My Best Partner

My Best Partner
Bab 66


__ADS_3

Di sebuah kota yang memiliki julukan " Big Apple" karena merupakan pusat segala industri dunia, serta kota yang memiliki karakteristik penuh dengan seni. Kota ini juga tempat dimana seorang pria tampan dengan wajah teduh itu tinggal.


Tubuh bisa tinggal di kota ini, namun hati dan pikirannya masih tertinggal di sebuah negara yang membuatnya terkesan. Wajah cantik itu tak pernah hilang dalam ingatannya. Seorang gadis cantik yang mampu membuat jantungnya memompa dengan cepat, serta sengatan aliran listrik menjalar ke seluruh tubuhnya.


Dia ... bagaikan langit yang begitu indah bagi seorang Brian. Senyumnya membuat candu, wajahnya menenangkan, dan berada di dekatnya membuat hati seperti berada di taman bunga. Namun, dia juga cukup sulit untuk di gapai.


" Bri, waktunya minum obat." Jessy datang dengan membawa obat Brian.


" Jess, bisakah aku berhenti meminumnya? Aku sudah bosan dengan semua obat-obat itu. Lidahku terasa pahit!" ujar Brian. Dia memang benar-benar sudah bosan, tiap hari harus mengkonsumsi obat terus-menerus.


" Aku akan memberikanmu permen untuk menghilangkan rasa pahitmu! Apakah kau sudah tak mau sembuh? " kini Jessy sidah menyiapkan semua obat, minuman hingga permen.


Brian hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Andai saja dia bisa sembuh tanpa obat itu, pasti Brian tak akan meminumnya. Dulu, dia sempat putus asa dan ikhlas jika harus pergi dari dunia ini. Namun, setelah bertemu dengannya, rasa ingin sembuhnya semakin besar agar bisa bertemu kembali dengan langitnya. Setidaknya, dia bisa bertahan hidup untuk beberapa tahun lagi.


Pada akhirnya, Brian tetap meminum pil pahit itu, lalu memakan permen guna mengurangi rasa pahitnya. Jessy hanya tersenyum, melihat Brian yang patuh seperti ini.


“ Good job, Bri.”


“ Ah, memang rasa manis itu bisa menghilangkan rasa pahit!” tandas Brian.


“ Dan cinta, bisa melawan semuanya!” goda Jessy dengan tersenyum. Kemudian, dia berlalu pergi ketika melihat tatapan tajam dari Brian.


Jessy tahu apa yang membuat Brian bisa bertahan dan terus mencoba untuk sebuh. Cinta benar-benar menakjubkan. Dia bisa membuat orang yang


sudah putus asa, bangkit dan mau berjuang kembali. Jessy bersyukur, setidaknya dia masih bisa melihat Brian punya semangat hidup untuk sembuh dari penyakitnya.


...☘️☘️☘️...


Di tempat lain, terlihat dua gadis remaja sedang curhat menceritakan masalah satu sama lain. Mungkin karena sudah bersama sejak kecil, membuat mereka sangat dekat dan mudah untuk menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi lagi.


Meskipun Anne lebih tua, dia selalu bersikap seperti seumuran dengan Nala, bahkan dia tak mau


di panggil kakak. Setelah mendengarkan semua cerita Nala semalam, Anne langsung memeluk Nala erat guna memberikan kekuatan pada sahabatnya


itu.


“ Aku tahu, itu pasti berat bagimu, Nal. Tapi, anggap saja itu sebagai mimpi buruk agar kondisi psikologis mu tidak memburuk.” Saran Anne.


“ Aku juga inginnya seperti itu, Anne. Andai aku bisa


seperti ikan yang ingatannya hanya sepuluh detik, mungkin aku sudah melupakan semua kejadian itu.”


Anne menjitak dahi Nala, membuatnya meringis kesakitan. “ Jika ingatanmu hanya sepuluh detik, kamu tidak akan bisa sepintar ini! Kamu juga tak akan mengenali siapa ayahmu, ibumu, saudaramu,

__ADS_1


sahabat, bahkan cintamu! Apakah kamu ingin hidup seperti itu?” jelas Anne dengan sedikit emosi.


Nala menggeleng. Apa yang dikatakan Anne ada benarnya juga, bahkan dia tak akan ingat siapa dirinya sendiri karena hanya memiliki ingatan


selama sepuluh detik. Begitulah manusia, sudah di berikan akal pikiran yang sempurna saja masih belum bisa bersyukur.


" Kamu itu, seharusnya banyak bersyukur. Di kasih otak yang pinter, di usiamu yang masih 16 tahun sudah bisa masuk kelas 12," lanjut Anne.


Nala hanya tersenyum, karena apa yang dikatakan anne ada benarnya. Jika dia tak pintar, tidak akan mungkin dia bisa berada di kelas 12 di usia 16 tahun karena dari SMP Nala selalu ikut kelas akselerasi.


