My Best Partner

My Best Partner
Bab 145


__ADS_3

Di sebuah ruangan, terlihat meja makan yang sudah di hias begitu romantis dengan berbagai menu makanan yang enak-enak. Hari ini, Dinda akan menunjukkan skill memasaknya selama beberapa bulan berguru pada ibu mertuanya, sekaligus ingin memberikan surprise pada suaminya.


Melihat tidak ada tanda-tanda bahwa suaminya datang, membuat Dinda gusar dan mencoba menelpon.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Kean mengangkat panggilannya.


" Halo, Assalamualaikum, Bang." salam Dinda pada seseorang di ujung telepon.


" Waalaikumsalam. Ada apa Nda?" tanya Kean sembari membaca dokumen-dokumen penting.


"Abang udah sampai mana? Kok belum pulang-pulang juga sampai sekarang? " tanya Dinda yang sudah menunggu kedatangan Kean sejak tadi. Padahal, jarak antara kantor dan apartemen tidak terlalu jauh.


Kean menepuk jidatnya. "Astagfirullah hal adzim Nda, Maaf Abang lupa kalau ada janji makan malam sama kamu. Soalnya pekerjaan Abang masih begitu banyak. Jadi___"


" Lebih penting pekerjaan apa istri?" potong Dinda yang mulai kesal karena Kean melupakan janjinya gara-gara pekerjaan.

__ADS_1


" Bukan seperti itu Nda ... Kamu penting, tapi pekerjaan ini juga penting. Jadi, sabar ya, setelah menyelesaikan pekerjaan ini, Abang akan segera pulang." bujuk Kean.


" Oh, ternyata pekerjaan lebih penting. Yasudah, kalau begitu selamat bekerja, sekalian saja lupa kalau punya istri di rumah !" Dinda segera mematikan ponselnya secara sepihak, emosinya benar-benar memuncak.


Kecewa, sedih, marah semua bercampur menjadi satu.


Dia tidak habis pikir kenapa Kean bisa melupakan janjinya. Padahal, sebelumnya Kean sendiri yang mengatakan bahwa dia pulang cepat. Makanya Dinda segera memasak dan menyiapkan dinner romantis ini. Andai Kean mengatakan bahwa dia lembur, mungkin Dinda juga tidak akan marah seperti ini. Di beri harapan palsu itu sungguh menyakitkan.


"Nda ... Halo sayang ... Jangan___ marah," lirih Kean saat Dinda sudah mematikan ponselnya.


Kean mencoba menghubungi nomor Dinda, namun tidak di angkat. Jika seperti ini, pasti dia sudah sangat marah. Kean mematikan leptopnya, dan menata dokumen-dokumen yang masih berantakan. Sepertinya lebih baik ia membawa pekerjaannya pulang, nanti bisa di lanjutkan ketika Dinda sudah tidur.


Selesai mengemasi dokumen-dokumen pentingnya, Kean segera berjalan keluar menuju tepat parkiran.


***

__ADS_1


Di karenakan moodnya sedang tidak baik, membuat Dinda jadi tidak berselera makan dan bersemangat lagi untuk memberikan kejutan. Dinda pergi begitu saja masuk ke dalam kamar, tak lupa pula ia kunci pintunya agar Kean tidak bisa masuk. Saat ini, Dinda sedang tidak ingin bertemu dengan Kean.


Tak berselang lama, terdengar suara pintu terbuka serta ucapan salam. Membuat Dinda segera menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut.


Saat melihat meja makan sudah ditata sangat rapi dengan berbagai hidangan serta terhias lilin-lilin, membuat Kean semakin merasa bersalah.


Pantes saja Dinda marah, ternyata dia sudah menyiapkan makan malam yang begitu romantis. Bahkan, dia memasak semua hidangannya sendiri. Sungguh aku adalah suami yang dzalim jika seperti ini. Batin Lean seraya terus menatap meja makan.


Suami bisa dikatakan dzalim memang banyak konteks, dan yang di maksud Kean di sini adalah dia sudah tidak memenuhi hak istrinya untuk bahagia. Padahal, sebenarnya dia mampu memenuhinya, namun dia lalai sampai melupakannya.


Ketika Kean ingin beranjak pergi untung menemui Dinda, tiba-tiba ada sesuatu yang mencuri perhatiannya. Sebuah kotak yang terbungkus sangat cantik.


"Apakah Dinda menyiapkan sebuah kado, tapi untuk apa?" Kean bermonolog sembari mengingat-ingat ada apa dengan hari ini. Namun, Kean tidak mengingat apapun tentang hari ini seakan bukan hari spesial, tapi jika bukan hari spesial kenapa ada kado? Karena penasaran, Kean memutuskan untuk mengambil kotak itu dan membukanya.


Sepasang bola mata abu itu membulat sempurna tatkala melihat apa isi dari kotak itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2