
"Ibu ...," teriak Dinda saat melihat Ibunya tak sadarkan diri lagi.
Air mata Dinda sudah bercucuran, tubuhnya terasa lemas sekali. Dia belum siap jika harus kehilangan Ibunya sekarang.
"Ibu sadarlah, jangan tinggalin Dinda sendiri...," Dinda mencoba menggoyangkan tubuh Nada.
Ketika para Dokter dan suster datang, mereka menyuruh keluarga Pasien untuk keluar terlebih dahulu. Namun, Dinda belum mau melepaskan tangannya pada tubuh Dinda. Dengan terpaksa, Kean membawa Dinda untuk keluar.
"Kita keluar dulu, ya. Biar Dokter yang memeriksa Ibu," ajak Kean kepada Dinda.
Dengan berat hati, Dinda keluar dari ruangan itu. Tanpa sadar, Dinda tiba-tiba memeluk Kean, membuat Kean terkejut dan bingung harus bersikap bagaimana.
Saat ini, Dinda sedang butuh pelukan penenang. Dia tidak tahu harus menumpahkan rasa sedihnya dengan siapa lagi. Melihat Dinda yang menangis sesenggukan dalam pelukannya, membuat Kean merasa iba.Jadi, Dia hanya bisa membiarkan Dinda seperti itu dulu sampai dia tenang.
"Kamu yang sabar ya, pasrahkan semua sama Allah. Semoga Ibu baik-baik saja."
Tak ada respon apa-apa dari Dinda, dia masih terus menangis menumpahkan semua kesedihannya.
Dari kejauhan, saat melihat Kean di peluk dengan seorang gadis, membuat Leandra berjalan menghampirinya.
" Kean, "panggil Leandra.
Seketika, Kean menengok siapa yang memanggilnya. Sedangkan Dinda mulai melepaskan pelukannya saat mendengar suara wanita memanggil nama Kean dengan lembut.
" Lea, "lirih Kean.
" Kamu ngapain pelukan sama wanita di sini? Bukankah kamu__"Leandra tak melanjutkan ucapannya ketika melihat wajah Dinda terlihat basah seperti habis menangis.
Leandra tahu bagaimana Kean, dia paling tidak suka di sentuh wanita, apalagi memeluknya. Kean akan sangat marah, tapi kenapa Kean tidak marah saat wanita itu memeluknya? Leandra tahu kalau wanita itu bukanlah adik Kean.
"Siapa dia bang? Abang kenal?" kini Dinda yang mulai membuka suara.
Abang? Siapa wanita ini? Batin Leandra dengan tatapan menelisik seakan menilai penampilan Dinda.
Melihat tatapan Leandra yang seakan tidak suka serta menatapnya dari atas sampai bawah, membuat Dinda berpikir kalau wanita ini sepertinya suka dengan Kean.
Dinda tiba-tiba menggandeng tangan Kean, membuat Kean terkejut dan ingin melepaskannya. Tapi, Dinda menahan dengan tatapan tajam. Sungguh jantung Kean seakan ingin copot, aliran listrik seperti mengalir ke seluruh tubuh, membuat badannya terasa panas. Ini adalah pertama kalinya Kean seintens ini dengan seorang wanita selain Anne, dan Mamanya.
Dalam hati, Kean terus mengucapkan kalimat istighfar meminta maaf karena sudah melanggar prinsipnya.
"Kean," panggil Leandra lebih lembut lagi saat melihat Kean diam saja.
"Iya," jawab kean sedikit gugup. Dia mencoba menetralkan tubuhnya.
__ADS_1
"Siapa Dia? Kenapa kamu ada di sini? Apakah ada keluargamu yang sakit?" Leandra menghujani dengan beberapa pertanyaan seakan memperlihatkan bahwa dia dekat dengan Kean dan keluarganya.
"Perkenalkan, dia tunangan Ku, Adinda."
Dinda tersenyum saat mendengar Kean memperkenalkannya sebagai tunangan. Hatinya yang tadi sesak, sedikit terobati karena baru tersadar kalau sekarang dia tidak sendiri lagi di dunia ini. Tapi, dia juga berharap bahwa Nada tetap baik-baik saja dan bisa melihat bahwa putrinya sekarang sudah bahagia memiliki pria yang sangat baik dan menyayanginya.
Jika Dinda senang karena di perkenalkan sebagai tunangan, berbeda dengan Leandra yang langsung tidak suka dan sakit hati. Apalagi saat melihat penampilan Dinda yang biasa saja, membuat Leandra membandingkannya.
Apa kelebihan wanita ini sampai bisa mendapatkan hati kean? Dari penampilan saja, aku lebih jauh dari dia? Apakah dia pakai guna-guna? Tapi, Kean adalah pria yang taat agama. Jadi, tidak mungkin, apa Mata Kean rabun? Dalam hati, Leandra terus saja tidak terima jika gadis biasa seperti Dinda bisa mendapatkan cinta Kean.
"Jadi, Dia adalah pacarmu yang kamu katakan tempo hari?"
Pacar? Siapa pacar Abang? Apa dia sebelumnya punya pacar? Tapi, bukankah kemarin dia mengatakan tidak suka pacaran. Batin Dinda yang langsung menatap Kean dengan tatapan penuh tanya seakan ingin Kean menjelaskan apa maksud dari wanita ini.
