My Best Partner

My Best Partner
Bab 76


__ADS_3

"Aku juga bingung sih mau memberikan pendapat apa. Jika beneran kamu dan Nala berjodoh, setidaknya tidak akan ada yang mempermasalahkan tentang kita yang tak punya nasab!”


“ Kenapa kenapa kakak berpikiran seperti itu?”


" Apakah kamu lupa, jika kita itu tak punya nasab."


Lean terdiam, ketika melihat raut wajah Kean berubah dingin. Sepertinya nasab masih saja membuat hati kak Kean terluka. Saat mengetahui bahwa kita adalah anak di luar nikah saja, sudah membuat hati terpukul. Di tambah lagi dengan hidup di Indonesia yang masih menganggap hal itu sangat penting dan di perdebatkan. Apalagi jika orang yang sangat memikirkan bibit bobot, dan lain sebagainya.


" Bukankah mertuamu juga tidak mempermasalahkan?" tukas Lean untuk menenangkan Kean.


" Ya, itu karena kebetulan saja, aku dapat mertua yang tak terlalu mementingkan nasab."


" Nah, berarti tidak semua orang berpikiran sempit. Jadi, tak usah khawatir lagi, jika akau mendapatkan calon mertua seperti itu ya tinggalkan saja. Cari yang mau menerima kita, kok ribet. Toh kita punya kelebihan banyak, masak tidak bisa menutupi kekurangan itu. Namanya juga manusia tidak ada yang sempurna, " pungkas Lean penuh dengan penegasan.


Kean tersenyum." Tumben bisa ngomong bener! " goda Kean.


Lean melotot, dia tak terima Kean menghinanya. Jadi, terjadilah kejar-kejaran dan perang bantal.


...☘️☘️☘️...


Jika di dalam kamar, si kembar tampan saling cerita dan perang bantal. Begitu juga dengan mama Dira, Anne, Dinda dan juga Papa Ken. Mereka berempat sudah seperti ibu-ibu yang sedang ngerumpi, tapi bukan ghibahin orang karena itu dosa. Mereka berempat hanya menanyakan bagaimana rasanya tinggal sendiri di. apartemen.


Apakah menyenangkan atau tidak? Dan Dinda hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala. Karena dia memang masih menikmati tinggal hanya berdua saja, tanpa ada rasa tidak nyaman.


“ Jadi kamu tidak nyaman tinggal di sini?” tanya Mama Dira dan di angguki oleh papa ken dan Anne. Pada akhirnya mereka terlihat seperti mengintrogasi Dinda karena cerita-cerita lucu telah habis.


“ Bukan, bukan …,” Dinda segera melambaikan tangannya agar mertua dan adik iparnya tidak salah paham.


“ Bukannya tidak nyaman, Ma, Pa, Anne. Dinda justru senang sekali bisa tinggal dan menjadi bagian dari keluarga di sini. melihat keharmonisan dalam keluarga ini, sudah bagaikan kehidupan keluarga yang sangat Dinda idam-idamkan. Karena selama ini, Dinda___” tiba-tiba Dinda teringat


kembali dengan Ibu dan adiknya.


Yang awalnya mereka ingin tertawa melihat wajah tegang Dinda, jadi ikut sedih ketika melihat Dinda sedih. Mama Dira segera memeluk Dinda agar


dia tak sedih lagi.

__ADS_1


“ Kamu jangan sedih ya, padahal tadi Mama hanya ingin bercanda, bukan buat kamu nangis,” ucap Mama Dira yang jadi merasa bersalah.


“ Iya, gapapa kok, Ma. Dinda saja yang cengeng dan terlalu lemah.


Setelah itu, Mama dira melepaskan pelukannya, lalu menakup wajah Dinda.


“ Hey, seorang wanita  itu memang di ciptakan dengan hati yang lemah lembut, jadi wajar saja jika hatinya mudah tersentuh. Kalau hati wanita di ciptakan keras terus buat apa ada laki-laki?”


canda mama Dira.


“ Buat pajangan!” sahut Anne.


Semua tertawa mendengar jawaban Anne kecuali papa Ken yang cemberut karena mendengar bahwa laki-laki hanya di buat pajangan.


Melihat Dinda tertawa lagi, membuat Mama Dira tersenyum.


