My Best Partner

My Best Partner
Bab 36


__ADS_3

Tiba-tiba ada telepon dari perawat yang di sewa Kean untuk menjaga Nada. Dia mengatakan kalau Nada hari ini marah-marah dan kembali meminta pulang, dan Lean juga sedang ada operasi. Jadi, mereka menghubungi Kean.


Tanpa berpikir panjang, Kean segera mengajak Dinda untuk pergi. Mungkin ini sudah waktunya Dinda tahu bagaimana kondisi ibunya yang sebenarnya.


Beberapa hari yang lalu, Kean terus membujuk agar Nada mau mencoba melakukan pengobatan agar bisa menemani Dinda dan Devan lebih lama lagi. Jika di pertengahan jalan, Nada memang sudah tidak sanggup, maka Kean tidak akan memaksa lagi.


"Bang, Kita mau kemana?" tanya Dinda saat melihat Kean mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.


"Nanti kamu akan tahu."


"Tapi, nggak usah terlalu ngebut, Dinda takut," seru Dinda.


Mendengar Dinda mengatakan dia takut, membuat Kean sedikit menurunkan kecepatannya.


"Maaf ya."


Dinda hanya diam dengan mata yang sudah tertutup rapat, serta tangan memegang erat seat belt. Dia memang benar-benar takut saat Kean mengemudi dengan kecepatan tinggi. Tak lama kemudian, mereka sampai juga di rumah sakit.


"Ngapain kita ke rumah sakit, Bang?"


"Kita akan bertemu dengan ibumu." Kean langsung mengajak Dinda untuk turun dari mobil.


Ibu? Kenapa Ibu ada di rumah sakit? Apakah Ibu sakit? Kalaupun sakit, tidak mungkin Ibu ke rumah sakit Internasional? Ini kan rumah sakit mahal! Dinda terus berperang dengan pikirannya sendiri. Dia masih belum bisa mencerna perkataan Kean. Namun, tetap berjalan mengikuti Kean di belakangnya.


Sesampainya di ruangan vip, Kean segera membuka pintu. Di dalam ruangan itu, terlihat Nada sudah tak sadarkan diri lagi.


"Ibu," seru Dinda seraya berlari menghampiri ranjang pasien saat melihat siapa orang yang berada di dalam ruangan itu.


"Ibu kenapa bisa seperti ini?" tanya Dinda saat melihat Nada memakai alat bantu pernapasan dan juga infus.


"Ada apa lagi?" tanya Kean kepada perawat yang mengurus Nada.


"Sebelumnya bu Nada mendapatkan telepon dari seseorang Pak, tak lama dari itu dia kembali mengamuk meminta pulang, dan di saat masih menjalani kemoterapi. Lalu, tak sadarkan diri."


Mendengar wanita itu berbicara tentang kemoterapi, Dinda langsung menghampiri Kean dan menatapnya dengan tajam.


"Kenapa Ibu sebenarnya, Bang? Kenapa harus menjalani kemoterapi segala?" Meskipun bukan orang kedokteran, tapi Dinda tahu apa itu kemoterapi.


Melihat wajah tunangannya penuh kesedihan, membuat Kean menjadi tak tega. Ingin rasanya dia memeluk wanita itu untuk menenangkannya, tapi Kean masih punya batasan yang harus di jaga.


" Kita duduk dulu, ya." Kean mengajak Dinda untuk duduk di Sofa agar mereka lebih enak berbicaranya.


Setelah itu, Kean menceritakan semua apa yang telah terjadi. Sebenarnya dia ingin memberitahu Dinda, tapi Nada bersikeras melarangnya. Dia tidak mau melihat Dinda sedih seperti ini.


"Jika kalian terus menyembunyikan penyakit Ibu dari aku, bukankah itu namanya egois?" tanya Dinda yang merasa tidak terima dengan pendapat mereka.


Dinda berpikir, bahwa dia punya hak untuk tahu. Apalagi Dinda adalah putrinya yang harusnya bisa merawat dan membiayai pengobatan Nada, bukan kean yang orang lain.

__ADS_1


Kean sekarang mengerti kenapa Nada menyembunyikannya dari Dinda.


"Din, abang tahu kita salah."


"Ya emang Abang salah," sela Dinda sebelum Kean menyelesaikan ucapannya.


"Dengerin Abang dulu ya, jangan di sela," ujar Kean dengan wajah serius. Melihat wajah Kean yang sudah seperti ini, membuat nyali Dinda kembali menciut.


"Sekarang kamu sudah tahu kalau Ibu sakit. Jadi jangan perlihatkan wajah sedih dan bersalah itu. Karena itu akan membuat Ibu lebih kepikiran lagi! Kamu harus bisa melihat dari sisi pandang beliau, agar kamu bisa mengerti perasaanya."


Dinda terdiam, dia mencoba mencerna ucapan Kean kembali. Ternyata memandang dari sudut yang lain itu sulit. Kita harus benar-benar mencerna dan memikirkannya lagi serta menahan emosi.


Tak lama kemudian, Nada sudah sadarkan diri kembali. Melihat Nada yang sudah sadar, membuat Kean dan Dinda.menghampirinya.


"Dinda," lirih Nada saat melihat putrinya ada di sini.


Nada memegang lembut wajah Dinda, dia sangat merindukan gadis itu. Sudah cukup lama, mereka tidak saling bertemu.


" Iya, ini Dinda," jawabnya dengan menatap Nada penuh kerinduan. Meskipun Ibunya galak dan suka marah-marah, tapi Dinda tetap merindukannya.


Ketika mengingat tentang Devan lagi, Nada kembali ingin pulang,tapi tubuhnya sudah benar-benar lemas.


"Ibu kenapa? Butuh apa biar Dinda yang ambilkan."


