My Best Partner

My Best Partner
Partner Terbaik ~ Bab 118


__ADS_3

Selesai acara, semua orang pada pulang, selain Lean. Dia akan tinggal sementara di rumah Papi Rian sampai Nala lulus, karena jarak sekolah Nala akan sangat jauh jika tinggal di kediaman Fabio.


Sebenarnya bukan hanya soal jarak saja, lebih tepatnya Papi Rian dan Mami Senja belum siap jika langsung di tinggal, dan Lean memaklumi hal itu. Jadi dia yang mengalah untuk tinggal di rumah Papi Rian untuk sementara waktu. Setelah Nala lulus, mereka akan tinggal sendiri karena menyediakan tempat tinggal adalah tanggung jawab suami, dan Lean juga sudah memilikinya.


" Le, kamu sendiri tahu kalau Nala masih sekolah dan___" tiba-tiba tenggorokan Papi Rian tercekat, seakan tak mampu lagi melanjutkan ucapannya.


"Masih di bawah umur," sambung Lean dengan tersenyum. "Papi tenang saja, Lean paham dan tahu betul kok. Jadi, Papi tidak usah khawatir."


Dari gerak - gerik Papi Rian yang terus mengajaknya mengobrol, membuat Lean paham betul maksud dari ayah mertuanya itu tanpa harus di ucapkan dengan kata-kata. Sebelumnya, Lean juga sudah memikirkan semuanya secara matang apa saja kelebihan dan kekurangan menikahi gadis kecil seperti Nala.


" Papi tidak bermaksud untuk melarang, karena kalian berhak melakukan apa saja yang biasa di lakukan oleh sepasang suami istri. Hanya mengingatkan untuk hati-hati saja," jelas Papi Rian sembari menepuk pundak Lean. Kemudian beranjak pergi meninggalkan menantunya, Dia cukup merasa malu membahas soal itu di hari pertama mereka menikah. Tapi, mau bagaimana lagi. Itu adalah pesan dari sang istri yang merupakan mantan dokter kandungan.


Melihat mertuanya pergi, Lean ikut beranjak pergi menuju kamar Nala. Karena dia sudah sangat capek ingin istirahat.


Di dalam kamar, terlihat Nala yang gugup sambil mondar mandir tak jelas. Dia memang masih di bawah umur, tapi setelah di lamar oleh Lean, Nala jadi mencari tahu soal apa saja yang di lakukan oleh sepasang suami istri. Karena dia kelak ingin menjadi istri soleha yang bisa menyenangkan suaminya.


Mendengar suara ketukan pintu, membuat Nala segera berjalan membukakan pintu.


" Kakak," panggil Nala saat melihat Lean yang mengetuk pintu.


" Boleh masuk?" tanya Lean dengan tersenyum.


Nala mengangguk, dan membukakan pintu kamarnya. Mereka berdua terlihat sangat canggung sekali.

__ADS_1


"Oh, ya Nal. Pakaian Kakak ada di mana?" tanya Lean yang tidak melihat koper pakaiannya.


Lean memang tidak tahu bahwa dia akan menikah malam ini dan tinggal di sini, tapi ternyata Papa Ken ternyata sudah menyiapkan beberapa pakaian Lean secara diam-diam sebagai jaga-jaga kalau dia menginap di rumah mertua.


" Oh, sudah aku simpan di lemari," jawab Nala.


Kemudian, dia menunjukkan di mana dia menyimpan pakaian Lean yang hanya beberapa helai.


Rapi juga ternyata istriku, " batin Lean saat melihat kamar Nala yang tertata rapi.


" Kamu sudah sholat isya? "tanya Lean sembari mengambil pakaiannya.


Nala hanya mengangguk, membuat Lean mengerutkan keningnya. Lalu menyentuh puncak kepala Nala.


Meleleh hati adek bang ...


Setelah itu, Lean pergi ke kamar mandi untuk mandi karena dia merasa gerah, sekalian mengambil air wudhu dan sholat isya terlebih dahulu.


Mendengar Lean belum sholat, Nala segera menyiapkan peralatan sholat untuk Lean. Lalu duduk di sofa sembari membaca buku pelajaran.


Tak lama kemudian, Lean sudah kembali dan duduk di sampingnya dengan meletakkan dagunya di pundak Nala.


" Lagi belajar apa?" tanya Lean.

__ADS_1


" Oh, hanya mengulang pelajaran saja," jawab Nala gugup.


Posisi mereka yang seintim ini, membuat jantung Nala berdetak sangat kencang seakan ingin copot dari tempatnya.


Kak Lean ... Apakah dia tidak sadar kalau sudah membuat jantungku hampir copot? Batin Nala dengan tubuh yang menegang.


" Sudah malam, ayo tidur," ucap Lean sembari menutup buku pelajaran Nala. Sedangkan Nala masih diam mematung, membuat Lean jadi bingung.


" Nal," panggil Lean dengan mengulurkan tangannya.


" Eh, iya ...," jawab Nala gugup.


" Kamu nggak tidur?" tanya Lean.


Nala mengangguk, lalu menggeleng. Membuat Lean tersenyum melihatnya. Lalu, dia duduk kembali di samping Nala.


"Kamu kenapa?" tanya Lean.


" Gapapa kok," jawab Nala.


Kemudian, Lean mengusap kepala Nala lembut. " Nggak usah gugup ataupun takut, kakak tidak akan memakan kamu kok!" goda Lean yang membuat Nala mengerucutkan bibirnya.


...****************...

__ADS_1


Oh ya, enaknya mereka manggil abanga tau mas ya?


__ADS_2