ku sendiri!" ungkap Anne.


"Kamu serius, Anne?" tanya Nala yang sedikit terkejut saat mendengar Anne mengatakan kalau dia belum berkenalan dengan Dinda.


Anne mengangguk karena dia memang belum berkenalan secara resmi dengan Dinda. Saat Dinda datang ke rumah ini, dia sedang tertidur dalam gendongan kakaknya, dan. Anne juga dilarang pergi ke kamar kakaknya. Jadi, dia belum berkenalan dengan Dinda sama sekali. Apalagi sejak sore, Anne terus berada di dalam kamar karena sedang PMS.


Nala hanya menghembuskan nafas panjang, dia benar-benar tidak mengira bahwa Kean akan menikah secepat ini.


Melihat Nala yang tertunduk sedih, membuat Anne memeluknya.


"Yang sabar, ya. Lagian mungkin kamu memang tidak ditakdirkan untuk menjadi kakak ipar ku," canda Anne.


Nala melepaskan pelukannya, dan menatap kesal ke arah Anne. Padahal dia tahu kalau saat ini Nala sedang patah hati, tapI Anne justru bercanda.


"Ulu ulu ... jangan cemberut gitu dong, lagian aku tuh bingung kenapa kamu bisa suka sama kakakku yang dinginnya kayak gunung salju itu!"


"Ya ... Suka aja," jawab Nala malu-malu. Entah kenapa, sejak kecil Nala memang sudah mengagumi sosok Kean. Apalagi mereka dulu sering liburan bersama, membuat benih-benih cinta mulai tumbuh di dalam hatinya.


"Yaudah, lupakan saja cinta masa kecilmu itu. Lagian masak kamu mau jadi pelakor?"


"Amit-amit." Nala mengetuk jidatnya. "Jangan sampailah, meskipun cinta aku tak segila itu!" pungkasnya.


Anne tertawa saat melihat raut wajah panik sahabatnya.


"Kalau kamu masih ingin jadi kakak ipar ku, tenang saja masih ada stok pria single kok! Dia juga nggak kalah ganteng dan pinter"


"Siapa? Kak Lean?"


Anne mengangguk.


"Nggak ah kalau sama kak Lean," tolak Nala.


"Kenapa?"


"Takut nggak kuat menghadapi sikap jahilnya!"


Anne tertawa terbahak-bahak saat mendengar jawaban Nala. Tapi yang dikatakan Nala ada benarnya, Kakaknya yang satu itu meskipun ganteng, sikap jahilnya .... Lumayan bikin emosi! Apalagi Nala anaknya pendiam, dan tidak suka pria jahil karena dia sudah memiliki saudara kembar yang seperti itu. Membuat Nala menolak menikah dengan pria seperti Lean dan Nathan.



Muhammad Leanne Ar-rayyan.


...****************...


Yaudah kalau Nala nggak mau. abang Lean, biar sama author aja ya😁😁😁


Jangan lupa like, komen, vite, dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2