
Sesampainya di rumah sakit, Nala segera berjalan menuju ruangan Lean. Namun, sang suami tak ada di ruangannya.
" Cari Dokter Lean?" sapa seorang perawat.
" Iya, Dokter Leannya di mana ya?" tanya Nala dengan ramah. Padahal, setahu Nala, seharusnya Lean sudah selesai operasi.
" Oh, sepertinya ada di atap bersama Dokter Leandra," jawab perawat wanita itu. Karena setahunya, Lean masih berada di atap untuk menemani Leandra yang hampir saja bunuh diri beberapa menit yang lalu.
Beberapa menit sebelum Nala datang, di rumah sakit sempat heboh dengan kejadian Leandra yang mencoba bunuh diri dari atap rumah sakit. Untungnya, sebelum Leandra melompat dari atap rumah sakit, banyak orang yang melihatnya dan berteriak histeris.
Saat itu, kebetulan Lean baru keluar dari ruangan operasi. Ketika mendengar berita bahwa ada yang ingin terjun dari atap, dia segera ikut berlari naik ke atap rumah sakit. Awalnya, Lean mengira bahwa itu adalah pasien yang sedang depresi atau apa, tapi ternyata bukan. Melainkan Leandra, teman sekaligus wanita yang pernah di cintai oleh Lean.
" Dokter Leandra?" ulang Nala mencoba memastikan kembali bahwa dia tidak salah dengar.
" Iya, Dokter Leandra," jawab wanita itu.
Tanpa berpikir panjang, Nala segera pergi menuju atap. Langkah kakinya terlihat sangat tergesa-gesa, dada Nala sudah bergemuruh, pikirannya sama sekali tak tenang.
Selama berada di dalam lift, tangan Nala sudah bergetar. Dia terlihat sangat cemas, dan tiba-tiba begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam pikirannya.
__ADS_1
Kenapa suaminya bisa berada di atap bersama Leandra? Apa yang mereka lakukan di sana? Nama itu, bukankah nama wanita yang pernah dicintai suaminya dulu? Apa mereka ada__
Pintu lift terbuka, membuat Nala segera berlari menuju atap yang tinggal beberapa langkah lagi. Baru saja memasuki area atap, langkah Nala seketika terhenti. Tubuhnya melemas, dadanya terasa sesak seakan tertimpa batu besar tatkala melihat pemandangan dihadapannya saat ini.
Matanya memerah, genangan air di kelopak matanya sudah seakan hampir tumpah. Awalnya, dia ingin memberikan kejutan pada sang suami, tapi ternyata justru dia yang mendapatkan sebuah kejutan menyakitkan.
Kaki Nala mulai bergetar, dia sudah tak sanggup lagi berada di tempat ini berlama-lama. Dia segera pergi meninggalkan atap dengan air mata yang sudah jatuh bercucuran.
Sakit?
Satu kata itu yang dia rasakan saat ini. Dia tak pernah mengira bahwa Lean tega melakukan hal seperti ini padanya.
Pikiran negatif semua muncul dalam benaknya saat ini.
...☘️☘️☘️...
" Akhirnya lepas juga!" ucap Lean setelah berhasil melepaskan rambut Leandra yang nyangkut di kancing kemejanya.
Sebelumnya, saat Leandra ingin berjalan pergi dari atap ini, tiba-tiba heelsnya patah sampai membuat dia hampir terjatuh. Untungnya Lean berdiri di sampingnya sehingga dia bisa membantu menangkap tubuh Lea agar tidak jatuh ke lantai. Namun, sialnya rambut Lea justru nyangkut di kancing baju kemeja Lean.
__ADS_1
Lea berusaha melepaskannya, tapi tak kunjung bisa. Jadi, terpaksa Lean yang mencoba melepaskan rambut Lea. Entah kebetulan atau apa, posisi Lean saat itu tepat membelakangi pintu masuk atap sehingga terlihat seperti dia sedang berciuman dengan Lea, padahal tidak.
" Sekali lagi terima kasih, Lean," ucap Lea.
" Sama-sama, tapi ingat jangan pernah mengulangi hal seperti ini lagi. Bunuh diri, bukanlah solusi yang tepat. Kamu harus bisa menghadapi ini semua."
"Ingat Lea, berani berbuat berarti harus berani bertanggung jawab. Jika kamu bunuh diri, sama halnya kamu menghilangkan dua nyawa sekaligus, dan Allah sangat membenci hal itu." Lean memberikan nasehat.
Lea hanya bisa mengangguk dan tertunduk malu. Dia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berakhir seperti ini.
Memergoki calon suaminya selingkuh dengan wanita lain, tepat sehari sebelum hari pernikahan di gelar. Dan pagi ini, di kejutkan lagi dengan sebuah fakta bahwa dia tengah hamil 6 minggu.
Depresi!
Satu kata yang menggambarkan kondisi Lea saat ini.
...****************...
Kan... Ada yang salah paham. Konflik rumah tangga di mulai...
__ADS_1