My Best Partner

My Best Partner
Bab 55


__ADS_3

Selesai sholat dzuhur, Kean mengambilkan makanan untuk Dinda karena bagian intinya masih terasa sangat sakit jika di buat berjalan. Bahkan jalannya sudah seperti bebek ngangkang. Jadi, dia memilih untuk di kamar saja karena malu kalau sampai semua melihat dan menyadari cara berjalan Dinda. 


Melihat Kean turun sendiri tanpa Dinda, membuat semua orang merasa heran. 


Apakah mereka masih bertengkar? Batin Lean. 


"Loh, kok sendirian Kak? Dinda mana?" tanya Mama Dira saat melihat Kean turun sendiri tanpa Dinda.


"Dinda masih  tidur, Ma. Jadi Kean mau ambilkan makanan untuknya," dusta Kean. 


Tak mungkin Kean bilang kalau Dinda sedang tak bisa jalan gara-gara habis bukak segel. Bisa-bisa bakal di introgasi atau di ledekin habis-habisan dia.


"Kakak yakin kalau kak Dinda masih tidur? Bukannya ngambek atau bertengkar dengan kakak?" tanya Anne yang kurang percaya kalau Dinda sedang tidur. Anne takut kalau mereka habis bertengkar, lalu Dinda tak mau ikut turun untuk makan siang bersama karena masih ngambek. 


Kean mengerutkan keningnya ketika mendengar Anne mengatakan bahwa mereka sedang bertengkar. Sebenarnya bukan bertengkar, lebih tepatnya mereka habis olahraga panas yang membuat ketagihan dan menghabiskan tenaga.


" Kata siapa kita bertengkar? Kita baik-baik saja kok!" ungkap Kean. 


"Kata___" Lean segera membekap mulut Anne agar tak keceplosan lagi. 


"Sudah Kak, buruan ambil makanannya.Nanti Dinda keburu kelaparan kalau lama-lama!" suruh Papa Ken. 


Papa Ken tahu apa alasan Kean mengambilkan makanan untuk Dinda karena dia juga pernah melakukannya dulu saat masih menjadi pengantin baru. 


"Ambil yang banyak Kak, biar ada energi untuk__" kini giliran papa ken yang mendapatkan cubitan di pinggangnya dari Mama Dira. Dia tahu ke mana arah pembicaraan suaminya itu. Mama Dira tak mau melihat Kean merasa malu dan  canggung jika tahu kalau papanya sadar akan kebohongannya. 


Para orang tua memang mudah paham, karena sudah berpengalaman. Berbeda dengan yang masih muda dan belum pernah menikah. Mereka pasti akan percaya saja dengan ucapan Kean kalau Dinda masih tidur. 


Selesai mengambil makanan, Kean segera pergi ke kamarnya karena sudah ada wanita cantik yang sangat kelaparan di dalam sana. 


Melihat Kean datang dengan meambawa makanan, jus, serta camilan. Membuat bola mata Dinda berbinar- binar. Jika wanita lain akan berbinar ketika melihat barang mahal, berbeda dengan Dinda cukup di beri makan enak di saat lapar saja sudah membuat raut wajahnya begitu bahagia. 


" Maaf ya, sudah nunggu lama." Kean meletakkan nampan yang berisikan makanan itu ke atas meja. 


" Wow, sepertinya enak!" seru Dinda yang sudah menelan ludahnya. Dia benar-benar ingin segera memakan makanan enak itu. Ketika Dinda ingin menyentuh makanan, tiba-tiba Kean menghentikan tangannya. 


" Abang kenapa___" 


"Cuci tangan dulu, baru makan!" sela Kean.


"  Tangan Dinda masih bersih kok!" Dinda memperlihatkan tangannya yang memang terlihat bersih dari luar.


Melihat tatapan tajam dari Kean, membuat wanita cantik itu bangun dari duduknya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Melihat langkah Dinda yang tertatih karena menahan rasa sakit, membuat Kean merasa Iba dan langsung menggendongnya. 


"Abang ngapain gendong Dinda?" tanyanya. Dinda sedikit terkejut tatkala Kean tiba-tiba menggendong tubuhnya tanpa aba-aba. 

__ADS_1


"Cuman mau bantuin kamu biar nggak sakit!" 


Dinda tersenyum melihat suaminya yang mulai peka. Dinda memang masih merasakan sakit dan perih di bawah sana. Bagaimana tidak sakit, baru pertama kali buka segel dan yang membuka ukuranya __ cukup membuat Dinda menelan salivanya dalam. Di tambah, mereka bukan melakukannya hanya sekali saja, bagaimana tidak sakit coba.


Punya suami yang mempunyai tenaga ekstra memang harus bisa mengimbanginya. Meskipun sakit masih ada rasa kenikmatan tersendiri yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Ya begitulah yang dinamakan sakit tapi nikmat.


Selesai makan, mereka menghabiskan waktu bersama dengan menonton drama. Posisi mereka saat ini, bagaikan adegan di sebuah drama romantis yang pernah di impikan oleh Dinda. 


Sebelumnya, Kean tak pernah menonton drama seperti ini karena menurutnya membuang waktu dan tak berfaedah. Tepi demi belajar agar bisa romantis untuk menyenangkan istri tidak masalah. Toh, menyenangkan hati istri pahalanya sangat besar.


Sejak kemarin, Ken memang menyuruh Kean untuk meluangkan lebih banyak waktu untuk menemani Dinda. Soal pekerjaan, bisa di urus Aksa dan Nino. Jadi, Kean tak perlu memikirkannya lagi. Sekarang prioritas utama Kean bukan hanya pekerjaan, tetapi istrinya juga.


