My Best Partner

My Best Partner
Partner Terbaik ~ Bab 97


__ADS_3

" Sudahlah, kalian tidak perlu tahu. Anggap saja mereka sudah pindah ke planet lain dan tidak akan pernah lagi bisa ganggu Dinda!" ucap Papa Ken santai seraya berjalan untuk duduk di sofa. Mama Dira pun mengikuti Papa Ken yang duduk di sofa.


" Memangnya Papa kirim mereka ke planet mana? "tanya Anne yang masih bingung. Karena setahunya bumi hanya satu-satunya planet yang memiliki kehidupan.


Papa Ken hanya bisa menghembuskan nafas panjang saat mendengar Anne masih bertanya soal itu. Begitulah Anne, selalu bertanya pada sesuatu yang tidak dia mengerti sampai ke akar-akarnya.


" Itu hanya perumpamaan, Anne." bukan Papa Ken yang menjawab, melainkan Kean.


" Papa kenapa?" tanya Mama Dira saat melihat gelagat aneh dari suaminya seperti menahan sakit.


" Pinggang papa sedikit encok, " lirih Papa Ken.


" Ha, encok? "ulang Mama Dira yang membuat semua mendengar bahwa Papa Ken encok.


" Mama jangan keras-keras, malu di denger anak-anak," lirih Papa Ken lagi. Kan jadi tidak terkesan kuat lagi, kalau sampai mereka mendengar papanya sudah encok.


" Maaf, " Mama Dira segera menanyakan mana yang encok agar bisa bantu memijat. Sedangkan Papa Ken diam saja, andai mereka sedang berada di kamar, pasti sudah bilang dari tadi.


" Maaf ya, Pa." tiba-tiba Dinda mengeluarkan suaranya.


" Kenapa kamu minta maaf sayang?" tanya Mama Dira yang tidak mengerti kenapa Dinda tiba-tiba minta maaf.


Mendengar Papa Ken encok, Dinda menduga itu pasti ulah dirinya. Meskipun sudah tidak sadarkan diri, tapi orang terakhir yang Dinda lihat ada di depannya ingin membantu adalah Nino dan juga Papa Ken. Jadi, dia berpikir Papa Ken encok karena telah menggendong dirinya ke rumah sakit. Soalnya kalau Nino tidak mungkin, karena menyentuh Dinda saja seakan tidak berani.


Mendengar Dinda meminta maaf, membuat Kean tersadar, lalu mendekati Papa Ken.


" Mana yang encok, Pa. Biar Kean bantu pijitin," tawar Kean.


" Ini, ada apa sebenarnya?" tanya Mama Dira yang menjadi bingung.


" Papa encok pasti karena menggendong Dinda terlalu jauh!" pungkas Kean.


" Jadi, Papa yang membawa Dinda ke rumah sakit?" tanya Mama Dira lagi.


Mama Dira memang kurang tahu banyak hal, setahunya Dinda masuk rumah sakit keguguran karena di celakai oleh orang, dan Papa ken sedang memberi hukuman pada orang itu. Jadi, Mama Dira tidak pernah mengira bahwa yang membawa Dinda ke rumah sakit adalah Papa Ken.


Papa Ken mengangguk.


Sedangkan Mama Dira tersenyum, lalu memeluk Papa Ken.


" Papa Keren!" ucap Mama Dira sembari memberikan jempol dan juga simbol saranghae dengan jari tangannya, membuat Papa Ken tersipu malu bagaikan anak Abg yang mendapatkan ungkapan cinta.

__ADS_1


" Keren, tapi ternyata sudah tua! Mangkanya bisa encok," lanjut Mama Dira yang seketika membuat Papa Ken merasa malu bercampur kesal. Habis di puji sampai ke langit ketujuh, tiba-tiba di jatuhkan sampai dasar laut.


Setelah itu, Kean meminta Papa Ken untuk berbaring di sofa agar dia bisa memijat pinggang Papanya yang sakit.


" Kean nggak usah, Kean. Papa malu kalau harus di pijat di sini," ujar Papa Ken.


" Malu sama siapa? Kan Papa masih pakai baju," lontar Mama Dira.


Kean terus memaksa, membuat Papa Ken menurut. Sedangkan Mama Dira pindah duduk di sofa sampingnya. Untungnya ruangan Dinda sangatlah luas, dengan fasilitas yang lengkap bak kamar hotel. Sehingga bukan hanya pasien yang merasa nyaman, tapi tempat untuk keluarga yang menunggu juga sangat nyaman.


