My Best Partner

My Best Partner
Bab 35


__ADS_3

Pagi telah menyapa, lengkingan suara panggilan dari tante Mirna terdengar mengisi rumah sampai membuat penghuni kos yang lainnya tutup telinga.


"Adinda bangun! Kamu nggak kerja apa? Jam segini belum bangun juga," teriak tante Mirna.


"Dinda belum bangun juga, Tan?" tanya Ratna.


"Belum, kalau sudah buat apa tante teriak-teriak seperti ini!" sungut tante Mirna.


Setelah merasa capek, akhirnya Dinda bangun dan membuka pintu kamarnya sambil menguap.


"Tante kenapa sih pagi-pagi sudah teriak-teriak," ujar Dinda.


"Pagi kamu bilang? Coba lihat Itu sudah jam berapa!" tunjuk mirna ke arah jam Dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


Dinda segera menoleh ke arah jam dinding, ketika melihat jarum jam sudah berada di angka 8, bola matanya terbuka lebar.


"Astaga!" Tanpa berpikir panjang, Dinda langsung mengambil handuknya dan lari menuju kamar mandi secepat kilat.


Tante Mirna hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat seorang gadis seperti Dinda. Kalau tidur di banguninnya susah sekali kayak kebo! Apakah dia tidur atau mati suri? Suara lengkingannya saja tidak bisa membangunkan gadis itu dengan mudah.


Tante Mirna menghela nafas panjang, kalau terus begini bisa-bisa tensi darahnya naik terus.


" Dulu ibunya ngidam apa sih, bisa punya anak seperti itu!" gumam Tante Mirna seraya pergi menuju ruang tamu untuk bersantai.


Dinda mandi dan bersiap-siap secepat kilat. Dia pamit pergi ke kantor tanpa sarapan dulu. Dinda segera memesan ojek online, biar lebih cepat.


...☘️☘️☘️...


Di kantor PT Fabio grup, terlihat Kean berjalan menuju ruangannya dengan membawa dua paper bag. Para karyawan yang berpapasan dengannya, saling menyapa.


Sesampainya di lantai khusus kantor Direktur, Kean hanya di sambut oleh Aksa.


"Selamat pagi bos," sapa Aksa.


"Pagi, Dinda mana?"


"Belum datang bos, sepertinya telat lagi."


Kean melihat jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah waktunya jam kantor masuk, jadi bukan Kean yang terlalu pagi, tapi Dinda memang datang terlambat lagi.


Kean memberikan Paper bag yang berisikan satu kota makanan kepasa Aksa.


"Apa ini bos?" tanya Aksa ketika menerima paper bag dari Kean.


"Camilan dari Mama."


"Oh, terima kasih bos."


"Nanti kalau Dinda datang, suruh langsung ke ruangan saya!" titah Kean.


"Baik boss."


Setelah itu, Kean masuk ke dalam ruangannya dengan membawa paper bag yang berisikan bekal camilan untuknya dan Dinda.


30 menit kemudian, Dinda baru sampai ke kantor karena jalanan kota Jakarta begitu macet di jam masuk kantor. Dinda berjalan dengan sedikit berlari karena dia sadar kalau sudah telat lama.

__ADS_1


Dalam pikirannya pasti pak Kean marah dan akan memberikan hukuman yang begitu berat kepadanya atau bahkan mengurangi poin lagi.


Bunyi lift terbuka, menandakan bahwa dia telah sampai di lantai khusus kantor Direktur. Dinda berjalan dengan sedikit ngos-ngosan.


"Kamu terlambat lagi!" ujar Aksa saat melihat Dinda datang.


"Maaf pak Aksa."


Aksa hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Dinda datang terlambat lagi. Dia seakan punya banyak nyawa yang tak takut mendapatkan hukuman dari Pak Kean. Aksa tahu betul dengan boss nya yang sangat disiplin itu.


"Langsung di suruh masuk ke ruangan bos," ujar Aksa.


Mata Dinda terbelalak saat mendengar Aksa menyuruhnya langsung masuk ke ruangan bos.


Mati Gue! Hukuman apa lagi ini! Batinnya.


Dinda menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan. Dengan penuh keberanian, Dinda mengetuk pintu ruangan Kean.


"Masuk," mendengar suara bariton itu menyuruhnya masuk, membuat detak jantung Dinda berdetak tak beraturan.


"Selamat pagi, Bos," sapa Dinda takut-takut saat membuka pintu ruangan Kean.


Mendengar suara Dinda, membuat Kean mendongakkan kepala.


"Masuk, kenapa masih ada di situ!" ujar Kean.


Melihat wajah datar Kean, membuat kaki Dinda seakan sulit untuk berjalan. Diamnya pria itu benar-benar sungguh menakutkan. Dinda berjalan perlahan masuk ke dalam ruangan Kean.


Sesampainya di depan meja Kean, Dinda memainkan tangannya yang begitu gugup.


"Hmm, berapa menit?"


"Hampir satu jam," lirih Dinda.


