My Best Partner

My Best Partner
Bab 72


__ADS_3

"Kenapa tidak mungkin? Nala kan bukan adik kandung kak Lean, lagian kita sah dan boleh saja kok untuk pacaran ataupun menikah. Karena kita tidak ada hubungan darah sama sekali! " tukas Nala.


Entah dapat keberanian dari mana Nala bisa mengeluarkan ucapan seperti itu.


Lean benar-benar di buat bungkam karena apa yang di ucapakan Nala benar adanya. Dia tak pernah mengira bahwa Nala punya sisi tegas seperti ini. Lean mendekatkan wajahnya untuk menatap mata Nala, dia ingin mencari suatu kebenaran di sana.


" Apa kamu mencintai kakak?"


Nala terdiam, jantungnya berdetak semakin cepat saat Lean menatapnya seperti ini. Nala bingung harus menjawab apa karena dia merasa belum mencintai Lean, jangankan cinta suka saja entahlah.


Lean mengangkat sudut bibirnya, lalu menjauhkan wajahnya agar tak terlalu lama berdekatan dengan Nala. Lean sudah tahu jawaban dari pertanyaannya tanpa Nala berkata apapun.


" Nala ... Nala ... Kamu saja tidak mencintai kakak, tapi kenapa bisa mengatakan hal seperti tadi? Kamu tahu, pacaran dan pernikahan itu jauh berbeda. Saat ini, umurmu masih 16 tahun belum paham apa arti sebuah pernikahan yang sebenarnya. Jadi, jangan pernah berbicara seperti tadi, apalagi di depan pria dewasa seperti kakak. Karena pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa di permainkan seperti pacaran. "


" Apakah kamu mau kakak di anggap pedofil karena menjalin hubungan dengan gadis di bawah umur? "


Nala masih terdiam, nyalinya tiba-tiba menciut ketika mendengar Lean berkata dengan wajah serius.


Untungnya, pintu mobil tidak terkunci sehingga Anne bisa segera masuk dan duduk di kursi penumpang. Melihat Anne tiba-tiba masuk, membuat Lean sedikit terkejut.


" Anne, kenapa kamu bisa ada di sini? "


" Kenapa? Kaget melihat adik kakak yang cantik ini bisa ada di sini? Kemana saja kakak dua hari ini, huh? Kenapa tidak pulang ke rumah dan berbohong dengan mengatakan ada pekerjaan, padahal tidak!" tanpa basa basi Anne langsung melontarkan berbagai pertanyaan ke Lean. Sifat Anne memang jauh berbeda jika dibandingkan Nala yang pendiam.


Anne bahkan berani membentak atau memarahi kakaknya sendiri jika salah. Dia tak peduli dengan usianya yang jauh lebih muda, asalkan di memang benar.


" Kenapa kamu sudah seperti emak-emak yang marah-marah karena suaminya nggak pulang?" sarkas Lean untuk mengalihkan pembicaraan.


" Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh! Cepet jawab!" desak Anne dengan wajah garangnya.



(Oh ya anggap saja Anne pakai hijab ya, soalnya susah cari visual pakai hijab dengan mata bule seperti ini. Kira2 cocok nggak dia jadi visual Anne?)


"Kakak liburan." Lean menjawab seperti itu karena dia memang merasa kepergiannya kemarin adalah liburan untuk menenangkan diri akibat patah hati.

__ADS_1


Anne mendekatkan kepalanya agar bisa menatap mata sang kakak.


" Yakin hanya liburan? Terus kenapa.nggak ajak-ajak?" gadis cantik itu masih terus berusaha untuk membuat kakaknya berkata jujur.


" Ya, pengen sendiri aja. Biar nggak ada pengganggu seperti kamu!"ketus Lean.


Anne sudah melipat tangan di depan dada serta memicingkan matanya.


" Yakin hanya itu saja? "


" Yakinlah, emangnya mau kenapa lagi?"


Anne menghembuskan nafas berat, di karenakan Lean tetap tak mau jujur, terpaksa Anne berpura-pura percaya. Mungkin kakaknya itu sengaja menutupi patah hatinya karena ada Nala di dalam mobil ini. Sedangkan Nala hanya diam ketika melihat perdebatan adik kakak ini.


Setelah diam beberapa detik, kini giliran Lean yang menanyakan kenapa mereka berdua ada di sini.


" Oh ya, sekarang giliran kakak yang mau tanya dengan kalian berdua."


Nala tiba-tiba merasa gugup dan grogi lagi ketika mendengar Lean masih saja ingin bertanya. Padahal, tadi dia sudah merasa cukup lega saat Anne datang di waktu yang tepat sehingga membuatnya tak harus menjawab pertanyaan dari Lean.