Saat ini, Dinda butuh teman untuk menemaninya agar bisa melupakan rasa kesedihannya. Melihat Dinda yang terus menempel padanya, membuat Kean merasa kalau Dinda bagaikan anak kucing yang terus menempel pada induknya. 


" Nda," panggil Kean. 


" Em …," jawab Dinda datar karena masih menikmati drama yang di tontonnya. Jadi, tak begitu fokus saat dipanggil oleh Kean. 


" Masak di panggil suami hanya jawab em?" Kean mengikuti bagaimana cara berbicara Dinda. 


Padahal Kean dulu juga adalah pria cuek yang suka sekali menjawab panggilan seperti itu, tapi sekarang dia tak suka jika Dinda hanya menjawab panggilannya dengan kata  em. 


" Apakah dramanya sangat menarik?" 


Dinda mengangguk.


" Mau ke mana?" 


" Mau pergi lah, soalnya istriku lebih fokus sama drama daripada suaminya!" sindir Kean. 


Dinda mencoba menahan senyumnya, lalu menangkup wajah Kean.


"Apakah suamiku sekarang mulai menjadi pria yang suka ngambek dan pecemburu?" 


Kean sedikit mengerutkan keningnya. 


"Siapa juga yang ngambek dan pencemburu!" elak Kean. 


Dinda meluruskan  kening Kean yang sedikit berkerut. 


"Jangan suka mengerutkan kening, nanti cepat keriput keningnya!" 


"Jadi, Kamu ___" 


Sekarang giliran Dinda yang membukam mulut Kean dengan sebuah ciuman agar dia berhenti berbicara. Dinda tau apa yang mau diucapkan oleh Kean, dan dia tak suka mendengar hal itu. Jadi, Dinda hanya mengikuti cara Kean saat menghentikan dia berbicara. 

__ADS_1


"Jangan terlalu cerewet! Nanti sikap Pak Keane yang dingin akan hilang di telan bumi!" goda Dinda. 


Tanpa basa basi, Kean menggelitiki pinggang Dinda sampai membuatnya meminta ampun. Dinda tipe cewek yang tak bisa menahan rasa geli. Jadi, dia paling tak bisa di gelitik seperti ini.


Kean bahagia, ternyata apa yang diucapkan papanya benar terjadi. Menikah dengan wanita seperti Dinda tidak akan ada ruginya. Justru, kehidupan Kean yang monoton menjadi lebih berwarna. 


Andai, dia menikah dengan seseorang yang sama seperti dirinya. Mungkin kehidupan mereka akan monoton dan begitu-begitu saja. Terkadang, Dinda memang menyebalkan, dan membuatnya harus banyak bersabar menghadapi sifat dan sikapnya yang bertolak belakang dengan dirinya. Tapi, itu semua tak menjadi halangan untuk mereka hidup bersama.


"Abang … sudah geli!" gerutu Dinda. 


"Mangkanya jangan sampai bicara seperti itu lagi! Apa kamu mau abang kembali seperti dulu saat bersamamu?" Kean menautkan kedua alisnya. 


Dinda menggeleng, dia tak mau Kean kembali ke mode dingin dan tak berperasaan seperti dulu. Dia lebih menyukai Kean yang seperti ini. Perhatian, sweet, banyak bicara dan lain sebagainya. Pokoknya Dinda menyukai Kean versi suaminya. Bukan Kean versi Bos dingin, irit bicara dan tidak berperasaan kalau sedang memberikan hukuman. 


...☘️☘️☘️...


Keesokan paginya, di saat semua orang belum turun untuk sarapan. Lean sudah pamit berangkat ke rumah sakit dan meminta bekal lebih kepada Mamanya. Dia ingin memberikan sarapan pagi buatan mamanya untuk Leandra. 


Sesampainya di rumah sakit, Lean langsung berjalan menuju ruangan kerja Leandra. 


"Selamat pagi Dokter Leandra yang cantik," sapa Lean dengan senyumnya yang mampu membuat kaum wanita mengalami diabetes karena terlalu manis. Bahkan semut saja langsung datang menghampiri. 


"Pagi Dokter Lean," jawab Lea. 


"Aku bawakan sarapan pagi yang dibuat langsung oleh mamaku!" ucap Lean seraya menyodorkan bekal tas bekal makanan.


Lea mengambil tas bekal makan itu. 


"Terimakasih, ya. 


" Sama-sama. Oh, ya. Nanti malam kita dinner ya,"ajak Lean. 


" Dinner? "ulang Lea. 


" Iya, kita kan sudah lama  nggak dinner berdua. Jadi apakah Dokter Leandra yang cantik ini bersedia? " tanya Kean dengan menautkan satu alisnya. 


" Em … boleh. "


" Kalau begitu sampai jumpa nanti ya, jangan lupa di makan sarapannya, " ujar Lean. Kemudian dia pergi menuju ruangannya dengan hati yang berbunga-bunga karena rencana pertama sudah berhasil, tinggal rencana selanjutnya.


...****************...


Maaf ya, kemarin tidak update karena author lagi perjalanan keluar kota. Dan mungkin untuk beberapa hari kedepan juga akan slow update, tapi akan di usahakan untuk tetap update setiap harinya.


Jadi, tunghu kisah mereka selanjutnya...

__ADS_1


Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya ya...


__ADS_2