My Best Partner

My Best Partner
BAB 146


__ADS_3

Kean mengucek matanya, takutnya dia salah penglihatan atau hanya berhalusinasi saja. Tapi, ternyata tidak! Ini benar-benar nyata. Kean mengambil sebuah foto hasil usg itu, lalu membaca nama yang tertera di sana.


Ny. Adinda Larasati.


Dari nama yang tertulis di sana, menunjukkan bahwa itu adalah hasil usg istrinya. Kean menutup mulutnya yang menganga akibat terkejut, bahkan matanya mulai berembun karena terharu. Dia mencoba memperhatikan kembali foto di sana, terlihat ada tiga titik.


Kenapa di dalam foto ini ada tiga titik? Dulu, saat Mama hamil Anne hanya ada satu, apa jangan-jangan... Kean mencoba menebak. Tapi, dia tidak ingin menduga takutnya salah. Jadi, Kean segera berjalan menuju kamarnya. Saat ingin membuka pintu, ternyata di kunci, sepertinya Dinda benar-benar marah kali ini.


" Nda ... Bukain pintunya sayang," panggil Kean dengan terus mengetuk pintu. Namun, tak kunjung mendapat sahutan.


Apakah Dinda sudah tertidur? Batinnya.


" Sayang ... Jika kamu belum tidur, Abang mohon bukain pintunya. Abang minta maaf karena sudah tidak menepati janji, maaf karena Abang egois dan lebih mementingkan pekerjaan. Tapi, percayalah bahwa kamu jauh lebih penting," bujuk Kean.

__ADS_1


" Alah, bulshit! Kalau istrinya sudah marah aja kek gitu ngomongnya. Dasar laki-laki, tenyata sama aja! Baru menikah beberapa bulan saja sudah lupa sama istrinya. Apalagi kalau sampai bertahun-tahun, palingan juga lupa kalau sudah punya istri!" gerutu dinda yang mengomel sendiri.


Hormon kehamilannya, membuat Dinda semakin sensitif dan mudah marah. Dia memang tidak mengalami muntah-muntah, hanya terus-menerus merasa ngantuk dan lapar. Mungkin karena efek hamil kembar tiga sehingga membutuhkan asupan makanan yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.


Awalnya, Dinda juga tidak menyadari bahwa dia tengah hamil soalnya dia sempat mengalami flek sedikit yang ia kira menstruasinya sedang tidak teratur.


Yang pertama kali menyadari bahwa dia sedang hamil adalah Mama Dira, saat itu Dinda mengelak dan menceritakan semuanya. Saat mendengar cerita Dinda, membuat Mama Dira semakin yakin bahwa menantunya itu tengah hamil. Karena Mama Dira juga begitu saat hamil Kean dan Lean. Sebelum mengetahui bahwa dia tengah hamil, Mama Dira tidak mengalami mual-mual seperti ibu hamil pada umumnya. Itu bisa di bilang keberkahan sementara, karena sesudahnya Mama Dira sempat mengalami morning sickness, namun tidak terlalu parah saat hamil Anne.


Setiap kehamilan itu memang tidak sama, sekalipun itu orang yang sama. Karena kehamilan pertama dan kedua Mama Dira juga begitu berbeda. Setelah mendapatkan penjelasan panjang lebar, akhirnya Dinda memutuskan untuk melakukan pemeriksaan agar jelas. Namun, saat itu dia tidak ingin Kean tahu dulu. Dia ingin memberikan sebuah kejutan jika benar dia memang hamil.


Sungguh Tuhan benar-benar penuh kejutan, beberapa bulan yang lalu dia kehilangan calon bayinya. Dan kini, Tuhan kembali memberikannya kesempatan untuk hamil kembali. Bahkan, Tuhan memberikan bonus dengan menitipkan tiga janin sekaligus di dalam rahimnya.


" Selamat ya sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ibu, dan Mama akan menjadi seorang Oma. Kehamilan yang sekarang, kamu harus menjaganya dengan baik. Kalau bisa, Mama akan suruh Kean siaga dua puluh empat jam untuk menjaga kamu atau kamu butuh bodyguard? " tawar Mam Dira.

__ADS_1


Dinda hanya bisa tersenyum saat melihat Ibu mertuanya yang begitu baik dan sangat perhatian padanya.


" Kamu kenapa? Apakah ada yang salah atau Mama terlalu cerewet ya? "ujar Mama Dira.


Dinda menggeleng, lalu memeluk Ibu mertuanya dari samping. Dia benar-benar bersyukur memiliki Ibu mertuanya yang sangat baik seperti Ibu kandung.


" Makasih banyak ya, Ma... Karena sudah sayang dan perhatian seperti ini sama Dinda, " ucap Dinda.


Mama Dira mengusap lembut lengan Dinda. " Kamu itu jangan terlalu sungkan sama Mama. Anggap Mama ini Ibumu sendiri, bukan Ibu mertua," ujar mama Dira yang di angguki oleh Dinda.


" Kamu tuh ya ... Benar-benar mengingatkan pada saat Mama masih muda dulu," lanjut Mama Dira.


" Oh, ya? Seperti apa Mama dulu? "tanya Dinda penasaran.

__ADS_1


Setelah itu, Mama Dira menceritakan bagaimana dirinya dulu yang juga mendapatkan perlakuan sangat baik dari Oma Carol. Oma Carol adalah panutan Mama Dira untuk menjadi mertua yang baik pada menantunya.


...****************...


__ADS_2