My Best Partner

My Best Partner
Bab 73


__ADS_3

Bunyi ponsel Lean terus saja berbunyi, di layar ponsel terlihat nama mamanya yang sedang memanggil.


“ Halo Assalamualaikum, Ma,” salam Lean pada seseorang di ujung telepon .


“ Waalaikumsalam, kamu di mana Le? Apakah masih sibuk?”


“ Ini sudah ada di dalam mobil mau pulang, Ma. Ada apa?”


“ Oh, Mama hanya pengen tahu bagaimana kabar anak bujang mama yang sudah dua hari tidak pulang,” sindir Mama Dira.


“ Oh, kirain ada apa. Apa Mama mau pesan sesuatu? Nanti Lean mampir belikan.”


“ Tidak perlu sayang, Kamu pulang saja sudah membuat Mama senang. Kalau begitu hati-hati di jalan. Mama menunggumu pulang di rumah.”


Lean tersenyum, hatinya tiba-tiba menghangat mendengarkan ungkapan sayang dari mamanya. Ungkapan itu, seakan menandakan bahwa ada yang menunggunya pulang.


Setelah salam perpisahan , panggilan telepon di matikan. Kemudian, Lean menginjak pedal gas melajukan mobilnya pergi dari parkiran rumah


sakit.


...☘️☘️☘️...


Di tempat lain, terlihat seorang wanita cantik tengah


menunggu suaminya menyelesaikan pekerjaannya. Dinda berjalan menghampiri tempat duduk suaminya, dia ingin melihat apa yang  masih dia kerjakan sampai belum selesai di waktu jam pulang kantor sudah lewat. .


“ Apa perlu Dinda bantu Bang, biar cepat selesai,” tawar Dinda.


“ Tidak perlu, Nda. Kamu juga pasti capek, lagian tinggal sebentar lagi selesai kok.”


Tak lama kemudian, Kean sudah menyelesaikan pekerjaannya serta mematikan laptopnya. Dinda yang masih berdiri di belakangnya menjadi senang, karena akhirnya mereka bisa pulang juga.


Dinda memakaikan jas yang sudah di


lepas oleh suaminya, dia benar-benar terlihat seperti seorang asisten pribadi yang merangkap sebagai istri. Yang melayani suami di kantor, maupun rumah.


“ Abang kenapa natap Dinda seperti itu?” tanyanya seraya menatap wajah tampan suaminya.


“ Apakah menatap istri sendiri tidak boleh?” bukannya menjawab, Kean justru melontarkan sebuah pertanyaan kembali. Kean melingkarkan tangannya di pinggang sang istri,


Dinda hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari Kean yang melenceng dari pertanyaan.

__ADS_1


“ em … boleh kok! Nggak ada larangan.”


“ Malam ini mau makan apa?”tanya Dinda.


“ Malam ini kita makan di rumah, ya ... soalnya tadi Mama telepon meminta kita pulang."


Dinda hanya mengangguk, menandakan bahwa dia setuju.


Mama Dira tadi memang sempat menelfon, mengatakan kalau rumah sepi karena anak-anaknya pada tidak ada di rumah. Jadi, Kean memutuskan untuk pulang ke rumah malam ini agar bisa menemani Mama dan papanya makan dan bersantai bersama.


Dinda hanya menganggukkan kepala menandakan bahwa dia tidak keberatan untuk pulang ke kediaman.


Sebelum pulang ke kediaman fabio, Kean dan Dinda pulang ke apartemen terlebih dulu untuk membersihkan badan, agar pulang ke rumah mereka sudah dalam keadaan bersih dan bugar karena sudah mandi.


Sesampainya di apartemen, Dinda ingin langsung mandi karena tubuhnya sudah sangat lengket dan juga Lelah.


“ Sayang, mau mandi bareng?” bisik Kean di telinga Dinda dengan nada sensual.


“Bukankah tadi pagi sudah.” Dinda tahu jika Kean meminta mandi bareng bukan hanya sekedar mandi biasa, melainkan ada keinginan terselubung di dalamnya. Padahal semalam juga sudah di kasih jatah, subuh juga nambah sekali, tapi  sekarang sudah minta lagi.


“ Sebentar saja ya, buat tambah mood booster,” bujuk Kean.


...☘️☘️☘️...


Sebuah mobil bmw warna navy memasuki kediaman fabio. Terlihat pria tampan yang baru saja turun dari mobilnya, berjalan memasuki rumah.


