
" Abang, ini gelang milik siapa?" tanya Dinda seraya memperlihatkan gelang yang dia pegang pada Kean yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Kean terkejut, bola matanya membulat sempurna ketika melihat Dinda menemukan gelang yang sudah ia simpan. Kean segera berjalan menghampiri Dinda, dan meraih gelang itu.
" Bukan gelang siapa-siapa!" tukas Kean dingin.
Dinda membalikkan tubuh Kean untuk menghadapnya. " Jawab Dinda dengan jujur, gelang siapa itu?" ucap Dinda penuh dengan penegasan.
Melihat dari gerak gerik Kean, sepertinya itu bukanlah gelang miliknya. Lalu, punya siapa? Apakah seseorang dari masa lalu Kean?
Tiba-tiba dada Dinda terasa sesak ketika memikirkan masa lalu. Jika benar, berarti Kean telah berbohong jika dirinya adalah wanita pertama yang membuat Kean jatuh cinta.
" Sudahlah, lupakan saja! Ini bukanlah sesuatu yang penting." Kean tidak ingin membuat Dinda cemburu atau salah paham jika dia tahu gelang siapa itu.
" Oh ya? Jika bukan sesuatu yang penting, kenapa masih di simpan? Kenapa tidak di buang saja!" ketus Dinda dengan mata yang sudah memerah.
" Din, kamu tidak boleh menanyakan sesuatu yang sudah menjadi masa lalu, dan abang tidak memiliki kewajiban untuk menjawabnya karena itu hanya masa laluku. "
Deg
Jantung Dinda seakan berhenti berdetak sebentar ketika Kean mengatakan bahwa itu adalah masa lalunya. Jadi benar, bahwa gelang itu ada kaitannya dengan masa lalu Kean.
Dinda tersenyum kecut." Jadi, benar bahwa itu adalah gelang dari masa lalu abang? Bukankah abang sendiri yang mengatakan bahwa kita harus saling jujur dan transparan, lalu apa sekarang? Abang sendiri yang tidak jujur dan menutupi sesuatu dariku! Oke, fine." Dinda berjalan pergi ingin keluar dari kamar, namun Kean segera memeluknya dari belakang.
Sebenarnya Kean juga tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari Dinda, tapi cerita ini sudah cukup lama kejadiannya. Ini bukan cerita tentang kekasih, atau cinta masa lalu, melainkan gadis penolong yang selalu dia cari. Namun, sampai saat ini dia tak kunjung bertemu lagi dengan gadis itu.
" Lepasin Bang!" pinta Dinda.
" Jangan marah, ini bukan sesuatu yang seperti kamu pikirkan."
__ADS_1
" Memangnya abang tahu, apa yang sedang aku pikirkan?"
Kean terdiam, dia memang tidak tahu pasti apa yang di pikirkan Dinda, tetapi tatkala melihat raut wajah Dinda yang marah. Kean dapat memastikan itu bukanlah sesuatu yang baik. Karena wanita itu selalu mendahulukan perasaannya dari pada logika.
" Kenapa diam? Abang tidak tahu, kan? Jadi, nggak usah sok bisa membaca pikiran orang deh! Sudah, lepaskan! Aku ingin keluar mencari udara segar karena di kamar penat melihat orang yang tidak mau jujur!" sindir Dinda dengan nada penuh penekanan. Lalu dia mencoba melepaskan pelukan Kean, namun Kean justru mengeratkan pelukannya.
" Bang lepasin ... Sakit! "lirih Dinda karena Kean memeluknya sangat erat.
Kean segera melepaskan pelukannya dan mengecek tubuh Dinda, lengannya memerah. Sepertinya benar kalau Kean terlalu erat memeluknya, gurat kekhawatiran tercetak jelas di wajah pria tampan itu tatkala melihat istrinya kesakitan karenanya. Kean mengusap tangan Dinda guna menetralkan rasa sakitnya.
" Maafin abang, ya," lirih Kean dengan wajah menunduk menatap lengan Dinda yang memerah karena ulahnya.
" Mangkanya jangan kuat-kuat kalau meluk! Untung aku tidak jadi rempeyek!" sarkas Dinda.
" Kenapa bisa jadi rempeyek?" tanya Kean tak mengerti.
" Ya kan di peluk sangat erat sampai tipis kayak rempeyek!"
" Abang sakit ...," rengek Dinda sambil mengusap pipinya yang di cubit Kean. Padahal Kean hanya mencubit pelan, tapi Dinda sudah menggerutu kesal.