Kean mengerutkan keningnya, lalu melihat jam yang melingkar di tangannya.


Kean menyatukan kedua tangannya di atas meja, lalu menatap ke arah Dinda. Jika di luar Dinda memang wanita yang dia suka, tapi saat di kantor Dinda tetaplah bawahannya, dan Kean harus bersikap profesional.


Saat Kean melihat sebuah cincin telah melingkar di jari manis Dinda, membuat Kean tersenyum tipis. Dan saat melihat raut wajah Dinda terlihat sangat ketakutan, membuat Kean semakin ingin tertawa. Jujur, saat ini Kean sulit untuk menahan tidak tertawa.


"Apa kamu tahu kenapa saya memanggilmu tunangan Ku?" ujar Kean.


Dinda mengerutkan keningnya, saat Kean memanggilnya dengan panggilan tunangan.


"Maksud bapak apa memanggil saya seperti itu? Saya kan bukan tunangan bapak!" elak Dinda.


Kean tersenyum saat mendengar Dinda mengelak kalau dia adalah tunangannya. Jika dulu senyuman itu memabukkan, kini senyuman Kean justru membuat Dinda merasa bingung.


" Kamu masih belum mengakuinya? Coba lihat jari manis tangan kiri mu!"


Dinda langsung melihat ke jari manisnya, seketika bola matanya melotot saat melihat cincin itu masih melingkar di jari manisnya.


Dasar Dinda goblok! Pantes saja pria itu senyum-senyum, ternyata karena dia menganggap bahwa lamarannya telah di terima.


" Oh, soal ini saya bisa jelaskan. Saya memakainya bukan karena sudah menerima lamaran bapak, tapi___"

__ADS_1


"Tapi apa?"


"Salah pakai!" dusta Dinda. Lalu dia mencoba untuk melepaskan cincin itu.


"Stop!"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kean saat melihat Dinda ingin melepaskan cincin itu.


"Mau melepas cincinnya lah!"


Kean bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Dinda, membuat dia memundurkan tubuhnya.


"Cincin yang sudah terpasang, tidak boleh di lepas!" ujar Kean dengan tatapan tajam. Dia merasa kesal saat melihat Dinda ingin melepasnya.


"Tapi ___"


"Tidak ada tapi tapi! Dan sekarang kamu sudah resmi menjadi tunangan Ku! Jadi, jangan pernah lepas cincin itu lagi."


Kean berbalik, dan berjalan menjauhi Dinda. Berdekatan dengan Dinda terlalu lama akan sangat bahaya bagi Kean. Apalagi sekarang mereka sudah mau melangkah ke jenjang pernikahan, para setan-setan pasti akan lebih gencar lagi menggoda.


Kean tidak mau sesuatu yang tidak di inginkan terjadi sebelum kalimat ijab qobul di ucapkan. Kean ingin menyentuh Dinda saat sudah halal.


"Oh ya, kamu sudah sarapan belum?" tanya Kean.


Dinda menggeleng.


"Ini ada makanan dari Mama, kamu makan di sini. Habis itu baru keluar kerjakan hukumanmu!" Kean. Memberikan sebuah tas bekal berwarna pink ke Dinda.


"Anda masih mau menghukum saya?" Dinda memasang wajah memelas.


Karena sudah terlanjur ketahuan kalau dia menerima lamaran kean. Jadi, sekalian saja manfaatkan posisinya untuk meringankan hukuman.


"Dinda, kamu memang tunangan saya, tapi pekerjaan tetaplah pekerjaan. Saya harus profesional, tapi tidak akan sebanyak kalau kamu bukan tunangan saya."


"Seriusan?" tanya Dinda memastikan. Meskipun tetap mendapatkan hukuman, setidaknya masih ada keringanan.


Kean mengangguk.


"Makan saja dulu."


Dinda mengangguk, dan berjalan duduk di sofa. Perlahan dia membuka tas bekal itu. Ternyata ada sebuah surat.


Dear Dinda.


Sebelumnya Tante minta maaf kalau terkesan seperti ikut campur. Tante hanya berharap kamu bisa menerima lamaran Kean, kalaupun tidak juga tidak apa-apa. Tante tahu seperti apa sikap anak itu saat melamar mu. Jadi, keputusan ada di tanganmu sayang. Tapi, percayalah kalau dia itu serius dan bersungguh-sungguh. Hanya saja, anak itu memang tidak bisa romantis atau mengekspresikan rasa cintanya.


Have a nice day Din. Semoga suka sama makanan yang tante buatkan, ya.


Dinda tersenyum setelah membaca surat dari Dira. Lalu menatap ke arah Kean yang sudah sibuk dengan pekerjaannya.


Semoga kamu memang bisa menjadi labuhan cintaku, Pria kulkas dua pintu! .


Tiba-tiba ada pesan masuk yang membuat Kean segera mengajak Dinda pergi.


...****************...


Ehm... Sudah ada yang mulai nih...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya dengan like, komen, vote, dan hadiahnya ya....


__ADS_2