My Best Partner

My Best Partner
bab 78


__ADS_3

Cuaca hari ini terlihat sangat cerah, sejak pagi Dinda sudah sibuk menyiapkan pakaian untuk Kean gunakan, sekaligus sibuk menyiapkan berkas-berkas yang akan dia urus di kampus. Hari ini, Dinda ada urusan yang harus segera di selesaikan di kampus sekaligus merancang pembelajaran selanjutnya.


Selesai berpakaian, Kean mengambil sebuah kartu debit yang belum sempat dia berikan kepada Dinda.


“ Nda, kamu hari ini jadi ke kampus?” tanya Kean yang diangguki oleh Dinda.


“ Kalau begitu, ini kartu buat kamu.” Kean menyodorkan sebuah kartu debit.


“ Buat apa?” tanya Dinda yang tak mengerti.


Kean langsung memberikannya ke tangan Dinda karena dia tak mau mengambil.


“ Buat jajan atau kebutuhan kamu ketika tidak bersama Abang. Buat bayar uang semester juga boleh, nanti kalau habis abang transfer lagi. Kata sandinya


tanggal pernikahan kita.”


“ Nggak usah lah bang, Dinda juga kalau ke mana-mana sama abang dan yang bayar juga selalu abang. Jadi buat apa pegang kartu? Kalau uang kuliah sudah ada beasiswa juga.” Dinda mengembalikan kartu itu, namun Kean


tidak mau.


“ Sudah pegang saja, buat pegangan.”


Karena terus memaksa, akhirnya Dinda menerima kartu itu. “ Makasih,


Bang.” Dinda memeluk Kean sebagai bentuk terimakasih.


Kean hanya bisa tersenyum tipis, melihat istrinya ini yang benar-benar tak pernah menuntut apapun darinya. Jadi Kean yang harus sadar diri, dan pengertian karena itu sudah tangung jawabnya sebagai suami.


Selesai sarapan bersama, Kean langsung mengantarkan Dinda pergi ke kampus. Jarak kampus Dinda cukup jauh dari kediaman Fabio sehingga Kean harus berangkat lebih awal. Setelah menempuh perjalanan beberapa  menit, akhirnya mereka sampai juga di depan kampus Dinda.


“ Dinda pamit dulu ya, Bang. Abang hati- hati kalau menyetir, “ ucap Dinda seraya mencium tangan Kean. Lalu sebuah kecupan di kening juga mendarat dari Kean.


“ Nanti pulang jam berapa?” tanya Kean saat Dinda hampir keluar dari mobil.


“ Nanti aku pulang sendirian aja, takutnya nanti ngerepotin Abang. Jarak kantor sama kampus juga lumayan jauh,” ungkap Dinda. Dia juga tahu kalqu Kean hari ini banyak pekerjaan dan meeting yang seharusnya dia menemani, tapi karena urusan kampus juga penting jadi dia izin. Kan masih ada Aksa juga yang bisa menemani dan membantu Kean.


“ Kamu yakin?” tanya Kean yang sedikit tak tega jika Dinda pulang sendirian. Tapi, hari ini dia banyak sekali pekerjaan.

__ADS_1


Dinda mengangguk, lalu keluar dari mobil.


Kean masih terus memandang kepergian istrinya dari dalam mobil


sampai tubuhnya benar-benar menghilang dari pandangannya. Setelah itu, dia baru pergi meninggalkan area kampus Dinda.


Sepanjang perjalanan, banyak sepasang mata yang menatap ke arahnya membuat Dinda sedikit risih.


Apakah penampilanku aneh? Bukankah hanya karena memakai hijab saja?  Sepertinya di kampus juga ada


beberapa yang pakai hijab jadi tak mungkin terlihat aneh kan. Dinda hanya bisa berperang dengan batinnya sendiri.


“ Assalamualaikum ukhti, boleh kenalan?” seorang pria tampan, datang menghampiri Dinda dengan menyodorkan tangannya. Dinda mengernyitkan dahinya,


ini adalah pertama kalinya ada seorang pria yang mengajaknya berkenalan selama kuliah beberapa tahun di sini.


“ Maaf, tapi saya sudah menikah,” jawab Dinda dengan memperlihatkan cincin yang tersematkan di jari manisnya. Lalu pergi begitu saja meninggalkan pria itu.


Pria tampan itu hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia sedikit malu sekaligus canggung karena sudah mengajak seorang wanita bersuami berkenalan.