"Iya, itu Dia dan Kita juga akan segera menikah," lanjut Kean.
"Cepat sekali," lirih Leandra yang masih terdengar oleh Dinda san Kean.
Saat menatap tangan Dinda yang masih memeluk lengan kean, membuat Lea tersadar kalau ada cincin berlian melingkar di jari manisnya. Menandakan bahwa apa yang di ucapkan Kean adalah benar, bukan dusta kalau wanita itu adalah tunangannya.
"Kalau begitu selamat." Leandra segera pergi meninggalkan mereka berdua karena sudah tidak tahan lagi.
Hatinya benar-benar sakit saat melihat Kean sudah ingin menikah. Awalnya Leandra berpikir bahwa Kean menolaknya dulu karena Lean menyukainya. Tapi, ternyata Kean memang tidak pernah menyukainya sama sekali.
Setelah melihat Leandra pergi, Dinda langsung menatap Kean untuk meminta penjelasan tentang kenapa wanita itu mengatakan kalau Kean memiliki pacar. Tapi, pembicaraan itu tertunda saat melihat Dokter yang memeriksa Nada keluar.
" Kondisi Bu Nada benar-benar sudah kritis. Kita hanya bisa berharap masih ada mukjizat yang akan menghampiri Bu Nada."
Seketika tubuh Dinda lemas seperti tak ada energi lagi dalam tubuhnya. Saat melihat Dinda hampir jatuh, Kean segera menangkapnya. Dinda terlihat sangat shock ketika mendengar bagaimana kondisi ibunya saat ini.
"Bang, Ibu tidak akan meninggalkan aku secepat itu, kan?" lirih Dinda.
"Kita berdoa saja, semoga ada keajaiban yang datang." Kean mencoba menenangkan Dinda.
"Ini semua gara-gara pria jahat itu! Aku tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai kapanpun. Dia sudah buat hidupku, Ibu, dan devan menderita. Aku tidak akan biarkan dia hidup tenang!"
Melihat kebencian Dinda kepada Ayahnya sudah sangat mendarah daging, membuat Kean terkejut.
" Kamu tidak boleh bicara seperti itu, bagaimana pun dia juga tetap ayahmu, Din. "
Dinda melepaskan tubuhnya dari Kean, lalu menatapnya tajam.
" Tidak, dia bukan ayahku!" Dinda geleng-geleng kepala, dia tidak terima jika Kean mengatakan bahwa dia adalah ayahnya.
__ADS_1
" Kamu tenang dulu, ya. "
" Tenang? Bagaimana aku bisa tenang di saat Ibuku sudah ada di ambang kematian, dan adikku juga entah bagaimana sekarang keadaanya! Dan itu semua gara-gara pria itu! "Emosi Dinda sudah tidak bisa di kondisikan lagi sampai tidak sadar sudah membentak Kean.
Kean mencoba menenangkan Dinda, kali ini sepertinya emosi dan batin Dinda benar-benar terguncang. Mungkin lebih baik dia diam, dan hanya menemani wanita itu.
Tiba-tiba, Dinda jatuh pingsan, membuat Kean semakin panik.
" Din, bangun,"Kean mencoba menepuk pipi Dinda.
Tanpa berpikir panjang, Kean langsung menggendong tubuh lemas Dinda menuju ruangan UGD. Dia benar-benar merasa khawatir melihat Dinda sampai pingsan seperti itu.
Lean yang baru saja selesai operasi segera berlari menuju ruangan bu Nada, ketika mendengar seorang suster mengatakan kalau bu Nada tadi sempat membuat heboh dan kini mengalami kritis.
Sebelumnya, Lean sudah mendapatkan amanah untuk membantu menjaga dan menyembuhkan bu Nada. Jadi, dia merasa mempunyai tanggung jawab. Apalagi wanita itu juga akan menjadi keluarganya.
Sesampainya di ruangan bu Nada, Lean terkejut saat hanya mendapati seorang suster saja.
"Bagaimana kondisinya?"
"Kondisinya sudah kritis."
"Lalu kakak saya kemana? Katanya dia datang ke sini?" tanya Lean saat tak melihat ada Kean di ruangan itu
"Sepertinya ke ruangan UGD, soalnya anak bu Nada tadi sempat pingsan," jelas suster itu.
Anak bu Nada? Apakah Dinda juga ikut datang? Tanpa berpikir lama, Kean segera pergi dari ruangan Nada dan berjalan menuju ruangan UGD.
Saat Lean berjalan menuju ruangan UGD, banyak para Dokter dan suster menyapanya. Namun, Kean hanya membalas sapaan itu dengan anggukan kepala.
"Dokter Lean kenapa, ya? Biasanya ramah, ini kok terlihat sedikit cuek?" bisik seorang perawat.
Sesampainya di ruangan UGD, dia melihat punggung seorang pria yang sangat dia kenal siapa itu.
"Kak," panggil Lean.
Kean menoleh saat mendengar ada yang memanggilnya.
" Lean."
"Dinda kenapa?" tanya Lean saat melihat Dinda terbaring lemah di atas ranjang pasien.
"Pingsan karena Shock dan kekurangan energi."
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya...