My Best Partner

My Best Partner
Bab 61


__ADS_3

Malam ini kondisi hati Lean sedang tak baik, hatinya hancur karena sampai saat ini cintanya tetap bertepuk sebelah tangan. Sebelum pulang ke rumah, Lean ingin menenangkan diri terlebih dahulu agar tidak ada yang menyadari bahwa ia sedang patah hati. Apalagi kalau sampai Kean mengetahui penyebab patah hati Lean, dia pasti akan sangat malu sekali.


Selama ini, Kean sudah sering memperingatinya untuk melupakan rasa cinta kepada Lea. Namun, Lean yang keras kepala dan telah di butakan oleh Cinta tak bisa mendengarkan nasihat dari sang kakak.


Di pertengahan jalan yang cukup sepi, Lean tak sengaja melihat seorang gadis yang sedang di tarik-tarik oleh beberapa pria. Lean segera mengubah sorot lampu mobilnya menjadi jarak jauh agar orang-orang itu silau.


Setelah meminggirkan mobilnya, Lean turun dari mobil dengan gaya yang terlihat cool. Tanpa basa basi, Lean segera menendang tiga pria tersebut sampai tersungkur ke tanah. Ketika melihat sekilas siapa gadis itu, membuat Lean semakin marah dan geram.


Lean yang sedang berada dalam mode kecewa, marah, semakin tak bisa mengendalikan emosinya lagi tatkala tahu wanita itu adalah Nala. Seorang gadis yang sudah dia anggap seperti adik sendiri.


Melihat tiga orang itu masih bangun dan melawannya, membuat Lean semakin tertantang. Semua emosi dia limpahkan dengan memukul orang- orang itu. Bahkan, di saat ada salah satu dari mereka yang mengeluarkan pisau, tak membuat Lean takut sedikitpun.


Dia justru mengeluarkan semua kemampuan bela dirinya yang sudah lama terpendam. Anggap saja sebagai melampiaskan kekesalan kepada orang yang jahat. Meskipun satu lawan tiga, Lean tetap saja memenangkan pertarungan.


Melihat mereka semua yang sudah tak sadarkan diri, membuat Lean segera berjalan menghampiri Nala.


"Nala ..." panggil Lean seraya berjongkok mendekati Nala yang terduduk lemas di tanah.


" Kakak," lirih Nala yang spontanitas memeluk Lean.


Dia benar-benar bersyukur bisa lolos dari tiga pria hidung belang itu. Bahkan, orang yang menolongnya adalah pria yang dia kenal. Membuat Nala semakin bersyukur dan merasa tenang. Setidaknya dia di tolong oleh orang pria baik yang akan menjaganya.


Lean masih terdiam membeku ketika Nala lagi-lagi memeluknya secara tiba-tiba dan begitu erat. Hal itu, membuat dua gunung kembar milik Nala menempel pada dada bidang Lean.


Jakun Lean mulai naik turun, jantungnya berdetak lebih cepat, serta aliran listrik seketika mengalir dalam tubuhnya. Lean adalah pria dewasa yang normal, mustahil jika dia tak merasakan apa-apa ketika ada dua gunung kenyal menempel pada tubuhnya.


Ingin rasanya Lean melepaskan pelukan Nala, namun, Nala masih terisak dalam pelukannya. Menandakan bahwa gadis kecil itu sangat ketakutan sekali.


Tapi, kenapa dia bisa berada di tempat yang sepi seperti ini sendiri?


"Nal," panggil Lean yang membuat Nala tersadar kalau dia sedang memeluk Lean dengan erat.


"Ma-af kak," ucap Nala dengan suara bergetar seraya mengusap pipinya yang basah.


Ketika melihat darah segar terus menetes di tangan Lean, membuat Nala terbelalak.


"Tangan Kakak berdarah!" ucap Nala.

__ADS_1


Lean yang juga tak sadar jika tangannya terluka, pun melihatnya dan sedikit terkejut.


Nala segera melepaskan syal yang mengikat rambutnya, lalu meraih tangan Lean dan menutup luka itu agar darah tak terus mengalir.


"Udah gapapa Nal," ucap Lean. Namun, Nala bersikeras untuk tetap menutup luka di lengan Lean. Sepertinya Lean terkena sayatan pisau dari pria hidung belang itu.


" Maaf Kak, gara-gara Nala kak Lean terluka," ucap Nala seraya mengikat luka Lean. Dia sangat merasa bersalah sudah membuat Lean itu terluka demi menolongnya.


" Tidak apa-apa, hanya luka kecil," ucap Lean dengan mencoba tersenyum agar Nala tak merasa bersalah lagi.


" Lebih baik, kita masuk ke mobil saja, ya, " ajak Lean.


Nala mengangguk, saat ingin berdiri, ternyata kaki Nala kesemutan dan sangat lemas. Dia masih dalam kondisi syok atau biasa di sebut termor. Jadi, mau tidak mau Lean menggendong tubuh Nala masuk ke dalam mobil.


