
Saat memasuki ruangan apartemen itu, Nala benar-benar di buat takjub dengan dekorasinya, lalu menatap ke arah suaminya.
" Selamat datang di rumah kita, Bee," ucap Lean lembut.
" Jadi, ini tempat tinggal kita?" tanya Nala dan di jawab anggukan kepala oleh Lean.
" Iya, apakah kamu suka? Meskipun tidak sebesar___" ucapan Lean terhenti saat Nala tiba-tiba memeluknya.
" Aku sangat menyukainya," ucap Nala yang semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami.
Lean tersenyum, lalu mengecup puncak kepala Nala. Dia merasa lega saat mendengar Nala mengatakan bahwa dia menyukainya.
Dekorasi apartemen ini memang di buat sesuai keinginan Nala. Dari awal menikah, Lean memang sudah bertanya-tanya pada istri kecilnya itu.
Lean mengurai pelukannya, lalu menangkup wajah sang istri.
" Untuk saat ini, kita tinggal di apartemen ini dulu ya ... Soalnya rumah impian kamu masih proses di bangun. Jadi, belum bisa di tinggali," ucap Lean lembut.
" Rumah impian?" tanya Nala yang sedikit terkejut saat mendengar suaminya itu membicarakan soal rumah impian.
__ADS_1
Lean mengangguk, dia memang sedang dalam proses membangun rumah impian yang di inginkan oleh Nala. Di karenakan desainnya yang tidak biasa, membuat Lean harus membangun dari nol. Tidak bisa membeli rumah yang sudah jadi.
Nala kembali memeluk suaminya, air matanya kini sudah jatuh menetes. Dia benar-benar terharu saat melihat suaminya selalu mencoba mewujudkan keinginannya. Awalnya, Nala mengira bahwa Lean tidak akan mewujudkannya, mengingat desainnya yang tidak umum. Namun, siapa sangka bahwa suaminya itu, tetap membuatkannya rumah impiannya.
" Terimakasih, dan Kakak benar-benar penuh dengan kejutan!" ucap Nala yang kini sudah menatap suaminya.
Dia benar-benar tidak mengira bahwa suaminya ini sangat handal dalam memberikan kejutan padanya. Pasalnya, Nala tidak pernah mengetahui bahwa Lean sudah menyiapkan ini semua.
Lean tersenyum, lalu mengusap pipi Nala yang masih basah. " Seharusnya kamu itu bahagia, bukan menangis seperti ini! Kakak hanya berusaha menjadi suami yang baik. Kamu dari kecil selalu di jaga, dan di muliakan seperti berlian oleh Papi. Jadi kakak akan berusaha agar kamu selalu bahagia saat menikah dengan Kakak. "
" Nala selalu bahagia, dan merasa menjadi wanita yang paling beruntung bisa memiliki suami seperti Kakak. I love you suamiku, " ucapnya dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca.
" I love you too, Istri kecilku," balas Lean dengan mengecup lembut kening istrinya.
Karena belum di tinggali sama sekali, semuanya masih tertata sangat rapi. Ketika memasuki kamar, Nala tersenyum saat melihat ada sebuah papan foto polaroid yang terdapat foto-foto kebersamaan mereka.
Nala menghampiri papan itu, dan memperhatikan foto-foto yang tertempel di sana. Doa tidak pernah mengira bahwa Lean akan mencetak foto-fot mereka berdua. Bahkan, ada foto mereka saat masih kecil.
Lean memeluk istrinya dari belakang. " Bagaimana? Apa seperti ini kan yang kamu inginkan?" tanya Lean dan di angguki oleh Nala.
__ADS_1
" Kok Kakak masih punya foto kita saat masih kecil?" tanya Nala curiga.
Lean tertawa. " Tentu saja punya!" tukasnya dengan sombongnya.
Andai Nala tahu bahwa Lean sampai mencari semua album foto yang ada di rumahnya, mungkin dia akan tertawa.
Nala membalikkan tubuhnya, lalu menatap Lean penuh curiga. " Apa jangan-jangan ___"
" Jangan-jangan apa?" potong Lean.
" Kakak udah suka sama aku sejak kecil?" tebak Nala.
Lean tersenyum saat melihat istrinya ini sangat percaya diri sekali.
" Nggak usah ngarang! Mana ada cerita seperti itu," elak Lean yang membuat Nala cemberut dengan menyilang kan kedua tangannya di depan dada.
"Nggak usah berekspresi seperti itu, mau Kakak terkam kamu?" goda Lean dengan mengerlingkan mata genit.
" Ish, kebiasaan!" dengus Nala dengan memalingkan wajah.
__ADS_1
Di mata Lean, melihat Nala yang memanyunkan bibirnya terlihat sangat menggemaskan dan menggoda. Membuat dia ingin kembali melahap bibir yang sudah menjadi candunya.
...****************...