My Best Partner

My Best Partner
Bab 62


__ADS_3

Sesampainya di depan rumah Nala, kebetulan Rian dan Senja juga baru keluar dari mobil. Melihat Lean datang ke rumahnya malam-malam, membuat Rian dan Senja sedikit terkejut. 


Apakah ada sesuatu yang terjadi?


" Lean, "sapa Rian seraya berjalan menghampiri Lean. 


" Om Rian, Tante Senja," sapa lean seraya menyalami keduanya. 


" Tumben malam-malam ke sini, ada apa? " tanya Rian.


" Oh, nganterin Nala Om. "


" Nala? " ulang Rian dan di angguki oleh Lean.


" Bukannya Nala ada di rumah? Kok bisa sama Kamu?" ujar Rian yang sedikit bingung. Karena setahu Rian, Nala ada di rumah sebelum dia pergi ke suatu acara bersama Senja. Bahkan, dia tahu kalau putrinya itu jarang sekali keluar malam-malam kalau bukan karena urusan penting.


" Tangan kamu kenapa, Le? "tanya Senja yang baru menyadari kalau tangan Lean di perban.


" Oh, ini hanya tergores saja, Tan, "pungkas Lean.


" Terus Nala mana? "tanya Rian yang tak kunjung melihat putrinya keluar dari mobil Lean.


" Masih tidur di dalam mobil, Om. "


Setelah itu, Lean membukakan pintu mobilnya. Memperlihatkan Nala yang masih tertidur pulas. Melihat tangan Lean yang terluka, membuat Senja menyuruh Rian yang menggendong Nala masuk ke dalam rumah.


" Om perlu bantuan? "tawar Lean yang tak enak dia diam saja.


" Sudah gapapa Le, tangan kamu sedang terluka, nanti lukanya berdarah lagi kalau harus menggendong Nala masuk ke dalam. Lagian, Om Rian juga masih kuat kok, Iya kan, Pi? " ucap Senja dengan penuh penekanan.


" Iya, bener," jawab Rian terpaksa.


Di umurnya yang sudah 45 tahun menggendong Nala pasti akan ada sedikit efek samping. Karena putrinya itu bukanlah anak kecil lagi. Andai saja, tangan Lean tak terluka. Mungkin Rian akan menyuruh Lean saja yang menggendong Nala ke kamarnya.


Selesai membawa Nala ke kamarnya, Rian segera menghampiri Lean yang duduk di ruang tamu. Sedangkan Senja pergi ke dapur untuk mengambilkan camilan dan minuman. Rian sudah sangat penasaran sekali kenapa Nala bisa bersama Lean, apalagi saat melihat pakaian Lean yang begitu rapi, membuat banyak sekali praduga dalam pikirannya.


" Gimana, Le? Kenapa kamu bisa bersama dengan Nala?"


"Oh itu kebetulan saja kok, Om." Lean mencoba menyembunyikan kejadian yang sebenarnya, seperti permintaan Nala. Apalagi, saat melihat motor Nathan sudah terparkir di garasi, menandakan bahwa pria itu sudah pulang agar tidak ketahuan kalau dia habis keluar. Jika Lean mengatakan yang sebenarnya, pasti Rian akan memarahi Nathan habis-habisan.

__ADS_1


Lean tahu betul bagaimana sifat Rian, dia terlihat sabar, namun ketika marah sangat menakutkan. Sama seperti papanya, dia bisa seperti malaikat baik, tapi juga bisa menjadi seperti malaikat pencabut nyawa ketika marah.


"Tidak usah bohong sama Om, meskipun sudah pensiun, Om masih bisa membaca gerak-gerik mu Lean. Sekalipun kamu berusaha untuk menutupinya, apa kamu lupa kalau Om adalah Dokter psikolog senior?" tukas Rian.


Meskipun sudah tak menjadi Dokter, ilmu psikolog yang di milikinya masih melekat hingga mendarah daging. Sekalipun Lean berusaha tenang dan mencoba mencoba menutupi gerak-geriknya. Rian masih tahu, karena dia tahu betul siapa putrinya.


Jika yang dikatakan oleh Lean adalah Nathan, mungkin Rian akan percaya. Tapi Nala, itu seperti sesuatu yang tidak mungkin. Nala adalah anak rumahan yang jarang sekali keluar rumah jika tidak ada urusan penting, apalagi malam-malam begini.


Sebelum Lean menjawab, Senja sudah keluar dengan membawakan minuman dan juga camilan untuk menemani mereka berbincang.


"Makasih, Tan," ucap Lean ketika Senja meletakkan minuman di depannya.


" Iya, di minum," tawarnya.


Melihat tatapan Rian yang seakan mengulitinya, membuat Lean terpaksa jujur karena percuma bohong di depan pria paruh baya ini, karena pasti i akam ksgb++. Yang penting Lean sudah berusaha untuk menyembunyikannya, namun tak berhasil.