“ Ingat pesan Mama, meskipun wanita di ciptakan dengan hati yang lemah lembut. Dia tetap harus bisa jadi wanita strong dan tangguh di


saat-saat tertentu. “


Wanita strong bukan hanya wanita yang bisa bekerja keras atau melakukan pekerjaan kasar. Wanita strong berarti wanita yang kuat dalam mejalani apapun masalah dalam hidupnya, lalu bisa menyelesaikan semuanya sendiri.


...☘️☘️☘️...


Hari demi hari telah berlalu, sejak kejadian hari itu. Nala dan Lean sudah tak pernah bertemu lagi. Nala memang masih sibuk dengan berbagai ujian kelulusan karena dua bulan lagi dia sudah lulus dari SMA. Bahkan karena sibuknya, dia mengatakan kepada Anne kalau belum bisa menjalankan rencana yang telah di susun oleh Anne. Dia ingin fokus dulu dengan ujian sekolahnya.


Sedangkan Lean tetap bekerja seperti biasanya, namun dia sedikit berubah. Sikapnya sudah tak seperti dulu lebih cuek, dan irit bicara. Bahkan bisa


melihat senyum Lean saja sudah sulit, tidak seperti dulu.


Bicara soal hubungannya dengan Lea, mereka terlihat dingin jika bertemu. Lean memang mulai


membatasi pergaulannya dengan wanita. Dia mengikuti saran dari Kean untuk lebih memperbaiki diri jika ingin mendapatkan jodoh terbaik. Karena jodoh itu adalah cerminan dari kita.


“ Dokter Lean,” panggil seorang perawat wanita.

__ADS_1


“ Iya ada apa, Ren?” tanya Lean kepada seorang perawat bernama Renata.


Renata adalah salah satu perawat yang sangat mengangumi Lean, bahkan bukan hanya mengagumi dia juga sangat mencintai Lean. Ketika kejadian waktu itu, dia sedang dalam pelatihan jadi tak tahu berita yang tersebar.


Setelah kembali, dia merasa senang karena melihat hubungan Lean dan Leandra ,mulai renggang. Tak ada lagi Lean yang mendekati seorang Leandra, namun tiba-tiba dia mendengar berita bahwa Lean bersikap seperti itu karena sudah memiliki kekasih. Bahkan, sejak kejadian itu Lean juga berubah menjadi lebih cuek kepada wanita, mungkin karena sudah memiliki kekasih jadi dia menjaga jarak aman agar kekasihnya tak cemburu.


“ Em__ anda sibuk apa tidak?”


“ Memangnya kenapa?”


“ Ada yang ingin saya bicarakan, tapi tidak enak kalau bicara di sini. Bagaimana kalau bicara di café yang tak jauh dari rumah sakit. Bisa apa tidak?”


Sebenarnya Lean ingin menolak, tapi tidak enak. Bukankah hanya bicara di café? Dan Lean juga sedang tak ada kesibukan. Jadi, tak apa jika bicara sebentar.


Wajah Rena terlihat sangat Bahagia karena Lean menerima ajakannya. Sesampainya di café, mereka berdua hanya memesan minuman saja.


“ Oh, ya. Tadi katanya mau bilang sesuatu, apa?” tanya Lean. agar dia tak berlama-lama berduaan bersama Renata . Meskipun di cafe ini juga


rame pengunjung, tetap saja Lean sedikit kurang nyaman saja jika bersama dia.


“ Em___ itu, apakah benar anda sudah memiliki kekasih?”. tanya Renata dengan takut-takut.


“ Oh, itu. Saya masih singel, memangnya kenapa?”


Hati Rena seketika berbunga-bunga mendengar Lean mengatakan bahwa dia masih singel. Berarti dia masih ada kesempatan untuk bisa mendapatkan


hati Lean, karena mulai sekarang Rena tak mau lagi hanya mencintai dalam diam, dia tak rela melihat Lean menjadi milik orang lain.


Rena menarik nafas panjang, sepertinya dia harus mengatakan cintanya sekarang, sebelum terlambat.


“ Jika anda masih singel, apakah saya masih mempunyai peluang? Karena saya sudah mencintai anda sejak lama, tapi baru berani. mengungkapkannya sekarang,” tukas Rena dengan penuh keberanian.


Lean hanya diam karena dia sedikit terkejut mendengar ada wanita yang menyatakan cinta padanya di cafe seperti ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2