My Best Partner

My Best Partner
Partner Terbaik ~ Bab 98


__ADS_3

"Apakah Anda sudah mencintai wanita itu?" tanya Rena dengan nada sedikit bergetar.


" Rena, janganlah bertanya sesuatu yang akan membuatmu merasa jauh lebih sakit. Saya tahu bagaimana rasanya cinta sepihak, tapi saya juga tidak mau memberikan harapan palsu di saat saya sendiri tidak bisa mewujudkan harapan itu."


" Kamu masih muda, cantik, dan berbakat. Suatu saat kamu juga pasti akan mendapatkan seseorang yang tulus mencintaimu sepenuh hati. Jangan terlalu berjuang kepada seseorang yang tak kunjung memberi kepastian, karena itu hanya akan jauh lebih menyakitkan dan sia-sia. Jadi, saya harap kamu bisa mengerti apa maksud dari ucapan saya, dan maaf karena sudah menyakitimu, " jelas Lean panjang lebar kali tinggi.


Lean berharap Rena tidak seperti dirinya yang terus berjuang pada orang yang salah dan pada ujung-ujungnya menyakiti dirinya sendiri.


Genangan air itu sudah tak lagi bisa Rena bendung, membuatnya terjun bebas mengalir membasahi pipi. Melihat Rena yang menangis di depannya, membuat Lean segera memberikan tissu untuk mengelap air mata. Namun, Rena menolaknya.


" Jangan peduli dengan saya jika anda tidak bisa menerima cinta saya! Semoga Anda berbahagia dengan wanita itu." tandas Rena sebelum pergi dari ruangan Lean dengan air mata yang terus bercucuran dengan deras. Dadanya terasa sesak, hatinya sangat sakit.


Lena menutup wajahnya dengan tas selempang guna menutupi kesedihannya. Dia tidak ingin ada yang melihat dia menangis seusai keluar dari ruangan Dokter Leanne.


Rena berlari dengan sangat kencang menyusuri koridor rumah sakit untuk mencari tempat sepi. Bahkan ada beberapa rekan kerja yang menyapanya, namun tidak ia hiraukan.


Bertahun-tahun dia memendam rasa itu, dan akhirnya bisa memberanikan diri untuk mengungkapkannya. Bahkan dia berani berjuang secara terang-terangan, tanpa peduli omongan perawat lain yang mengecapnya murahan, dan tidak tahu diri karena mengejar pria yang sudah jelas-jelas sulit untuk di gapai.


Semua harapan dan perjuangannya selama ini, seketika hancur hanya dengan ucapan bahwa dia sudah mendapatkan petunjuk tentang siapa jodohnya, dan itu bukanlah dirinya.


Sakit, benar-benar sakit saat ingatan akan ucapan itu kembali teringat.


Kenapa Tuhan tidak adil padanya, apakah Tuhan tidak bisa melihat perjuangannya selama ini? Kenapa dia tidak mau menyatukan dia dengan pria idamannya? Seperti apa wanita yang sudah bisa membuat hati seorang Leanne luluh? Apakah masih Leandra? Tapi, sepertinya bukan karena akhir-akhir ini hubungan mereka terlihat sangat lah renggang, tidak seperti dulu.


...☘️☘️☘️...


Karena jam kerjanya juga sudah habis, Lean memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Meskipun dia tak menyukai Rena, hatinya yang lembut tetap merasa bersalah karena sudah menolaknya. Mungkin saat ini, Rena tengah merasakan apa yang dia rasakan duku saat pertama kali di tolak oleh Leandra.


Kean menghembuskan nafas panjang dan mengusap wajahnya kasar.


Semoga kamu bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari saya Rena! Dan semoga kamu benar-benar berhenti, dan tidak mengulangi kesalahan seperti saya dulu. Batin Lean seraya bangun dari tempat duduknya.


...☘️☘️☘️...

__ADS_1


Di sebuah ruangan rumah sakit, terlihat sepasang suami istri yang tengah menonton televisi. Setelah mendapatkan suntikan obat untuk membersihkan sisa-sisa janin di dalam tubuh akibat keguguran, Dinda terus merasa mual, pusing dan perutnya kram sehingga membuat dia tidak bisa tidur.


Oleh karena itu, Kean menemaninya untuk menonton televisi guna mengalihkan rasa sakitnya. Karena Dinda ingin di manja terus sampai membuat Kean ikut duduk di ranjang pasien sambil memeluk istrinya, dan sesekali mengusap perutnya yang terasa kram.


