My Best Partner

My Best Partner
Partner Terbaik ~ Bab 108


__ADS_3

Di bandara, tepatnya gerbang kedatang, terlihat seorang gadis cantik tengah menyeret sebuah koper miliknya. Setelah melalui pembicaraannya dengan Oma Sekar dan Papinya, Nala di ijinkan untuk pulang ke Indonesia.


Seorang supir sudah datang untuk menjemput Nala, awalnya Mami Senja dan papi Rian ingin datang menjemput, tapi Nala yang menolak. Karena dia ingin menemui seseorang terlebih dahulu, sebelum pulang ke rumah.


" Ke Rumah sakit internasional xx ya, Pak," ujar Nala pada sang supir.


" Baik, Non."


Senyuman manis mengembang di wajah cantik itu, sebentar lagi dia bisa bertemu dengan seseorang yang ia rindukan.


" Akhirnya ... bisa menghirup udara di kota kelahiran, " gumam Nala sembari menatap pemandangan malam kota Jakarta dari jendela.


" Bagaimana perjalanannya, non?" tanya sang supir agar suasana tidak sunyi.


" Cukup lancar, Pak," jawab Nala.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya Nala sampai juga di rumah sakit tempat Lean bekerja.


Nala berjalan menyusuri koridor rumah sakit, menuju ruangan istirahat Lean. Sesampainya di ruangan itu, Nala mencoba untuk mengetuk pintu. Namun, tak kunjung ada jawaban.


" Apa kak Lean tidak ada di ruangannya? "


" Anda mencari Dokter Leanne?" tanya seorang perawat yang kebetulan lewat.


Nala membalikkan badannya. " Iya, apakah anda tahu di mana Dokter Leanne?" tanya Nala sopan.

__ADS_1


" Sepertinya masih ada di ruangan operasi, " jawab perawat itu.


" Kalau boleh tahu, ruangan operasinya ada di mana ya" tanya Nala.


Untungnya perawat itu, mau memberitahukan pada Nala. Sehingga, membuat Nala lebih mudah untuk menemukan di mana ruangan operasi.


Saat melihat Lean yang sesekali menggeleng dan mengusap keningnya, membuat Abi menyadari bahwa dia sedang tak baik-baik saja.


" Le, kamu kenapa?" tanya Abi.


" Kepalaku sedikit berdenyut," jawab Lean.


" Kalau begitu, istirahatlah. Biar aku saja yang menyelesaikannya!"


" Kamu yakin?" tanya Lean untuk memastikan.


Karena merasa kondisinya semakin tidak enak, Lean memutuskan untuk keluar dari ruang operasi lebih awal. Ketika melihat Dokter sudah keluar dari ruangan operasi, membuat keluarga pasien menghampiri Lean.


" Bagaimana dengan kondisi putra saya, Dok?" tanya keluarga pasien.


" Masih di tangani di dalam," jawab Lean.


Langkah Lean tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang sangat ia rindukan tengah berdiri di hadapannya. Seseorang yang membuat Leanne terus bekerja lembur agar bisa segera mengambil cuti.


Lean mengucek matanya untuk memastikan bahwa apa yang dia lihat sekarang bukan hanya sebuah ilusi semata. Saat melihat Nala masih berdiri di sana dengan tersenyum, membuat Lean segera berjalan menghampirinya.

__ADS_1


" Kamu sudah kembali?" lirih Lean dengan tatapan sayu.


Nala tersenyum. " Iya, aku sudah kembali," jawabnya.


Lean merasa sangat bahagia saat menyadari bahwa ini adalah nyata. Namun, kepalanya semakin berdenyut, pandangannya pun semakin buram.


Saat Nala ingin memeluk Lean untuk meluapkan rasa rindu, dia justru di kejutkan dengan Lean yang tiba-tiba pingsan.


" Kak ...," Nala mencoba menopang tubuh Lean agar tak terjatuh di lantai.


" Kak, kamu kenapa?" tanya Nala sembari menepuk pipi Lean agar sadar.


" Tolong, panggilkan perawat," pinta Nala pada seseorang yang tak jauh darinya.


Tak lama kemudian, sudah ada beberapa perawat yang datang untuk membantunya. Lean segera di larikan ke UGD untuk mendapatkan pemeriksaan.


" Bagaimana kondisinya, Dok? Apakah ada masalah yang serius?" tanya Nala panik saat Dokter selesai memeriksa Lean.


" Tidak, hanya tekanan darahnya Dokter Lean cukup rendah. Itu yang membuat dia pingsan, cukup istirahat yang cukup dan makan-makanan bergizi, "jelas sang Dokter.


Nala menghembuskan nafas lega saat mendengar bahwa tidak ada masalah yang serius.


" Terimakasih, Dokter, " ucap Nala yang diangguki oleh sang Dokter.


...****************...

__ADS_1


Maaf ya, updatenya sedikit...


__ADS_2