Karena hari mulai malam, Mama Dira, papa Ken dan Anne pamit pulang terlebih dahulu. Karena besok Anne masih harus sekolah.


" Pa, bolehkah Dinda memeluk Papa sebentar?" izin Dinda.


Papa Ken menatap Mama Dira dan Kean bergantian seakan melakukan kontak mata untuk meminta persetujuan. Bagaimana pun, Dinda adalah anak menantu sehingga tetap harus meminta persetujuan terlebih dahulu, kecuali keadaan darurat seperti tadi. Ini hanya sebagai bentuk saling menghormati di antara mereka. Melihat Mama Dira dan kean mengangguk memberi persetujuan, membuat Papa Ken memeluk Dinda.


" Terimakasih ya, Pa," ucap Dinda. Dinda sangat bersyukur memiliki ayah mertua yang jauh lebih baik dari ayah kandungnya sendiri.


" Sama-sama Din, kamu yang kuat dan sabar ya," ucap Papa Ken seraya menepuk pundak Dinda.


Setelah itu, Dinda melepaskan pelukannya. Lalu mencoba tersenyum.


" Dinda sudah ikhlas kok, Pa."


Kemudian, giliran Mama Dira yang memeluk Dinda.


" Kamu tenang saja, nanti setelah kondisimu sudah benar-benar pulih. Bisa buat lagi, siapa tahu bakalan di kasih twins atau bahkan lebih, " ucap Mama Dira mencoba memberi semangat sekaligus kode yang membuat Dinda dan Kean tersipu malu. Bisa-bisanya mamanya berkata seperti itu.


" Tapi tidak dalam waktu dekat juga!"lanjut Mama Dira.


Melihat istrinya yang sudah semakin berbicara ngaco, membuat Papa Ken segera membawa pergi. Karena masih ada Anne yang masih kecil juga.


...☘️☘️☘️...


Di tempat lain, terlihat seorang pria tengah senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya. Orang yang tidak tahu akan mengira dia gila karena senyum pada ponsel. Tapi, masa bodoh karena dia sedang bahagia saling kirim pesan dengan seseorang.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.


" Siapa?"


" Rena, Dok," sahut seseorang di balik pintu.

__ADS_1


Lean segera memperbaiki posisi duduknya.


" Masuk."


Mendengar jawaban masuk dari seseorang di dalam ruangan, membuat Rena segera membuka pintu tersebut. Saat Rena ingin menutup pintu, Lean melarangnya.


" Jangan di tutup!" pinta Lean. Dia takut terjadi fitnah karena berduaan di sebuah ruangan istirahat dengan wanita yang bukan muhrimnya.


Rena mengikuti perintah Lean untuk tidak menutup pintu tersebut.


" Ada apa, Ren?" tanya Lean to the poin.


" Bisakah kita makan malam bersama?" tanya Rena.


Lean terdiam sejenak, seperti sedang berpikir.


" Rena, saya mau bilang sesuatu, bisa?"


Rena mengangguk.


Lean menarik nafasnya dalam, entah kenapa dia seakan tidak mau memberikan harapan palsu berlama-lama pada Rena di saat dia sudah mendapatkan petunjuk.


" Bisakah kamu berhenti mendekati saya?" pinta Lean.


Deg


Jantung Rena tiba-tiba berhenti berdetak ketika mendengar ucapan Lean.


" Kenapa? Bukankah belum ada sebulan?" tanya Rena yang penasaran kenapa Lean tiba-tiba menyuruhnya berhenti.


" Karena saya tidak ingin kamu membuang-buang waktu terlalu lama hanya demi saya."


Rena menggeleng, dia mencoba untuk menahan emosi, dan tangisnya. Entah kenapa hatinya begitu sakit saat mendengar ucapan Lean yang secara tidak langsung menolaknya.


" Apakah anda sudah memiliki kekasih? "


" Jika di katakan kekasih bukan, hanya saja saya sudah mendapatkan petunjuk tentang siapa jodoh saya, dan itu bukan kamu, Ren. Jadi, saya rasa cukup sampai di sini saja."


Melihat Rena yang terlihat seakan menahan tangis, membuat Lean merasa kasihan. Tapi, memberikan harapan palsu terlalu lama juga jauh lebih menyakitkan. Jadi lebih baik di sudahi sekarang saja, karena Lean juga tidak akan mencintai Rena karena sudah ada orang lain yang mengisi tempat itu.


" Apakah anda sudah mencintai wanita itu? "

__ADS_1


...****************...


__ADS_2