
Kean terus mengatur nafasnya dengan mengucapkan kalimat sholawat agar rasa gugup itu memudar.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya sang penghulu.
"Sepertinya Sudah Pak," jawab Papa Ken mewakili Kean karena dia tahu putranya itu sedang melawan rasa gugupnya.
"Gimana Kak? Sudah siapa, Kan?" ujar papa Ken kepada putra sulungnya itu.
Kean mengangguk.
Setelah itu, Mereka semua masuk ke dalam ruangan tempat Nada di rawat. Di dalam sana, sudah terlihat Nada, Lean, Bambang dan beberapa bodyguard yang siap menjaga Bambang.
Pertama, Penghulu melakukan serah terima perwalian kepada Ayah Dinda. Sesudah itu, barulah beliau yang menggantikan Bambang dalam melakukan Ijab Qabul.
Beberapa detik kemudian, giliran Kean yang sudah mengucapkan kalimat ijab qobul dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi?"
Sah!!!!
Suara sah terdengar menggema di dalam ruangan itu. Kini Kean dan Dinda telah sah menjadi suami istri. Melihat Kean yang kini telah menikah, tanpa terasa air mata papa Ken dan Lean jatuh menetes. Akhirnya papa Ken bisa melepaskan putra sulungnya untuk menikah, sedangkan Lean sekarang saudara kembarnya itu bukanlah pria lajang seperti dulu.
Air mata yang mereka keluarkan, bukanlah air mata kesedihan. Melainkan air mata bahagia karena bisa melihat Kean bisa menikah dengan wanita yang dicintainya, meskipun dalam keadaan dadakan.
Ternyata bukan hanya Papa Ken dan Lean saja yang meneteskan air mata, tapi Kean dan bu Nada juga. Entah kenapa, Kean meneteskan air mata di saat selesai mengucapkan ijab qabul. Mungkin karena kini dia sudah memiliki tanggung jawab baru yang sangat besar. Menikah adalah menyempurnakan separuh agama, sunnah nabi dan juga Ibadah terlama dalam hidup. Jadi, pasti tidak akan mudah untuk menjalaninya, akan ada batu kerikil ataupun badai yanga akan bertiup beriringan.
" Selamat ya Kean, sekarang kamu sudah sah menjadi seorang suami. Jadilah suami yang bisa membimbing istrinya menuju jalan yang di ridhai-Nya," pesan papa Ken saat memeluk Kean.
" In sya Allah," jawab Kean.
" Selamat Kak, semoga pernikahanmu bisa langgeng. Kini kamu bukan lagi pria single, "lirih Lean. Entah kenapa dia tak bisa berkata-kata apa lagi saat melihat saudara kembarnya itu telah menikah. Meskipun sifat mereka bertolak belakang, tapi selama ini mereka selalu kompak dan saling menjaga satu sama lain.
" Jangan nangis, malu sudah gede! Semoga kamu juga bisa segera menyusul bisa menemukan partner terbaikmu (jodoh)."
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Memperlihatkan Dinda yang sudah cantik dengan memakai dress putih dengan hijabnya. Ini adalah pertama kalinya Kean melihat Dinda memakai hijab, dan dia terlihat sangat cantik dan anggun. Dinda masuk di gandeng oleh Mama Dira.
"Ciyee ... yang terpesona dengan kecantikan istrinya," goda Lean ketika melihat Kean tak berkedip sedikitpun saat melihat Dinda datang.
__ADS_1
Meskipun ini hanya akad sederhana dan dadakan, kesakralannya masih terasa. Jantung Dinda berdetak begitu cepat saat dia melangkah menghampiri seorang pria yang kini sudah sah menjadi suaminya secara agama.
Andai saja tidak ada mama Dira yang mendampinginya, mungkin Dinda sudah tak mampu berjalan karena gugup.
Saat Kean ingin menyentuh ubun-ubun Dinda, tangannya terlihat gemetaran. Lalu Kean membaca doa :
...Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma inni as-aluka khaira-ha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa a'udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi. ...
...Artinya : Ya Allah, aku meminta kepada-Mu kebaikan istriku dan kebaikan apa yang dimunculkan pada pernikahan. Dan aku berlindung padamu dari keburukan istriku dan keburukan apa yang ia munculkan pada pernikahan....
Setelah itu, giliran Dinda yang mencium tangan Kean. Lalu mereka semua membaca doa pernikahan bersama sang penghulu. Melihat Dinda kini telah menikah, membuah Nada tersenyum bahagia.
Semoga kamu bisa terus bahagia hidup bersama keluarga barumu yang baik dan penuh cinta itu, Din. Ibu sangat bersyukur kepada Tuhan, karena sudah mendengarkan doa Ibu. Mereka adalah orang-orang yang sangat baik, membuat Ibu ikhlas untuk pergi sekarang. Semoga Devan juga selalu dalamnya lindungan-Nya.
