
Papi Rian mencoba mengatur nafas dan juga menguatkan dirinya agar tidak menangis. Padahal, dia yang mengusulkan untuk menikahkan Nala sekarang juga, tapi entah kenapa ada rasa sedih, sesak di dada ketika ingin memberikan putri satu-satunya pada pria lain. Setelah ijab qabul ini, semua tanggung jawabnya selama ini akan berpindah alih pada suaminya. Bahkan, dia sudah tidak lagi mempunyai hak apapun lagi nantinya.
Saat melihat wajah putrinya yang tersenyum, membuat Papi Rian kembali kuat.
Ternyata begini rasanya seorang ayah yang akan melepaskan putrinya.
" Le, apa kamu mau berjanji pada Om?" tanya papi Rian sebelum melakukan akad.
" Tolong jaga putri Om dengan baik ya," Papi Rian segera mengusap air matanya yang mengembun.
" Om tenang saja, Lean pasti akan menjaga Nala dengan baik."
Setelah itu, Papi Rian dan Lean saling berjabat tangan untuk memulai ijab qabul. Seper menit kemudian...
Sah!
Ucapan sah menggema di ruangan itu bersamaan dengan jatuhnya air mata Lean dan Papi Rian. Jika Papi Rian sedih karena melepaskan putri sematawayangnya. Berbeda dengan Lean yang haru bahagia karena kini statusnya sudah berubah, dan mempunyai tanggung jawab baru yang sangat besar.
Menikah, menandakan bahwa dia sekarang memiliki tanggung jawab atas istrinya. Mulai sekarang, semua yang ada pada Nala adalah tanggung jawabnya.
Bukan hanya Papi Rian dan Lean yang meneteskan air mata, tapi Mami senja, Nala dan beberapa anggota keluarga lainnya juga ikut menangis bahagia. Akad sederhana ini sangat terasa sekali khidmat, haru, dan bahagianya.
" Selamat datang di keluarga Prayoga," Rian memeluk Lean sebagai bentuk sambutannya pada sang menantu.
Belasan tahun lalu, Lean adalah bocah cilik yang menolak keras dirinya untuk menjadi Papanya. Tapi, sekarang ... dia justru menjadi anak menantunya. Begitulah kehidupan, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Setelah itu, Nala di bawa untuk menghampiri Lean. Lean tersenyum, lalu memegang ubun-ubun Nala sambil membacakan doa:
__ADS_1
Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”
Setelah itu, baru mengecup kening Nala dengan lembut.
Grogi
Itu yang di rasakan Lean saat ini karena ini adalah pertama kalinya dia mengecup kening wanita selain adiknya.
Setelah itu, giliran Nala mengecup punggung tangan Lean.
Prosesi acara lamaran, dan juga akad secara agama berjalan dengan lancar. Para tetua saling bercengkrama satu sama lain.
" Bagaimana rasanya melepaskan putrimu menikah?" tanya Papa Ken.
" Rasanya campur aduk, nanti kamu juga akan merasakannya jika Anne menikah," ungkap Papi Rian lalu meneguk minumannya.
" Em ... Berat, tapi tetap harus kita lakukan. Dari sini, aku juga menjadi paham bagaimana beratnya perasaan seorang ayah yang melepaskan putrinya menikah. Ingin menangis, takut terlihat lemah. Tidak menangis, dada terasa sesak, benar-benar menguji batin," jelas Papi Rian.
Papa Ken hanya bisa menepuk pundak sahabatnya agar dia tenang.
" Tapi, sedikit terobati saat melihat putri kita bahagia dengan pernikahannya," lanjutnya sembari menatap ke arah Nala yang tersenyum bahagia.
Terlihat jelas bahwa putri kecilnya itu sangat bahagia dengan pernikahannya, karena tak ada guratan kesedihan sedikitpun di wajahnya.
" Ciye ... Yang udah sah, pegangan tangan kayak ada lemnya ngak bisa lepas," ledek Anne saat melihat Lean dan Nala pegangan tangan terus seperti ingin menyebrang jalan.
" Kalau iri, setelah lulus nyusul nikah! Biar bisa seperti ini," tukas Nala.
__ADS_1
" Tidak boleh! "jawab Lean dan Kean bersamaan.
" Memangnya kenapa? "tanya Dinda yang diangguki oleh Nala. Sedangkan Anne hanya acuh karena sudah terbiasa dengan sikap kedua kakaknya ini.
" Em ... Ya belum boleh saja, " ucap Kean datar.
" Alasannya? "Kini Nala yang bertanya.
Lean dan kean saling pandang, mereka berdua bingung mau memberikan alasan apa. Mau bilang masih kecil, Nala juga menikah di usia yang lebih kecil daripada Anne. Mau jawab harus selesai kuliah dulu, kedua istri mereka juga sama-sama masih sekolah dan kuliah.
Lean menghembuskan nafas panjang.
" Lagian, siapa juga yang mau menikahi Anne? Pacar aja nggak punya!" Akhirnya Lean memiliki jawaban yang cukup tepat.
" Gimana mau punya pacar, orang selalu ada bodyguard yang sangar-sangar. Takutlah, mau mendekati," sindir Anne.
" Kalau dia memang serius, tidak akan takut meskipun ada singa sekalipun! "ketus Lean sembari menatap ke arah Kean.
Kean mengerutkan keningnya, ketika merasa ada yang aneh. " Kenapa kamu mengatakan singa dengan menatap diriku? "tanya Kean dengan menunjuk dirinya sendiri.
" Karena kakak kayak singa, "lirih Anne yang masih terdengar oleh Kean.
Kean menatap tajam ke arah Anne saat mendengar Anne mengatakan bahwa dirinya seperti singa. Sedangkan yang lainnya hanya bisa tertawa.
...****************...
Mereka udah sah, ayo kondangan dan hadiahnya yang banyak karena novel ini akan segera tamat
__ADS_1