Sumpah, tapi dia benar-benar cantik dan anggun sekali. Janda memang menggoda, tapi istri orang jauh lebih menggoda dan menantang. Tapi, kenapa aku tak pernah melihat cewek itu, ya. Apakah dia mahasiswi baru? Tapi,


Sebenarnya bukan tak pernah melihat, hanya saja dia tak menyadari bahwa itu Dinda. Karena penampilan Dinda yang dulu, tomboi dan tak ada cantik-cantiknya. Jadi, tak ada cowok yang datang menghampirinya.


Ketika selesai mengurus semua urusan kampus, tiba-tiba Dinda bertemu dengan teman sekelasnya waktu masih SMA dulu yang juga kuliah di kampus Dinda, tapi beda jurusan. Melihat mereka bertiga diam saja, membuat Dinda segera pergi.


“ Dinda,” panggil salah satu dari ketiga wanita itu


Spontan Dinda menghentikan langkahnya, ketika namanya di panggil. Ketiga wanita itu berjalan menghampiri Dinda, dan mencoba memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah seperti sedang menilai.


Mereka bertiga dulunya memang geng yang suka membullynya waktu di sekolah, karena Dinda berasal dari keluarga miskin. Sebenarnya Dinda bukan takut bertemu mereka, melainkan males meladeni mulut-mulut mereka yang seperti tak pernah di sekolahkan. Benar, mereka berasal dari kalangan atas, tapi selalu menghina dan merendahkan orang lain.


“ Kamu beneran Dinda?” tanya seorang wanita dengan pakaian dari atas sampai bawah semuanya branded, dia bernama Anastasya.


“ Iya, kenapa?” jawab Dinda santai seperti biasanya.


“ Wow amzing! Kamu terlihat sangat berbeda dari sebelumnya, habis keruntuhan uang dari mana bisa

__ADS_1


memakai pakaian mahal?” sindir Stasya yang sedkit terkejut ketika melihat


penampilan baru Dinda. Dia tahu betul, bahwa pakaian yang di pakai Dinda


saat ini cukup mahal.


“ Pasti juga jadi sugar baby.” Ketus temannya bernama Cika.


“ Sugar baby? Tapi kok penampilanya___”


“ Yaelah, itu mah  palingan cuman buat nutupin kedoknya aja! Penampilannya


seakan terlihat seperti gadis baik-baik, tapi nyatanya _____ simpanan om-om,” hina Cika.


Ingin rasanya Dinda menyobek mulut lemes mereka bertiga, tapi dia


jadi ingat pesan mama Dira jika ada yang menganggu, kita harus bisa membalas


dengan  cara elegan bukan urakan.


Dinda tersenyum. “ Kalau iri, bilang bos!“ tandas Dinda. Kemudian berlalu pergi,namun langkahnya kembali terhenti karena tangannya sudah di cekal oleh Cika.


“ Apa maksudmu berbicara seperti itu, huh? Mana ada kita iri sama  cewek murahan seperti kamu! “ cerca


Cika yang tak terima di bilang iri oleh Dinda.


“ Hei Cika ciki , jika aku murahan, kalian apa? Sampah masyarakat? Kaya karena uang orang tua aja nggak usah bangga say …” ketus Dinda seraya melepaskan tangannya secara kasar. Lalu pergi meninggalkan mereka bertiga, lama-lama di dekat tiga wanita iblis itu hanya akan


membuat emosi dan menambah dosa.


Astagfirullah… sabar Dinda. Batinnya seraya mengelus dada.


Cika yang tak terima ingin mengejar Dinda dan memberikan pelajaran, namun Stasya dan Regina menghentikannya.


" Nggak usah bersikap urakan deh, kita balas saja dengan sesuatu yang lebih dari ini! Dan tentunya dengan cara yang lebih___ mengejutkan" ucap Stasya dengan seringai di bibirnya. Dia memang sudah mempunyai cara untuk mempermalukan Dinda.


Stasya memang lebih santai dan tidak mudah terbakar emosi seperti Cika, tapi dia jauh lebih kejam jika memiliki niat buruk.

__ADS_1


" Dinda!!! ” panggil seseorang dari kejauhan.


Mendengar ada suara tak asing memanggilnya, membuat Dinda menghentikan langkahnya. Lalu membalikkan tubuhnya, untuk melihat siapa orang yang memanggilnya itu.


__ADS_2