
Lean menghampiri istrinya yang sudah duduk di ranjang dengan posisi yang membuat hormon adrenalinnya meningkat.
" Kamu sedang menggodaku sayang?" tanya Lean yang kini sudah menyangga tubuhnya dengan tangannya agar tak menindih sang istri.
Nala melingkarkan tangannya ke leher kokoh suaminya. Lalu, dalam sekejap ia sudah membalik posisinya yang berada di atas tubuh Lean.
" Aku tidak menggoda, hanya ingin melayani suamiku saja," bisik Nala dengan nada sensual di dekat telinga Lean. Membuat sekujur tubuh Lean seperti tersengat aliran listrik.
" Dengan senang hati," balas Lean yang tak kalah sensual.
Entah siapa yang memulai dulu, kini pasangan suami istri itu sudah saling perang lidah. Perlahan Nala mulai menelusuri tubuh suaminya seperti yang di lakukan Lean padanya. Nala sudah seperti seorang murid yang sedang mempraktekkan apa yang telah di ajarkan oleh sang guru atau Lean.
Setiap sentuhan yang berikan Nala, membuat Lean meremang tak karuan.
"Bie ... Biarkan aku yang mengambil alih. Aku tak kuat," ucap Lean dengan mata yang sudah merem melek akibat menikmati sentuhan dari istrinya.
" No!" Nala meletakkan jari telunjuknya di bibir sang suami.
__ADS_1
" Untuk kali ini, biarkan aku yang memandu permainan. Kakak cukup menikmatinya saja, " ucap Nala yang tak mau kalah.
Terpaksa, Lean mengikuti keinginan istrinya itu. Kali ini, Nala benar-benar bersikap sangat agresif dari biasanya. Setelah pelepasan pertama, gantian Lean yang memandu permainan. Malam ini, mereka berdua benar-benar mengejar kenikmatan yang sudah terpendam sejak lama.
Selama menikah, Lean memang lebih sering menahan has*ratnya yang belum tersalurkan sepenuhnya. Karena Ia selalu berpikir dua kali jika ingin bermain dengan waktu yang lama atau sampai beronde-ronde. Takutnya nanti Nala akan kelelahan dan tidak bisa konsentrasi dengan sekolahnya.
Tapi, sekarang mereka sama-sama sedang free. Lean tidak bekerja dan Nala juga sudah tidak sekolah. Jadi, biarkan malam ini mereka menuntaskan semua ha*srat yang sudah terpendam itu.
Gaspoll terus ya Le 🤭
Waktu terus berjalan, pada akhirnya peluh keringat sudah membasahi tubuh polos mereka berdua. Nala benar-benar kelelahan sampai matanya sudah terasa lengket sekali. Melihat istrinya yang sudah tak sanggup membuka mata. Membuat Lean menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
" Aroma tubuh Suamiku benar-benar menenagkan dan terasa hangat, " racau Nala yang masih memejamkan matanya.
Lean tersenyum mendengar racauan dari istrinya itu.
" Cepat dewasa ya, Bee. Supaya bibit kecebongku tak terbuang sia-sia lagi. Aku jadi pengen memiliki anak-anak yang sangat lucu dan mirip seperti dirimu. I love you, dan terima kasih karena sudah melengkapi hidupku," ucap lean sebelum ikut mengarungi alam mimpi.
__ADS_1
...☘️☘️☘️...
Akhirnya, pagi menyapa. Hari ini, mereka masih berada di kamar hotel saja karena tubuh Nala masih sangat lelah dan bagian intinya juga terasa perih akibat pergulatan panas mereka semalam yang tak ada habis-habisnya.
" Kamu mau pesan makanan lagi, Bee?" tawar Lean.
" Apakah boleh?" tanya Nala sembari terus mengunyah makanan tanpa henti. Sepertinya dia sedang memulihkan energi dalam tubuhnya yang telah banyak terbuang.
" Tentu saja, boleh! Kamu mau makan apa saja bilang sama kakak," ucap Lean.
" Apakah uang Kakak masih banyak?"tanya Nala dengan polosnya. Pasalnya, harga makanan di belanda sangatlah mahal, dan mereka sudah memesan begitu banyak makanan sejak pagi. Apalagi, selama menikah Nala tahu sendiri bahwa Lean begitu banyak mengeluarkan uang demi mewujudkan impian dan keinginanannya.
" Sepertinya masih, " ucap Lean dengan wajah seperti tak yakin.
Nala memperhatikan suaminya." Kakak tidak bohong, kan? Kalau uang Kakak sudah habis, bisa pakai uangku! "tukas Nala dengan wajah serius, membuat Lean tergelak.
Lean meletakkan telapak tangannya di kepala sang istri." Masalah uang, kamu tidak perlu memikirkannya. Karena itu adalah kewajiban dan tanggung jawab Kakak, kalaupun kamu punya uang simpan untuk dirimu sendiri."
__ADS_1
"Di dalam uang Kakak terdapat hakmu, tapi uangmu kakak tidak berhak sama sekali. Setelah menikah, membahagiakan istri itu adalah ladang rezeki bagi suami. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa Kakak akan bangkrut jika memenuhi semua keinginanmu, tapi sebaliknya. Rezeki Kakak akan bertambah banyak. " jelas Lean.
...****************...