
"Bang, apakah hari ini kita sudah masuk kerja?" tanya Dinda seraya memeluk Kean.
" Apa Kamu masih butuh libur?" Bukannya menjawab, Kean justru melontarkan sebuah pertanyaan kembali.
Dinda mengerucutkan bibirnya. Jika di tanya soal itu, tentu saja ingin menjawab iya. Tapi, di sisi lain Dinda juga masih punya tugas untuk menyelesaikan magangnya. Jadi, dia tidak boleh terlalu lama ambil cuti libur. Nanti akan ada yang curiga dan berbicara yang tidak-tidak lagi.
Apalagi Dinda meminta untuk merahasiakan pernikahanya terlebih dahulu.
Apakah Kean setuju? Awalnya tidak, karena Kean tidak ingin menutupi fakta kalau dia sudah menikah. Kean tak ingin menjadikan Dinda seperti simpanan yang statusnya di sembunyikan.
Tapi, Dinda justru membalas dengan berkata. Bukankah status pernikahan mama Dira dan papa Ken juga di sembunyikan?
Sebenarnya bukan di sembunyikan, hanya saja mereka malas menjelaskan kepada orang lain atau media. Selama ini, orang tahu kalau seorang Kenzo Clarence fabian adalah seorang duda yang sangat mencintai istrinya.
Kemudian,tiba-tiba ada berita tentang dia sudah menikah kembali, pasti akan banyak yang mengulik berita siapa wanita itu? Ketika mereka tahu bahwa istri barunya adalah orang yang sama. Pasti berita itu akan viral dengan Clickbait mengejutkan! Ternyata seorang pengusaha sukses Kenzo Clarence Fabian telah menikah lagi, dan yang paling mengejutkan istri barunya adalah orang yang sama dengan istri kenzo yang meninggal 16 tahun lalu. Saat berita itu tersebar, pasti mereka semua akan kewalahan membereskan berita itu.
Sedangkan Alasan Dinda, dia tak mau orang tahu dulu karena takut ada pembicaraan miring tentangnya, apalagi Dinda masih magang di sana. Dia belum siap untuk menjalani hidup seperti itu, kedamaian saat ini sudah cukup baginya. Setelah melewati berbagai pertimbangan, akhirnya Kean setuju demi kenyamanan istrinya.
"Gimana Nda …?" tanya Kean lagi ketika melihat Dinda hanya diam saja.
"Jika aku bilang iya, apakah Abang akan memberikan libur? Tapi aku pengen Abang ikut libur juga, biar aku tak sendirian."
Kean mengusap puncak kepala istrinya, lalu tersenyum. " Tentu saja! Abang akan libur sehari lagi. Tapi, besok kita sudah masuk kerja, ya? Soalnya kasihan Aksa kalau harus mengerjakan semuanya sendiri. "
Dinda tersenyum, dan langsung memeluk Kean erat." Makasih Abang …."
Setelah itu, mereka berdua turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama.
" Selamat pagi, Ma, Pa. " Seperti biasanya Kean masih mencium pipi Dira ketika mengucapkan selamat pagi.
" Pagi, Ma, Pa. " Sapa Dinda yang masih sedikit canggung.
"Pagi sayang, kalian duduk ya. Terus kita sarapan bersama."
" Lean sama Anne mana, Ma? "tanya Kean saat melihat tak ada kedua adiknya di meja makan.
" Mereka sudah berangkat pagi-pagi sekali. "
__ADS_1
" Oh …, "
Selesai sarapan, Ken memulai pembicaraan yang ingin dia sampaikan. Dia meminta pendapat tentang rencana pesta pernikahan mereka. Tapi, Kean dan Dinda sudah sepakat untuk tidak melakukan acara pernikahan. Bagi Dinda, percuma dia melakukan acara jika tak ada keluarga yang mendampinginya.
Pernikahan yang dia impikan selama ini, telah sirna bersama kepergian Nada. Apalagi Devan juga belum ketemu, membuat Dinda tak akan bahagia jika mempunyai sebuah pesta. Justru akan membuatnya merasa sedih, karena tak tahu di mana keberadaan adiknya.
" Jadi, kalian sudah sepakat untuk tidak melakukan resepsi?" Papa Ken mencoba memastikan kembali.
Kean dan Dinda mengangguk bersama. Sebenarnya Kean juga tak terlalu peduli ada acara atau tidak. Kean yang introvert tidak menyukai pesta dan keramaian. Jadi, ketika Dinda tak mau mengadakan resepsi, Kean setuju saja.
" Yasudah, tidak masalah. Lagian, ada tidaknya sebuah resepsi juga tak akan memengaruhi pernikahan kalian. Mama berharap bahwa rumah tangga kalian bisa langgeng sampai ke jannahnya."