Sesaat seusai doa pernikahan di bacakan, suara bip ... terdengar mengisi ruangan itu. Air mata semuanya langsung jatuh menetes, Dinda langsung berlari memeluk tubuh Nada yang sudah tak bernyawa lagi.
Dira memeluk Ken, air matanya juga sudah tumpah bercucuran. Sebenarnya semua orang sudah menyadari kalau hal ini akan terjadi. Mengingat sebelum acara akad di lakukan, Nada sempat berbicara dengan mama Dira, papa Ken, dan Kean.
Dari perkataan Nada, mereka seakan menyadari bahwa itu adalah amanah atau pesan terakhir darinya. Namun, semua mencoba menampik pemikiran itu.
" Assalamu'alaikum," salam Papa Ken dan Mama Dira kepada bu Nada saat mereka datang.
"Saya Mamanya Kean, maaf kalau baru sempat menjenguk Ibu sekarang," ujar Mama Dira.
"Iya tidak apa-apa, Bu. Maaf kalau saya mendadak meminta Kean dan Dinda menikah sekarang," pungkas bu Nada.
"Tidak apa-apa, Bu. Kami juga minta maaf karena belum sempat datang meminang Dinda secara resmi," ujar Papa Ken.
Nada tersenyum saat melihat keluarga Kean adalah keluarga yang sangat baik dan tidak memandang seseorang dari status sosialnya.
"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih banyak karena kalian masih mau menerima Dinda sebagai menantu. Padahal kalian tahu sendiri kalau Dinda bukanlah dari keluarga kaya, dan___"
Dira langsung mendekati Nada dan memegang tangannya lembut.
"Ibu jangan merendah seperti itu. Kami sangat menyukai Dinda, bahkan Kami bersyukur karena Dinda mau menerima lamaran putra kami yang dinginnya seperti es balok itu," ujar Mama Dira.
" Benar yang di katakan istri saya Bu," timpal Papa Ken.
__ADS_1
Bu Nada tersenyum. "Mana mungkin anak saya bisa menolak pria setampan dan sebaik Nak Kean. Bahkan saya sendiri merasa tidak percaya kalau pria sebaik nak Kean bisa suka sama anak saya yang tak seberapa itu."
"Ibu jangan seperti itu Dinda juga adalah anak yang cantik, baik, dan kami sangat menyukainya."
"Bu, Pak. Saya titip Dinda ya, dia adalah anak yang lahir tanpa kasih sayang dari orang tuanya. Tegur dia jika salah, tapi jangan beri dia kemewahan. Anak itu hanya butuh kasih sayang, karena sejak kecil dia tak pernah mendapatkan hal itu, terutama dari ayahnya. "
" Ibu kenapa jadi berbicara seperti itu? " Mama Dira mulai merasa tidak enak.
" Saya hanya merasa bahwa umur saya sudah tidak lama lagi. Maka dari itu, sebelum ajal saya datang, saya sangat ingin sekali melihat Dinda menikah dengan pria baik agar kelak dia tidak akan mengalami hal yang sama seperti saya. "
" Ibu tenang saja, kami akan menjaga dan menyayangi Dinda seperti anak sendiri. Tapi, Ibu juga jangan putus asa. Saya berharap Ibu bisa sembuh dan berkumpul bersama kami, " tutur papa Ken dan di angguki oleh mama Dira.
" Terimakasih, "
Di saat Nada merasa bahwa Tuhan tidak adil karena selalu memberikan cobaan yang begitu berat dalam hidupnya. Kini, Nada baru merasakan bahwa ternyata Tuhan masih berbaik hati mendengarkan dan mengabulkan doanya. Sebelum dia pergi, Tuhan sudah mengirimkan keluarga yang sangat baik untuk Dinda. Keluarga yang kelak akan menggantikannya menjaga putrinya itu.
"Ibu ..., jangan pergi ...," seru Dinda yang masih memeluk tubuh nada.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun,"
Para muslim yang berada di dalam ruangan itu serentak mengucapkan doa istirja ketika mengetahui bahwa Nada telah pulang ke pangkuan-Nya.
Kean membawa Dinda ke dalam pelukannya, ketika para pegawai medis mulai melakukan pekerjaannya untuk melepaskan alat-alat bantu bantu kehidupan pada tubuh Nada.
Karena terlalu shock, Dinda kembali jatuh pingsan, membuat Kean, Papa Ken, Mama Dira, dan Lean terlihat sangat panik.
"Din, bangun," Kean menepuk pipi Dinda perlahan.
"Bawa ke ruangan sebelah saja Kean," saran Mama Dira.
Kean mendengarkan ucapan Mamanya dan membawa Dinda ke ruangan sebelah yang sudah di sewa papa Ken.
...****************...
Jika ada yang tanya kenapa Bu Nada di buat mati sekarang thor? Jawabannya adalah... Ada di bab berikutnya
Jadi jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya...
__ADS_1
Novel ini akan up setiap hari jam 7 pagi dan 2 siang.