Kean mengajak Dinda untuk duduk di sofa agar dia lebih rileks dan tidak marah-marah. Entah kenapa akhir-akhir ini Dinda mudah sekali emosi. Setelah memastikan Dinda duduk nyaman di sofa, Kean menggenggam tangan istrinya.
" Abang akan cerita, tapi dengan satu syarat, mau nggak?" tawar Kean. Dia berharap Dinda tidak akan marah ataupun cemburu, toh kejadian itu sudah sangat lama.
" Kalau nggak niat mau cerita yasudah gapapa, gak usah pakai syarat-syarat segala!" gerutu Dinda. Lalu melepaskan tangannya dari genggaman Kean dan membuang muka dengan melipat tangan di depan dada.
Mode ngambek sudah kembali lagi. Kean hanya bisa menghembuskan nafas panjang, ketika melihat istrinya ini yang mudah sekali marah dan sensitif.
" Nda, hadap ke abang Dong. Apakah jendelanya lebih indah di pandang daripada wajah tampan suamimu ini?" bujuk Kean seraya ingin membalikkan tubuh Dinda untuk menghadap ke dirinya. Namun, Dinda terus menolak. Terpaksa Kean berpindah duduk di depan Dinda agar dia melihatnya. Ketika Dinda ingin berbalik lagi, Kean sudah lebih dulu menahannya.
__ADS_1
" Jangan suka marah dong, nggak baik!"
Dinda hanya diam saja, dan mengabaikannya.
" Dengerin baik-baik ya ... abang akan cerita, tapi kamu jangan motong, dan marah lagi setelah abang cerita, oke!."
Dinda masih diam tanpa menjawab, lalu Kean mengambil nafas dalam-dalam, dan membuangnya perlahan.
" Tinggal cerita aja, pakai ritual lama banget! "sungut Dinda.
Kean tersenyum melihat istrinya yang diam-diam ternyata sedang menunggu penjelasan darinya. Begitulah wanita lain di mulut, lain di hati dan pikiran.
" Sabar dong, sayang ... "
" Lima tahun yang lalu, abang pernah mengalami kecelakaan. Saat itu, abang dalam kondisi sedih, kalut, kecewa, bersalah, semuanya menjadi satu. Pada saat itu, emosi abang sangat labil, belum bisa mengontrol seperti saat ini. Ketika mengetahui Oma meninggal dunia, abang pergi menggunakan motor dengan kecepatan tinggi. Abang pergi ingin menenangkan diri, dan ternyata tenangnya dengan abang mengalami kecelakaan sampai sempat koma beberapa bulan. "
Melihat Kean bercerita dengan menahan tangis, membuat Dinda ikut sedih.
Bukankah hanya untuk menceritakan tentang gelang itu? Kenapa jadi kisah sedih dan menyakitkan begini? Batin Dinda yang masih mendengarkan cerita Kean.
" Saat kecelakaan itu terjadi, abang sempat melihat seorang gadis kecil yang menolong abang. Saat itu, kesadaran abang tinggal beberapa persen, sehingga tak bisa melihat jelas wajah gadis penolong itu. Yang abang ingat, dia sangat cemas dan berteriak meminta tolong. Dia selalu berbicara agar kesadaran abang tidak hilang, dan ucapan itu terus abang ingat. "
Kakak ganteng, kakak harus bertahan, jangan tidur dulu atau meninggal di sini. Oh ya, aku punya gelang keberuntungan, ini ibuku cari agar aku tidak sial terus. Tapi, sepertinya kakak lebih membutuhkannya sekarang. Jadi, aku akan memberikan gelang ini agar kakak bisa selamat.
"Setelah itu, abang sudah tidak bisa ingat apapun lagi. Selepas sadar dari koma, gadis itu tidak ada hanya tersisa gelang ini saja di tangan."
Selama bertahun-tahun, Kean mencari gadis itu, tapi tak menemukannya. Bahkan, dia selalu berdoa kepada Allah agar bisa di pertemukan kembali. Dia ingin mengucapkan terimakasih karena sudah menolongnya. Kean memang tidak percaya dengan namanya jimat penolong, karena itu takhayul. Tapi, dia percaya bahwa Allah mendatangkan pertolongan lewat gadis itu.
Mendengar cerita Kean, seakan tidak asing bagi Dinda. Tapi, dimana dia mengetahui cerita itu, dan gelang itu juga seperti ...
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa dukungannya ya... Like, komen, vote dan hadiahnya...