" Amin, makasih, Ma." Seru Kean dan Dinda.
"Oh, ya Din. Kalau soal Devan, kamu tenang saja. Papa akan terus berusaha untuk mencarinya sampai ketemu. Jadi, kamu berdoa saja, semoga Devan segera di temukan dan dalam kondisi baik-baik saja. "
" Amin … Makasih banyak ya, Pa."
"Sama-sama."
Setelah membicarakan soal pernikahan, Kean dan Dinda pamit keluar untuk mengambil barang-barang Dinda di kosnya dulu.
Ini adalah pertama kalinya mereka semobil berdua setelah menikah. Jika dulu suasana di dalam mobil bersama Kean sangat dingin dan mencekam, kini sangat romantis. Tangan kiri Kean terus menggandeng tangan Dinda, sedangkan tangan kanannya fokus menyetir. Bahkan, saat berhenti di lampu merah, Kean sesekali mencium tangannya lembut dan tersenyum padanya. Ternyata pria dingin itu bisa seromantis ini juga jika bersama kekasih halalnya.
Sesampainya di gang kos Dinda, mereka turun dari mobil dan berjalan saling bergandengan tangan. Dinda merasa terlindungi sekali, ada Kean di sampingnya. Karena hari begitu terang, ada beberapa tetangga wanita yang terus melihat ke arah mereka. Padahal, suaminya sudah memakai topi baseball, kacamata hitam dan masker untuk menutupi wajah tampannya, tapi mereka masih saja tak berkedip seakan menelanjangi wajah tampan itu. Memang sih, tubuh proporsional suaminya, pasti akan membuat para wanita penasaran seperti apa wajah di balik masker itu.
"Bang," panggil Dinda.
"Iya ada apa?"
"Damage ganteng dan keren abang bisa dikurangi nggak, sih?"
Kean menghentikan langkahnya, lalu menatap ke arah istrinya.
"Emangnya Abang ganteng dan keren?" goda Kean.
Melihat Kean yang justru menggodanya, membuat Dinda berdecak kesal. Tanpa berkata apa-apa lagi, Dinda langsung mengambil alih jalan dan menghentakkan genggaman tangan Kean. Melihat tingkah Dinda yang seperti itu, membuat Kean tersenyum di balik maskernya.
__ADS_1
Andai dia tak memakai masker, mungkin para wanita di gang itu akan datang menghampirinya seperti dulu saat dia mengantarkan Dinda pulang.
Kean mengejar langkah istrinya yang ngambek, dan melingkarkan tangan kirinya di pundak Dinda, karena tangan kanan menenteng Oleh-oleh untuk Tante Mirna. Dinda menggoyangkan tubuhnya agar tangan Kean lepas, tapi kean tak mau melepaskannya.
"Jangan suka ngambek, nanti cepat tua!"
Dinda memberikan tatapan menghunus ke arah Kean.
"Oh, Abang bilang aku sudah tua?" mode ngambek Dinda mulai lagi, andai ini bukan tempat umum mungkin Kean sudah ___"
" Nggak kok, kamu masih cantik!" puji Kean agar perselisihan mereka tak semakin melebar.
Sesampainya di depan kos, Tante Mirna sempat terkejut saat melihat Dinda datang.
"Assalamualaikum, Tante,"salam Dinda.
" Waalaikumsalam, " jawab Tante Mirna. Dia masih mencoba mengingat-ingat siapa wanita dengan penampilan modis dan berhijab yang ada di depannya saat ini.
" Dinda! "seru Tante Mirna setelah mengingat siapa dia.
Dinda tersenyum, membuat Tante mirna mengecek penampilannya yang terlihat begitu berbeda.
" Tante kira tadi siapa? Karena penam3kamu jauh berbeda, terus ini siapa? "tanya Tante Mirna dengan menatap ke arah Kean.
" Oh, dia suamiku, Tan. " Kean menundukkan kepala sebentar sebagai bentuk hormat saat Dinda memperkenalkannya.
" Suami? Jadi kamu seriusan sudah menikah? "
Dinda mengangguk. Awalnya tante Mirna sempat tak percaya ketika Dinda mengatakan bahwa dia sudah menikah. Namun, melihat Dinda benar-benar datang bersama seorang pria, membuatnya percaya.
"Yasudah, kita masuk kedalam rumah dulu." Tante Mirna mempersilahkan mereka berdua masuk.
Setelah menundukkan bokong mereka di kursi, Kean mulai membuka kaca mata dan maskernya. Saat melihat bagaimana wajah di balik masker dan kaca mata hitam itu, membuat Tante Mirna tercengang dan tak berkedip sedikitpun.
...****************...
__ADS_1