Hitung-hitung belajar menjadi suami siaga di kala istri sedang sakit, sebelum menjadi suami dan ayah siaga saat istri hamil.


" Bang," lirih Dinda.


" Iya sayang, ada apa?"


" Laper, pengen makan pizza," ujar Dinda.


" Pizza?" tanya Kean untuk memastikan lagi dan di jawab anggukan kepala oleh Dinda.


" Sebentar, ya." Kean mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Kemudian, memesan makanan delivery untuk sang istri yang sedang kelaparan.


" Sudah, kamu tunggu dulu ya, " ucap Kean dan diangguki oleh Dinda.


Selang beberapa menit kemudian, ponsel Kean berbunyi. Ada telepon dari sang kurir yang sudah sampai di lobi rumah sakit. Setelah itu, Kean pamit keluar terlebih dahulu untuk mengambil makanan dan minuman yang telah dia pesan.


" Ma sya Allah, kenapa suami orang terlihat sangat tampan dan mempesona?" decak kagum seorang perawat yang tatapannya tak lepas ke arah Kean.


" Memangnya sudah punya istri?" tanya temannya yang tidak tahu bahwa Kean sudah punya istri.


" Sudah, istrinya di bawa ke rumah sakit karena mengalami keguguran dan ada luka-luka lebam begitu di wajahnya."


" Dia kdrt?"


" Bukan dia yang Kdrt, orang waktu dia datang dan melihat istrinya terluka dia sampai meneteskan air mata! Jadi, nggak mungkin dia Kdrt! " jelas perawat itu. Karena dia salah satu perawat yang membantu Dinda saat menjalani pemeriksaan sehingga dia tahu saat Kean datang dan menangisi kondisi istrinya. Dari wajah Kean terlihat tulus dan sangat menyayangi istrinya, jadi tidak mungkin dia yang melakukan kekerasan.


" Sesayang itu sama istrinya?" timpal temannya yang lain baru ikut nimbrung.


Perawat itu mengangguk.

__ADS_1


" Bismillah suami orang," ucap temannya yang tadi sempat mengira bahwa Kean Kdrt.


"Kenapa Bismillah?" seru kedua perawat yang bingung dengan ucapan temannya itu.


" Ya siapa tahu aja punya suami seperti itu, kalau di kasih yang itu juga alhamdulilah. Kan jodoh nggak ada yang tau," ujarnya dengan mengendikkan bahu. Kemudian, kembali duduk di kursinya.


Dua orang perawat yang lain hanya bisa saling pandang, lalu mengangguk.


" Bener juga sih, jodoh nggak ada yang tahu. Tapi, masak iya mau jadi istri kedua atau___"


" Hush! Nggak usah ngarep, kalau dia sangat menyayangi istrinya tidak akan ada celah untuk wanita lain!" tukas seorang perawat berambut pendek.


Setelah mendapatkan pizza itu, Kean segera kembali ke ruangan tempat istrinya berada. Wajah Dinda terlihat bahagia saat melihat suaminya datang dengan membawa kantong makanan.


Kean segera mengatur meja makan untuk meletakkan pizza tersebut. Dinda yang sudah kelaparan sejak tadi, segera melahapnya.


" Apakah enak?" tanya Kean saat melihat wajah bahagia istrinya saat makan.


Dinda mengangguk, lalu menawari Kean untuk ikut makan. Namun, Kean menggeleng, dia tidak biasa makan di tengah malam seperti ini.


" Kalau enak, di habiskan ya ... Biar kenyang," ujar Kean seraya mengusap lembut puncak kepala Dinda.


Dinda mengangguk dengan senyuman menghiasi wajahnya.


Kean ikut bahagia saat melihat istrinya sudah kembali tersenyum, setelah menangis dan mengeluh kesakitan sejak tadi. Sepertinya Dinda memang sangat kelaparan karena semua makanan yang masuk terus kembali keluar efek dari obat itu.


...****************...


Oh ya ... Author mau kasih pemberitahuan. Kalau Author akan mengadakan give away untuk kalian semua berupa pulsa gratis senilai 105 k untuk 4 pemenang yang beruntung.


Caranya gampang, hanya dengan like, komen, vote dan kasih gift sebanyak-banyaknya


Even GA ini di mulai dari hari ini sampai tanggal 19 maret.

__ADS_1


Pemenangnya akan di ambil dari 3 ranking teratas yang sudah memberi dukungan seperti di bawah ini, dan satunya rahasia.



__ADS_2