
Rembulan malam telah pergi, tergantikan mentari yang telah datang menyapa. Di sebuah dapur minimalis, terlihat seorang wanita cantik tengah sibuk dengan beberapa bahan makanan. Meskipun tak pandai memasak, setidaknya dia masih bisa membuat nasi goreng spesial dan telor ceplok.
Jika ada kesempatan, dia ingin belajar memasak dengan mertuanya yang sangat jago membuat berbagai hidangan biar semakin di sayang suami. Sejak kemarin, Dinda sudah bertekad ingin menjadi istri yang bisa melayani dan mengurus suami di rumah. Wanita karir sudah bukan menjadi prioritas utamanya lagi seperti dulu.
Untungnya para maid sudah mengisi kulkas cukup lengkap dengan berbagai bahan makanan, tinggal Dinda belajar mengolahnya menjadi sebuah makanan yang enak.
Mencium aroma makanan yang menggugah selera, membuat perut Kean tiba-tiba keroncongan, padahal dia masih ingin olahraga sebentar demi
menjaga kebugaran tubuhnya.
Kean tersenyum melihat pemandangan yang baru pertamakali dia lihat. Kean berjalan menghampiri Dinda, lalu melingkarkan tangannya di perut sang istri.
" Abang ...," lirih Dinda ketika Kean menciumi punggung, dan leher jenjangnya, membuat rasa geli menyeruak.
" Harum sekali, kamu masak apa?" tanya Kean yang masih memeluk Dinda.
" Nasi goreng komplit spesial."
" Sepertinya enak," Kean sudah menelan salivanya ketika mencium aroma nasi goreng yang semakin menyengat.
Kemudian, Dinda menyendokkan nasi goreng yang masih mengepul agar Kean mencobanya.
" Panas nggak?" tanya Kean.
Ketika Dinda mau meniup makanannya, Kean menghentikan aksi Dinda.
" Jangan di tiup, nanti berkahnya hilang!" tukas Kean, lalu melahap nasi goreng yang sudah tak terlalu panas itu.
" Gimana? Enak, nggak?" tanya Dinda penasaran karena dia belum terlalu tahu juga seperti apa selera Kean. Ini saja, pertama kalinya dia memasak sejak mereka menikah. Karena biasanya yang memasak para maid dan Mama Dira.
Kean merem melek mencoba menikmati masakan pertama istrinya itu. Rasanya benar-benar sudah pas di lidah Kean, ternyata istrinya bisa masak juga karena Kean tak bisa. Yang jago masak adalah Lean, ketika mereka tinggal di luar Negeri, Lean lah yang selalu memasak untuknya.
" Enak, boleh nambah?" tanya Kean dengan senyuman.
__ADS_1
Dinda tersenyum, padahal dia sudah was was antara enak apa nggak karena ini resep baru yang dia lihat di google, dan ternyata enak. Dinda segera mematikan kompor dan menyiapkan dua piring nasi goreng komplit itu di atas piring, lengkap dengan toping telur ceplok diatasnya.
Ini adalah nasi goreng komplit serta spesial bagi Dinda karena topingnya ada banyak sekali, karena bahan di kulkas dan lemari dapur lengkap. Tidak seperti dulu yang hanya memakai 1/2 toping saja karena ketersediaan bahan makanan di rumah terbatas.
Tak lupa pula, Dinda menyiapkan susu hangat untuk Kean karena dia selalu minum susu ketika sarapan, berbeda dengan Dinda yang sama sekali tak suka dengan susu.
Melihat perbedaan minuman di antara mereka, membuat Kean tersenyum. Mereka memang memiliki banyak perbedaan, tapi tetap berusaha untuk bisa menyatu bersama.
" Kamu kenapa nggak suka minum susu?" tanya Kean ketika melihat Dinda meminum jus jeruk.
" Karena nggak suka."
Kean manggut-manggut, lalu segera memakan nasi goreng buatan istrinya. Karena enak, Kean menghabiskannya sampai tak tersisa. Dinda yang melihat itu sangat bahagia. Ternyata seperti ini rasanya melihat makanan yang kita masak di makan sampai habis.
" Kamu bisa masak apa lagi, Nda?" tanya kean.
" Hanya ini," jawab Dinda singkat. Karena dia memang hanya bisa memasak nasi goreng.