Bercerita tentang kejadian semalam, membuat Nala melupakan sesuatu.


“ Astaga!” mata Nala melotot dan menutup mulutnya ketika mengingat, semalam dia sempat bernazar kepada Allah.


“ Astagfirullah Nala, bukan Astaga!” nasehat Anne.


Melihat wajah Nala yang tiba-tiba pucat, membuat Anne bingung dan segera mengecek keningnya. Siapa tahu dia demam atau kenapa gitu, tapi ternyata baik-baik saja.


“ Nal,” panggil Anne seraya menyentuh Pundak  Nala.


Di karenakan Nala sedang melamun, dia terkejut saat merasakan Anne menyentuh tubuhnya. Bahkan, tubuh Nala spontan menghindar dengan tangan menyilang seperti membuat pertahanan.


“ Kamu Kenapa?” tanya Anne ketika melihat sikap aneh sahabatnya itu.


jantungnya hampir saja copot akibat terkejut.


“ Kamu kenapa sih, Nal? Kok aneh gitu?”


Nala menggeleng, dia tidak menyadari kalau dirinya habis bersikap aneh di depan Anne.


“ Anne,” panggil Nala takut-takut setelah beberapa menit diam.


“ Em, ada apa?” jawab Anne singkat sambil membalas pesan masuk di ponselnya.


“ Apa hukumnya tidak melaksanakan nazar?”


“ Dosa! Karena sama saja ingkar dengan sumpah kepada Allah Swt.”


“ Jadi, kita wajib melaksanakan nazar itu?”


Anne mengangguk, sedangkan Nala hanya bisa menghembuskan nafas berat. Berarti dia harus menjadikan Lean sebagai kekasih karena dia yang


telah menolongnya? Tapi__ bagaimana  dengan Sabrina?

__ADS_1


“ Ah ...” Nala mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Sekarang dia seakan termakan oleh ucapannya sendiri yang tak mau jadi istri Lean, tapi


harus terjebak dalam situasi seperti ini karena sebuah nazar yang dia ucapkan saat berada dalam bahaya.


Anne hanya bisa tercengang saat melihat Nala yang semakin aneh.


Apakah kejadian semalam membuat sahabatku menjadi stress? Atau, kepalanya terbentur? Batin Anne.


“ Nal, kamu kenapa sih? Jangan nakut-nakutin aku dong! Kamu cerita. kalau ada masalah, siapa tahu aku bisa bantu.” Anne mencoba untuk membuat


sahabatnya itu tak semakin aneh. Jika Nala cerita, setidaknya bisa sedikit mengurangi beban dalam hatinya.


Nala terlihat canggung sekaligus malu ketika menyadari kalau dia tak sendiri, dan masih ada Anne di sampingnya.


Setelah beberapa detik kemudian, Nala baru memberanikan diri untuk bersuara.


“ Anne, ini seandainya ya. Tapi,  Jangan di buat serius,” ucap Nala takut-takut dan hanya di angguki oleh Anne.


“ Misalnya  Ada orang yang berada dalam bahaya, terus dia mengucapkan sesuatu seperti ucapan sebuah nazar, dengan minta pertolongan sama Allah jika yang menolongnya adalah  seorang pria muda, dan masih singel . dia akan menjadikan pria itu sebagai kekasih atau suaminya. Tapi,setelah bantuan itu datang, ternyata pria itu adalah seseorang yang sudah dia anggap sebagai kakak,


terus dia harus bagaimana?” tanya Nala dengan wajah serius.


“ Ya udah jadiin pacar aja, kan singel!” jawab anne  singkat tanpa beban.


“ Tapi, ada wanita lain yang mencintai pria itu. Apakah nazarnya bisa di ganti saja?”


Anne diam sejenak. " Nazar itu wajib di lakukan dan dosa jika tidak melaksanakannya. Jika kamu masih bisa melaksanakannya, maka laksanakan. Jika tidak sanggup, kamu bisa membayar denda sebesar denda sumpah."


" Tapi, ketika kamu mengucapkan sebuah nazar, seharusnya kamu sudah yakin bisa melaksanakan hal itu! "


Nala terdiam, setelah mendengar jawaban dari Anne.


“ Tapi __ pria itu siapa?” pancing Anne.


“ Kak Lean.” Nala langsung membekap mulutnya yang sudah lancang keceplosan. Sedangkan Anne langsung tertawa terbahak-bahak karena sudah tak


mampu menahan tawanya. Sebenarnya, sejak tadi Anne sudah tahu siapa yang orang yang di ceritakan Nala. tapi dia tak mengira bahwa pria itu adalah kakaknya sendiri.


...****************...


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


Buat yang kangen brian, sudah sedikit terobati kan?

__ADS_1


__ADS_2