"Devan ...," lirihnya.


"Devan di bawa pergi oleh ayahmu!" ujar Nada.


"Di bawa pergi?" ulang Dinda yang semakin tidak mengerti.


"Bukankah Devan sudah di titipkan ke panti?" sahut Kean.


"Panti?" Dinda terkejut saat mendengar bahwa Devan di titipkan ke panti.


Sebelumnya, Kean menawarkan untuk mengambil Devan dan memberikannya tempat tinggal yang aman. Tapi, Nada menolak. Dia merasa tak enak hati karena sudah terlalu banyak merepotkan Kean. Jadi, Nada menelpon Ibu panti yang tidak jauh dari rumah meraka. Dia menitipkan Devan untuk tinggal di sana sementara, setidaknya makan Devan terjamin.


Niatan awal Nada jika dia meninggal juga ingin menitipkan Devan di sana agar Dinda tidak kerepotan mengurus adiknya. Tapi, satu jam yang lalu, Nada mendapatkan telepon dari Ibu Panti kalau Bambang mengambil Devan saat masih berada di sekolah. Ketika Ibu panti menyusul ke rumah, ternyata rumah sepi tidak ada orang.


Hal itu membuat Ibu panti bingung dan khawatir. Jadi, dia menghubungi Nada. Jika bambang Ayah yang baik, Nada pasti tidak akan khawatir. Tapi, entah kenapa sejak tadi firasat Nada sangat tidak baik. Dia takut kalau Bambang melakukan sesuatu yang tidak-tidak.


"Kalau begitu, biar Dinda saja yang pulang dan mencari Devan. Ibu di sini saja, ya,"pinta Dinda.


" Tidak, Ibu mau ikut. Hati Ibu tidak tenang kalau belum tahu keadaan Devan. "


"Tapi, Buk___ kondisi Ibu sekarang tidak memungkinkan untuk ikut." Dinda berusaha memberikan pengertian kepada Nada agar dia tetap berada di rumah sakit.


Tapi, tiba-tiba ponsel Nada berbunyi. Dinda mengambil ponsel itu, dan ternyata panggilan telepon dari Bambang.

__ADS_1


" Siapa, Din? "


" Ayah, Bu. "


" Kamu loud speaker, "pinta Nada.


" Halo, Nada! Kenapa kamu tadi terus meneleponku? Di mana kamu? Kenapa tidak ada di rumah, justru menitipkan Devan ke panti asuhan? "ujar Bambang di ujung telepon.


" Ayah yang di mana? Ayah bawa ke mana Devan? " sahut dinda.


" Hei, kenapa jadi kamu yang berbicara bocah brengsek! Mana Ibumu? " teriak Bambang saat tahu Dinda yang berbicara.


" Dinda bukan bocah brengsek! "


Dengan sekuat tenaga, Nada langsung meraih ponsel itu dari tangan Dinda.


" Bambang jangan berbuat macam-macam! Katakan di mana Devan? "


Terdengar suara tawa dari ujung telepon. " Ternyata kamu masih peduli juga dengan anak itu! "


" Apa maksud kamu berbicara seperti itu?" Firasat Nada semakin terasa tidak enak.


Kemudian, dia mendengar Bambang mengatakan kalau sudah memberikan kehidupan yang layak bagi Devan. Jadi, Nada tidak perlu menitipkan Devan ke panti asuhan lagi.


"Apa maksud Kamu Bambang?"


"Kamu kenapa bodoh sekali, sampai tidak mengerti maksudku. Aku sudah menjual anak itu ke orang kaya yang ingin memiliki anak! Jadi, hidupnya lebih terjamin dan lebih berguna daripada tinggal di panti!"


Ponsel Nada seketika jatuh dari tangannya. Dunianya terasa berhenti berputar saat mendengar bahwa Bambang telah menjual Devan ke orang kaya. Dia benar-benar tidak menyangka, bahwa Bambang sebiadab itu sampai rela menjual anaknya sendiri demi uang.


Menurut Bambang, dia sudah melakukan hal baik dengan membuat devan bisa memiliki kehidupan yang layak, tapi tidak bagi Nada dan Dinda.


Ternyata firasat buruk Nada tidak salah, laki-laki itu benar-benar bukan manusia. Dia sungguh tidak mempunyai hati dan akal pikiran yang sehat. Binatang saja tidak ada yang seperti itu kepada anaknya sendiri, tapi dia ___"


Dada Nada tiba-tiba terasa sesak, nafasnya tercekat. Semua semangat hidupnya telah hilang. Devan dan Dinda adalah penyemangat hidupnya. Tapi, kini penyemangat itu sudah pergi. Jadi, untuk apa pengobatan ini?.


Melihat Nada yang kejang-kejang, membuat Dinda dan Kean panik. Sang perawat segera memanggilkan Dokter. Teriakan panggilan dari Dinda dan Kean mulai samar-samar terdengar, sampai akhirnya Nada sudah tidak sadarkan diri.


"Ibu ...," teriak Dinda saat melihat Ibunya tak sadarkan diri lagi.


...****************...


Ah ... Emosi dan nangis aku waktu nulis part ini. Tapi, di dunia nyata memang ada segelintir orang seperti Bambang. Dia menganggap apa yang dia lakukan itu baik, tapi sebenarnya tidak sama sekali.


Makanya, Author tulis ceritanya agar bisa jadi pelajaran bagi kita untuk berpikir kembali jika ingin bertahan dengan pria semacam itu. Karena hatinya sudah gelap, tak ada lagi cahaya terang dalam hidupnya. Hatinya sudah penuh dengan bujuk rayu setan, jadi akalnya sudah tak lagi berfungsi. Semoga kita di jauhkan dari orang seperti itu! Amin.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...

__ADS_1


__ADS_2