Kean terdiam, ternyata ekspetasinya terlalu tinggi karena menganggap istrinya pintar masak. Tapi, lumayanlah setidak ya ada makanan yang masih bisa dia masak dan enak. Jadi, kedepannya masih ada harapan bisa memasak berbagai hidangan seperti mamanya.
Di karenakan jarak berangkat ke kantor dekat, membuat waktu mereka bersama di pagi hari jauh lebih banyak dari sebelumnya.
...☘️☘️☘️...
Setelah sehari mengambil cuti, Lean kembali bekerja seperti biasanya. Namun, sikapnya jauh berbeda dari sebelumnya. Jika biasanya Lean akan bersikap ramah, kini dia lebih terlihat jauh lebih dingin dan jarang tersenyum.
Meskipun sudah bisa menenangkan hatinya, tapi moodnya masih dalam mode malas untuk sekedar tersenyum atau bercanda seperti biasanya. Para perawat yang menyadarinya pun sedikit bingung dengan perubahan sikap Kean.
"Eh, kalian merasa ada yang aneh nggak sih, sama sikap Dokter Lean?" ujar seorang perawat berambut pendek.
" Iya, sikapnya lebih dingin. Terlihat seperti kakaknya yang dingin, tanpa ekspresi tapi tetap tampan," sahut perawat lainnya.
"Ada apa, ya?" tanya sang perawat berambut pendek, dan di jawab dengan gelengan kepala dengan para temannya. Karena memang mereka juga tidak tahu kenapa sikap Kean berubah.
__ADS_1
Ketika shift kerja selesai, Lean tanpa sengaja berpapasan dengan Lea. Rasanya dia ingin menghindar, namun Lea justru memanggilnya.
" Lean," panggil Lea seraya berjalan menghampiri Lean.
Lean terpaksa menghentikan langkahnya, karena takut terlalu kelihatan jika dia sedang menghindari Lea. Lean hanya bisa menghembuskan nafas panjang, dia berharap bisa bersikap biasa saja saat berada di depan Lea.
" Ada apa Dokter Leandra?" ujar Kean dengan sebutan formal.
Lea mengerutkan keningnya ketika melihat raut wajah Lean yang jauh berbeda dari biasanya ketik bertemu dengannya.
" Aku mau minta maaf karena waktu itu tidak datang. Karena ada urusan keluarga yang mendadak. Jadi, lupa mau mengabari kamu," dusta Lea.
Lean memicingkan matanya ketika mendengar Lea sedang berdusta padanya. Sepertinya Lea tidak tahu kalau dia sempat menelpon dan kekasihnya yang mengangkat. Jadi, dia masih saja berdusta.
" Tidak apa-apa. "
" Em ... Gimana kalau kita makan bareng sekarang saja. Kebetulan aku lagi luang, dan sebagai pengganti yang tertunda itu," tawar Lean.
" Tidak perlu repot-repot mengajak kak Lean makan bersama, karena dia ada janji makan dengan saya!" sahut seorang gadis cantik yang datang menghampiri mereka.
Lean terkejut tiba-tiba ada Nala datang dan langsung memeluk lengannya dengan mesra. Lean berusaha untuk melepaskan tangan Nala, namun Nala justru menatapnya tajam. Seakan tak suka melihat Lean melepaskan tangannya.
" Kamu siapa? "tanya Lea yang tak mengenal siapa Nala.
Nala tersenyum, walau dalam hati deg degan parah. Sebenarnya kakinya juga bergetar, tapi dia mencoba merilekskan diri agar tak terlihat. Meskipun sudah belajar sejak kemarin untuk menjadi wanita tegas dan tak takut dengan siapa pun. Tetap saja Nala masih sedikit grogi, karena ini adalah pertama kalinya dia bisa bersikap seperti ini.
" Perkenalkan, nama saya Nala avrelia prayoga. Pacar kak Lean," ucap Nala lantang dengan menyodorkan tangannya di depan Lea.
Bola mata Lean membulat sempurna ketika mendengar Nala memperkenalkan diri sebagai pacarnya.
Sejak kapan mereka pacaran? Dan sejak kapan Nala yang pendiam bisa bersikap seperti ini. Batin Lean dengan menatap ke arah Nala.
...***********...
__ADS_1
Nala Avrelia Prayoga