" Assalamualaikum," salam Lean.


" Waalaikumsalam, sayang," sahut Mama Dira yang segera menyambut kepulangan putranya dengan sebuah pelukan.


Ternyata pelukan hangat dari seorang ibu dapat menenangkan hatinya yang sedang gundah .


" Kok sepi, Ma. Apakah semua orang belum pulang?" tanyanya.


" Oh, Papa kamu ada di ruang kerjanya. Tadi, ada klien yang menelpon, kalau Anne pamit pergi ke rumah Nala mungkin sebentar lagi pulang, soalnya dia bilang nggak akan sampai malam."


" Pengantin baru? "tanya Lean ketika mamanya tak menyebutkan si kakak.


" Oh, mereka berdua katanya akan pulang sebelum makan malam. "


" Loh, memangnya kakak kemana? Kok baru mau pulang nanti malam? Apakah mereka berdua sudah kerja lembur lagi? "

__ADS_1


" Makanya pulang ke rumah! Jadi, nggak tau kan kalau kakaknya sekarang sudah mulai tinggal di apartemen sendiri! "tukas Mama Dira seraya mencubit pipi Kean.


Sebenarnya Mama Dira juga sedikit kesal karena Lean sibuk di rumah sakit sampai tidak pulang dua hari. Apakah pekerjaannya terlalu banyak? Mama Dira hanya khawatir dengan kesehatan putranya itu jika terlalu capek bekerja.


" Apartemen? Kakak mau pindah tinggal di apartemen? Kenapa tidak tinggal di sini saja? Kan biar rame," tukas Lean.


Setelah itu, Mama Dira menceritakan apa alasan Kean dan Dinda tinggal di apartemen. Tapi, mereka tidak akan full tinggal di sana, masih tinggal di rumah ini juga.


Terus, tiba-tiba Mama Dira membahas soal Lean kapan yang akan menyusul untuk menikah. Apakah dia sudah punya calon apa belum. Seketika, Lean terdiam jika di tanya seperti itu.


" Em ... Lean masih nyaman hidup sebagai singel kok, Ma. Lagian Lean nggak terburu-buru juga untuk segera nikah, ikutin alur yang di kasih author saja!" tukas Lean dengan senyum di bibirnya.


" Oh ya? Mama kira kamu juga sudah mau menyusul."


Lean hanya tersenyum getir. Andai dia sudah punya wanita yang cocok, mungkin Lean juga ingin segera menikah dan membina rumah tangga. Tapi, sayangnya dia baru saja patah hati. Jadi, ya sabar saja menunggu jodoh datang. Katanya orang yang sabar akan mendapatkan jodoh terbaik nantinya.


Di karenakan belum mandi, Lean pamit untuk ke kamarnya terlebih dahulu. Dia ingin membersihkan tubuh, hati, dan pikiran. Entah kenapa, Lean masih saja memikirkan kejadian tadi.


Lean penasaran, apa yang membuat seorang Nala mengatakan kalau dia sedang tidak bercanda ingin jadi pacarnya.


Bukankah dia dulunya kagum sama Kak Kean? Lalu kenapa sekarang justru ingin menjadi kekasihku? Sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Nala. Tapi, apa? Gumam Kean yang mencoba menerka.


...☘️☘️☘️...


Selepas mengantarkan Nala Pulang ke rumahnya dengan selamat tanpa kurang sedikitpun, Anne langsung pamit pulang. Karena dia sudah janji untuk tidak pulang sampai malam sama mamanya. Di dalam perjalanan, Anne terus memikirkan bagaimana cara memulai rencananya.


Di tengah-tengah sedang berpikir, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari seseorang yang jauh di sana.


Brian : Selamat sore, Anne. Bagaimana kabarmu? "


Anne : Baik, kabar kakak ketiga sendiri gimana? Apakah sudah jauh lebih baik? Kenapa sudah lama sekali baru memberi kabar. Apakah Kakak sudah melupakan adikmu yang cantik ini?


Brian : Sudah jauh lebih baik. Sepertinya begitu, tapi aku tiba-tiba teringat padamu ketika melihat seorang gadis melukis.


Anne : Sudahlah! Kalau begitu tidak perlu lagi menghubungiku!


Brian : Astaga, Kenapa kamu pemarah sekali gadis kecil!


Anne : Biarin 😛😛😛


...****************...

__ADS_1


__ADS_2