
Karena ruangan UGD begitu penuh, membuat Nala segera mengurus pemindahan kamar untuk Lean.
" Apakah bisa minta ktpnya kak?" tanya suster penjaga administrasi.
" Em, bisa pakai kartu pelajar atau paspor aja nggak?" tanya Nala dengan polosnya.. Karena dia belum mempunyai ktp, umur saja baru 16 tahun. Mana ada sudah punya ktp.
Ternyata masih pelajar? Bahkan masih belum punya ktp, masak sih benar dia pacar dokter Lean? Batin perawat itu.
Berita tentang Lean pingsan dalam pelukan seorang gadis cantik, memang sudah tersebar di arena para perawat wanita pengagum Dokter Leanne. Bahkan ada juga yang mengingat wajah Nala saat menggandeng Lean beberapa waktu lalu.
" Pakai ktp saya! Apakah kalian tidak tahu siapa pasiennya? Masih saja di persulit saat mengurus pendaftaran pasien!" ketus seorang Dokter pria.
" Kak Abi?" seru Nala saat melihat siapa orang yang menyodorkan ktpnya.
Abi hanya tersenyum dan menaikkan satu alisnya.
" Maaf, Dok hanya___"
" Hanya ingin kepo!" potong Abi yang sudah tahu betul kalau mereka itu hanya sedang kepo siapa Nala. Ucapan Abi seketika membuat mereka bungkam.
" Untuk deposit awal___"
" Biar saya yang bayar," ucap Nala sembari mengambil kartu atmnya.
" Nal, biar kak Abi saja yang bayar," cegah Abi. Namun, di tolak oleh Nala.
Meskipun Abi tahu kalau Nala asalah anak orang kaya, tapi dia pasti punya limit jatah jajan bulanan. Dan biaya rawat kamar VVIP di rumah sakit ini lumayan mahal, kalau Abi yang bayar kan nanti bisa minta ganti sama Lean.
" Udah, biar Nala aja. Kan, Nala yang minta kak Lean di pindahin, " jawab Nala dengan tersenyum. Lalu memberikan kartu atmnya pada petugas administrasi.
Nggak tau aja Abi kalau Nala bukan sekedar gadis kecil biasa. Jadi, dia sudah ada penghasilan sendiri juga, selain dapat jatah jajan dari papi Rian.
Perawat yang melihat Nala tanpa ragu untuk membayar biaya deposit untuk rawat inap Lean, cukup tercengang. Meskipun belum punya ktp, uangnya lebih banyak dari mereka.
Sepertinya bukan gadis kecil biasa.
*
__ADS_1
*
Abi hanya bisa memperhatikan Nala yang masih sibuk merapikan selimut dan posisi tidur Lean. Dia jadi tersenyum sendiri melihatnya, ternyata gadis kecil di hadapannya saat ini sudah sangat pandai dalam merawat orang lain.
" Oh, ya ... Nal. Bukankah kamu di Belanda? Kapan pulang ke Indonesia?" tanya Abi yang sudah sangat penasaran. Karena setahunya, Lean akan mengambil cuti lusa untuk pergi ke Belanda.
" Baru saja," jawab Nala.
" Baru sampai?" tanya Abi yang sedikit terkejut.
Nala mengangguk.
" Jadi___ kamu langsung ke rumah sakit?"
" Iya, niatnya aku mau buat surprise ke Kak Lean. Eh, taunya aku yang di kasih surprise!" pungkas Nala.
" Itu juga karena Kamu___" Abi langsung menutup mulutnya yang sudah keceplosan.
Nala seketika menatap selidik ke Abi.
Abi masih menutup rapat mulutnya, dia hanya berani menjawab dengan gelengan kepala. Dia takut kalau kelepasan bicara lagi, bisa di musuhi sama Lean, karena berani membocorkan surprise yang gagal.
Nala yang sudah penasaran terus berusaha membuat Abi agar mau melanjutkan ucapannya.
" Yaudah, kalau kak Abi nggak mau jawab jujur pertanyaan Nala ... Jangan harap bakalan Nala bantu untuk deketin Anne!" Akhirnya Nala mengeluarkan jurus pamungkas.