" Rencana apa?" tanya Anne sok tak mengerti apa yang di maksud dengan kakaknya itu.


" Datang ke rumah sakit dan membuat Nala mengatakan kalau dia adalah pacar kakak! Apa lelucon kalian itu menyenangkan? "


" Itu bukan lelucon, melainkan kebenaran! " bukan Anne yang menjawab melainkan Nala. Karena apa yang di katakan Nala tadi bukanlah lelucon, dia ingin melaksanakan nazarnya untuk menjadikan Lean sebagai kekasihnya. Apalagi mengetahui bahwa Lean sedang patah hati karena cinta, membuat Nala merasa seperti ingin membantu menyembuhkan luka itu. Karena luka Lean sepertinya jauh lebih dalam darinya.


Lean terkejut mendengar jawaban dari Nala, dia tak mengerti apa yang ada di pikiran dan hati gadis 16 tahun ini. Lean memang bisa membaca mimik wajah dan gestur tubuh. Namun, dia tak bisa membaca isi pikiran dan hati seseorang karena dia tak memiliki ilmu magic.


" Nal, apa kamu paham dengan ucapanmu barusan?"


Nala menoleh ke arah Lean dan menatapnya dengan penuh berani. " Kenapa? Apa karena Nala masih berusia 16 tahun jadi kakak selalu tidak percaya dengan ucapan Nala? Dengar kak, meskipun masih kecil, Nala tahu dan paham betul dengan apa yang Nala ucapkan!" tandas Nala. Kemudian, dia keluar dari mobil Lean.


Nala sudah sangat kesal melihat Lean yang terus meragukannya. Seperti tak ada yang bisa di percayai dari ucapannya hanya karena usianya masih 16 tahun.


Memangnya kenapa jika masih 16 tahun? Apakah suatu kedewasaan dan cinta itu di lihat dari usia? Jika seperti itu, kenapa zaman dahulu usia segitu sudah banyak wanita yang menikah, bahkan mempunyai anak. Benar, Nala memang belum siap menikah karena dia belum lulus sekolah. Tapi, Nala tak pernah punya niatan untuk mempermainkan sebuah pernikahan.

__ADS_1


Anne menatap tajam ke arah Lean, lalu ikut keluar untuk mengejar Nala.


Di dalam mobil, Lean hanya bisa terdiam memikirkan apakah ada perkataannya yang salah sampai membuat Nala langsung keluar dari mobil.


Lean juga bingung, karena kejadian ini terjadi sangat tiba-tiba. Luka di hatinya belum pulih, lalu tiba-tiba ada gadis kecil yang sudah dia anggap menjadi adik mengatakan bahwa dia pacarnya. Tentu saja membuat Lean terkejut, di tambah dia tak melihat ada cinta di mata gadis itu.


Ah....


Lean mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia bingung harus berbuat apa. Haruskah mengejar Nala dan meminta maaf? Atau dia biarkan saja masalah ini, biarkan mereda dengan sendirinya?


...☘️☘️☘️...


" Nal, tunggu!" teriak Anne memanggil Nala.


Nala menghentikan langkahnya ketika melihat Anne berlari mengejarnya.


" Kamu kenapa?" tanya Anne ketika melihat wajah kusut Nala.


" Aku gapapa kok!" jawab Nala dengan tersenyum.


" Kamu yakin gapapa? Atau jangan-jangan kamu sudah mulai cinta ya ... Sama kakak aku. Makanya kamu marah," goda Anne dengan menyenggol pundak Nala.


"Apaan sih, Anne!" elak Nala. " Aku tuh hanya kesal saja sama Kak Lean yang terus meragukan aku karena umur!" ketusnya.


Anne tersenyum. " Bukankah umurmu memang masih kecil?" ledek Anne yang seketika mendapatkan pukulan dari Nala.


Anne mengusap bekas pukulan Nala yang tak keras, lalu melingkarkan tangannya di pundak Nala.


" Sudah, nggak usah di pikirin lagi kak Lean. Nanti akan aku bantu buat rencana yang baru! "


" Nggak ah, aku udah malu dan sakit hati. Lebih baik bayar denda daripada mengejar pria seperti kak Lean demi melaksanakan sebuah nazar!" pungkas Nala dengan bibir yang sedikit manyun.


" Yaelah, jangan cemberut gitu dong! Aku jamin kalau rencana kali ini tidak akan terlihat seperti kamu yang sedang mengejar kak Lean," ujar Anne dengan menautkan satu alisnya. Dia tak mau Nala menyerah hanya sampai di sini.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan kasih hadiah yang banyak ya...


__ADS_2