Setelah itu, Lean menceritakan bagaimana bisa dia bertemu dengan Nala. Rian dan Senja yang mendengarnya sangat terkejut, matanya memerah, tangannya pun juga sudah mengepal menahan amarah. Andai dia ada di sana, mungkin dia sudah menghabisi ketiga pria yang sudah berani menyentuh putrinya.


" Om tenang saja, Lean sudah beri perhitungan sama mereka." Lean mencoba menenangkan Rian, ketika melihat aura kemarahan tercetak jelas di wajahnya.


" Terus bagaimana nasib berandalan itu?"


Rian mengerutkan keningnya ketika mendengar bahwa Lean tak memberikan mereka ke pihak berwajib. Bagaimana kalau mereka mencari korban lagi?


" Kenapa tidak kamu jebloskan saja ke penjara atau buang ke kolam buaya biar jadi makanannya. Itung-itung mengurangi penjahat sekaligus memberi makan buaya!" cetus Rian dengan wajah marahnya.


Melihat emosi suaminya yang memuncak, Senja mencoba menenangkannya. Sebenarnya hati Senja juga sangat sakit mendengar cerita Lean bahwa Nala hampir saja di bawa oleh berandalan. Senja tak bisa membayangkan bagaimana takutnya Nala pada saat itu.


Lean menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


" Em ...," Lean sedikit takut-takut mau menjawab apa.


" Em kenapa, Le?" tanya Rian dengan nada sedikit tinggi.


" Lean buat mereka belur, bahkan hampir mati! kalau Lean lapor ke polisi, urusannya bisa panjang" jelasnya.


"Jadi, luka di tanganmu itu karena melawan mereka?" tanya Senja.


Lean mengangguk.

__ADS_1


Melihat tangan Lean yang terluka, Rian menebak bahwa mereka pasti bawa Senjata.


" Sayang, panggil Nathan suruh kesini!" titah Rian.


" Pi, apa tidak besok pagi saja. Biar emosi papi sedikit reda, jangan sampai nanti ada penyesalan dengan tindakan yang akan Papi lakukan di saat kondisi marah, " Senja mencoba bernego dengan suaminya. Senja tahu bagaimana sikap Rian ketika marah, dia tak mau ada penyesalan nantinya.


Rian mencoba menahan emosinya pada putranya itu. Dia heran sekali, kenapa sikap Nathan dan Nala bertolak belakang jauh sekali. Padahal mereka kembar, bahkan kepintarannya juga jauh berbeda.


Karena sudah larut malam dan tugasnya juga sudah selesai. Lean pamit pulang terlebih dahulu. Setelah Lean pulang, Rian segera menghubungi anak buahnya untuk membawa tiga pria hidung belang itu ke basecampnya.


Rian belum puas jika Mereka bebas begitu saja, setelah berani menyentuh putrinya. Dia akan memberikan pelajaran yang setimpal .


Jika Rian sibuk menelpon seseorang, Senja justru masuk ke kamar Nala untuk melihat kondisi putrinya.


Senja mengusap pelan pipi Nala, buliran bening mulai menetes membasahi pipinya. Ternyata di balik tidur nyenyak putrinya, tersimpan kejadian yang sangat menakutkan.


Andai Lean tak datang tepat waktu, Senja tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi dengan putrinya itu.


" Maafkan Mami sama Papi ya sayang, kita tidak bisa menjaga dan melindungi kamu dengan baik. Semoga kamu bisa melupakan kejadian itu, anggap saja sebagai mimpi buruk ."


Senja memutuskan untuk tidur di samping Nala, dia takut kalau Nala akan mengalami trauma pasca kejadian mengerikan itu, dan ternyata firasat Senja benar terjadi.


Di tengah Malam, tiba-tiba keringat dingin mulai membanjiri tubuh Nala, rasa ketakutan mulai menghampiri, kejadian semalam kembali hadir dalam mimpi Nala.


*Tolong ... Tolong ... Mami, papi, Tolong ...,


Lepaskan, tolong jangan sentuh saya* ...


Teriak Nala di sela isak tangisnya dengan mata yang masih terpejam. Mendengar Nala berteriak meminta tolonh, membuat Senja terbangun.


" Nal, bangun sayang ..." Senja mencoba membangunkan Nala dari mimpi buruknya. Ketika sepasang mata Nala terbuka, dia langsung memeluk Senja erat.


" Mami ... Nala takut ...," isak Nala dalam pelukan Senja.


" Iya sayang, kamu tenang ya, sudah ada Mami di sini. " Senja mencoba menenangkan putrinya yang sedang histeris.


...****************...


Maaf ya kemarin tidak up. Doakan saja semoga author sehat dan khilaf biar bisa up yang banyak 😁

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan Hadiahnya


__ADS_2