Maaf ya Anne, kamu aku jadikan umpan! Batin Nala
Abi jadi bingung sendiri kalau sudah menyangkut soal Anne. Karena selama ini, dia selalu gagal mendekati Anne. Apalagi Anne punya kakak garang seperti Lean, yang meskipun sahabat baik tetap tidak mau adiknya di dekati oleh dirinya.
" Tapi, janji dulu kalau kamu bakalan bantuin kakak untuk mendapatkan hati Anne."
" Tergantung," jawab Nala ambigu.
" Kok, tergantung?"
" Ya, tergantung ... Informasinya menguntungkan bagi aku atau tidak?"
__ADS_1
" Tentu saja menguntungkan," jawab Abi.
" Kalau begitu apa? " Nala terus mencoba memancing Abi tanpa harus dia mengucapkan janji terlebih dahulu.
" Karena Lean ingin mengunjungi kamu ke Belanda, makanya dia lembur terus, biar bisa segera ambil cuti. Alhasil, kecapekan deh, " jelas Abi.
Nala tersenyum penuh kemenangan, akhirnya Abi bocor juga. Sedangkan Abi seperti merasa ada sesuatu yang ganjal saat melihat senyuman Nala.
" Nala!! " seru Abi saat menyadari bahwa Nala belum berjanji akan membantunya.
Nala segera meletakkan ujung jarinya di depan bibir guna memberikan kode agar Abi tidak berisik.
" Silent please! Ada pasien yang sedang istirahat," ujar Nala dengan suara sedikit pelan.
Abi justru semakin merasa kesal saat melihat sikap Nala seperti tak merasa bersalah sedikitpun. Dia hanya bisa memukuli mulutnya yang bekerja lebih cepat dari otaknya. Bisa-bisanya dia di kibulin sama gadis kecil yang dulunya pendiam. Tapi, sepertinya sekarang bukan pendiam lagi.
Karena kesal, Abi segera keluar dadi ruangan Nala.
" Makasih atas segala bantuan dan informasinya ya Kak Abi ...," ledek Nala yang semakin membuat Abi merasa kesal.
Sepeninggal Abi, Nala duduk di kursi dekat ranjang pasien Lean sembari menggenggam tangan Lean yang dingin.
" Maaf ya, Kak. Gara-gara aku, Kakak jadi seperti ini. Nala benar-benar menyesal karena sudah tidak memberi kabar dan terlambat pulang," ucap Nala seraya menempelkan tangan Lean di pipinya.
Tanpa terasa buliran bening jatuh dari pelupuk matanya saat melihat pria yang sudah memporak-porandakan hatinya, tengah terbaring lemas. Mata indah itu masih terus tertutup, wajahnya juga pucat, lesu, terlihat jelas bahwa dia kurang istirahat.
" Pantas saja, aku tidak bisa tertarik sedikitpun pada pria lain. Karena ternyata ada pria yang jauh lebih besar pengorbanannya untukku."
Dari kejadian bersama Aldert, Nala baru menyadari bahwa hanya Lean yang bisa membuatnya merasa nyaman saat bersamanya. Bahkan, di saat Al berusaha untuk bersikap baik, perhatian, mengajaknya bercanda. Itu tetap terasa garing dan biasa saja, tidak ada yang istimewa.
Perpisahan, benar-benar membuat Nala sadar bahwa dia sudah sangat mencintai pria ini. Bahkan rasa cintanya jauh berbeda, saat ke Kean dulu. Mungkin benar kata Anne, bahwa dia hanya merasa kagum saja pada Kean, bukan cinta.
" Kak, kamu pernah bertanya padaku kan ... Apakah aku mencintaimu? Dan sekarang aku bisa mengatakan bahwa AKU SANGAT MENCINTAIMU." Nala tersenyum kecut, dan merasa heran sendiri karena berbicara pada orang yang tidak sadarkan diri.
Karena masih mengantuk, akhirnya Nala tertidur dengan memeluk tangan Lean.
...****************...
__ADS_1