Ini pertama kalinya Nala di buat takjub tatkala menatap wajah tampan Lean yang diam. Biasanya dia selalu melihat Lean yang jahil. Tapi, malam ini, dia seakan melihat sisi lain dari Lean.


Sebenarnya kalau seperti ini, Kak Lean juga ganteng dan keren. Gumam Nala dalam hati, lalu dia menepis pikiran itu.


Nala, Nala ... Apa sih yang kamu pikirkan?


Nala mencoba menepis pikiran aneh tentang Lean. Dia harus ingat bahwa Lean adalah pria yang di cintai sahabatnya Sabrina sekaligus pria yang dia tolak mentah-mentah dalam hati karena sifat tengilnya.


"Kak," panggil Nala ketika Lean ingin menutup pintu.


"Iya ada apa?" tanya Lean datar.


" Kakak punya kotak P3k? Biar aku bantu obati lukanya biar tidak infeksi," ungkap Nala.


" Ada kok," jawab Lean singkat.


Melihat sikap dan raut wajah Lean yang tak biasa, membuat Nala merasa bingung.


Ada apa dengan Kak Lean? Kenapa sikapnya tidak seperti biasanya? Apa dia ke sambet setan cuek dan dingin?


Meskipun Lean sempat tersenyum, Nala masih merasa bahwa Lean sedikit berbeda dari biasanya. Tak lama kemudian, Lean sudah masuk dengan membawa kotak P3K.


"Oh ya Kak, tiga pria hidung belang itu nasibnya gimana?" tanya Nala lagi.

__ADS_1


Lean baru ingat bahwa ketiga pria itu masih terkapar dan tak sadarkan diri di tanah.


" Biarkan saja! Kalau lapor polisi, urusannya akan panjang karena Kakak sudah membuat mereka babak belur, "pungkas Lean dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Saat memukuli pria itu, Lean memang dalam kondisi emosi yang tak terkendalikan. Sehingga membuat dia tak sadar kalau hampir saja membunuh orang dengan tangannya sendiri. Tapi, untungnya ketiga pria itu masih bernafas saat Lean mengeceknya. Kalau tidak, bisa dosa besar dan terjerat hukum dia.


Nala tersenyum tipis, lalu mulai mengobati luka Lean dengan hati-hati. Tak heran jika Nala pandai mengobati luka, bahkan tangannya yang mungil itu sangat lihai dalam memperban luka. Karena sejak kecil Nala ingin menjadi seorang Dokter, dan dia juga memiliki gen seorang Dokter.


" Ternyata sekarang sudah jago juga memperban lukanya!" puji Lean yang membuat pipi Nala memerah.


" Biasa aja!"elak Nala.


" Ini sudah sangat bagus loh, buat anak SMA yang bukan jurusan perawat! Jadi, mau ambil kuliah Dokter di mana?" tanya Lean agar suasana tak canggung dan Nala melupakan ketakutannya.


Nala menggeleng.


" Kok geleng kepala?"


" Aku sudah tidak mau jadi Dokter!" pungkas Nala yang sudah selesai mengobati luka Lean.


" Loh, kok bisa? " Lean sedikit terkejut saat mendengar Nala sudah tak mau lagi menjadi Dokter. Padahal dari kecil, gadis itu sudah ingin menjadi Dokter yang hebat seperti Mami dan papinya.


" Bisa dong! Keinginan dan cita-cita setiap orang kan bisa saja berubah seiring berjalannya waktu," ungkap Nala.


Mendengar nada bicara Nala yang sudah santai, membuat Lean senang karena sepertinya shock dan ketakutan Nala sudah hilang.


"Terus mau kuliah apa?"


"Rahasia!" jawab Nala singkat, membuat Lean yang penasaran merasa kesal.


Entah kenapa, rasa takut dan shock Nala mulai hilang. Mungkin karena Lean juga pandai ilmu psikolog. Jadi, dia bisa membuat Nala perlahan melupakan kejadian yang menimpa dirinya.


Setelah itu, Lean mengantarkan Nala pulang. Di dalam perjalanan, Lean juga sempat menanyakan kenapa Nala bisa berada di tempat yang sepi itu sendirian. Padahal, jalanan itu bukanlah jalan menuju rumahnya.


Tiba-tiba percakapan mereka terhenti ketika Nala sudah tertidur di dalam mobil Lean.


" Dasar gadis kecil! Padahal tadi habis ketakutan, sekarang sudah tidur pulas di dalam mobil pria dewasa. Kenapa tidak ada sikap waspada sama sekali? Eh ... Lagian buat apa dia waspada? Aku kan pria baik-baik yang tak perlu di waspadai, " gumam Lean dengan geleng-geleng kepala sendiei.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya.


__ADS_2