My Best Partner

My Best Partner
Bab 80


__ADS_3

Matahari mulai tinggi, seorang pria tampan mulai mengerjapkan matanya. Semalam, seusai sholat istikharah Lean tidak bisa tidur sampai selesai sholat subuh. Jawaban dari sholat istikharahnya benar-benar di luar dugaan, membuat Lean terus kepikiran. Akhirnya, matahari sudah tinggi baru dia bangun.


Lean membuka matanya, tak lupa dia membaca doa bangun tidur terlebih dahulu.


Setelah itu, Lean melihat jam di layar ponselnya menunjukkan sudah pukul sebelas siang, serta ada pesan dari Anne.


Anne : Kakak, hari ini jangan lupa ya, jemput aku di sekolah, pukul 1 siang harus sudah sampai di sini. Nggak boleh telat, dan dandan yang ganteng!


Lean : Iya, cerewet! Kakak mah tiap hari selalu ganteng tanpa kamu suruh dandan.


Anne : Astagfirullah, mimpi apa aku bisa punya kakak narsis banget kayak gini!


Lean : Mimpi punya kakak pangeran tampan lah! Sudah, kakak mau mandi.


Anne : Astagfirullah hal adzim kak Lean... Jadi, kakak baru bangun? Kebo aja udah membajak sawah, ini kakak malah masih membuat pulau. Sana gih mandi, awas jangan sampai telat!


Anne hanya bisa geleng-geleng kepala mengetahui bahwa kakaknya masih baru bangun jam segini.


Pantas saja jodohnya telat, orang bangun tidur aja telat! Gerutu Anne dalam hati.


Selesai mandi, Lean segera mengganti pakaian. Dia bukanlah orang yang ribet, pakaian kasual sudah cukup baginya karena di rumah sakit juga akan pakai baju dinas.


Karena belum makan dari pagi, cacing di perutnya meronta-ronta minta di beri makan. Alhasil Lean makan terlebih dahulu sebelum berangkat menjemput Anne.


Setelah perjalanan sekitar 30 menit lewat jalan tol, akhirnya Lean sampai juga di depan sekolah Anne tepat waktu, bahkan lebih awal tujuh menit. Tak lama kemudian, terlihat seorang gadis cantik berjalan menuju mobilnya.


" Tumben datang lebih awal," ujar Anne setelah duduk di kursi penumpang samping kemudi.


" Masuk mobil tuh salam, terus salim dulu sama kakaknya, bukannya komentar seperti itu!" nasehat Lean.


Dengan wajah kesal, Anne menyalami Lean. Begitulah kakaknya yang satu ini, tengil, narsis, jahil, gampang protes, tapi baik dan jago masak.


" Kita ke sekolah Nala, ya," ujar Anne seraya memasang sabuk pengamannya.


Bola mata lean membulat sempurna ketika nama Nala di sebutkan, lalu menoleh ke arah Anne.


" Ke-napa menjemput Nala?" tanya Lean dengan sedikit bergetar.


" Aku kan janjian jalan bareng sama Nala, dan bilang kalau mau jemput juga," pungkas Anne dengan wajah biasa saja.


Lean mengerutkan keningnya, adiknya ini selalu saja di luar dugaan. Katanya kemarin hanya minta di anterin jalan, tapi kenapa sekarang justru ada Nala juga.

__ADS_1


Tapi, aku juga sih yang bego, kenapa nggak tanya dulu sama siapa saja jalan-jalannya. Batin Lean dengan menghembuskan nafas panjang.


"Ayo kak jalan, jangan cuma bengong mikirin janda kembang! Nanti telat lagi jemput gadis perawan," titah Anne dengan santainya.


" Iya, iya bawel! Kamu tuh nurun siapa sih, bawel sekali," gerutu Lean.


"Kakak! Masak iya nurun tukang somay, " jawab Anne singkat.


" Enak aja, kakak nggak bawel tau," elak Lean yang tak terima di katai bawel.


Berdebat dengan Anne hanya bisa menguras tenaga, jadi Lean memilih menyudahinya. Kemudian, menginjak pedal gas melaju menembus jalanan kota jakarta.


Sesampainya di depan sekolah Nala, tanpa sengaja Nala sedang bersama seorang pria tengah berbincang-bincang. Melihat hal itu, Anne menyeringai,seketika ide licik muncul di kepalanya.


Sepertinya, author sedang memihakku deh, tahu apa yang aku butuhkan! Batin Anne.


Anne menurunkan kaca jendela, dan memanggil Nala.


" Nal," panggil Anne dari dalam mobil.


" Anne jangan teriak-teriak, lebih baik turun saja," titah Lean yang tak suka Anne teriak-teriak memanggil orang dari dalam mobil .


" Nal, "sapa Anne.


" Kamu sudah datang? Sama siapa? "


" Sama Kak Lean. "


" Kak Lean? "ulang Nala. Sebelumnya Nala tidak tahu jika Anne akan datang bersama dengan kak Lean.


" Oh ya, kamu Hans, kan? "tanya Anne kepada pria yang berbicara dengan Nala.


Pria itu tersenyum dan berniat menyalami Anne untuk mengajaknya berkenalan. Tapi, Anne hanya menyatukan tangannya di depan dada. Jadi, terpaksa Hans menarik lagi tangannya.


" Apa kalian masih ada yang mau di bicarakan?" tanya Anne sebagai basa basi.


" Tidak sih, awalnya tadi aku hanya ingin mengajak Nala jalan. Tapi, dia bilang sudah ada janji," ungkap Hans santai.


" Oh, ya? Kalau kamu mau, gabung saja gapapa, kebetulan ada kakakku juga biar dia tidak cowok sendiri," tawar Anne yang penuh arti.


Nala melotot ke arah Anne, dia saja berusaha untuk menolak. Tapi, Anne justru mengajak, sungguh sahabat yang tak bisa di tebak keinginannya. Tadi, tiba-tiba datang bersama kak Lean tanpa memberi tahu terlebih dulu, sekarang malah ajak Hans juga.

__ADS_1


" Kalau di perbolehkan, aku sih oke saja!" jawab Hans.


" Yasudah kalau begitu kita jalan aja, kamu mau naik kendaraan sendiri atau___"


" Aku bawa motor sendiri, kita ketemuan di tempatnya saja!" potong Hans sebelum Anne selesai mengucapkan ucapannya.


Anne mengangguk,lalu mengatakan kemana mereka pergi. Setelah itu, Anne segera mengajak Nala masuk ke dalam mobil karena cuaca di luar sangat panas sekali. Bisa-bisa jadi manusia kering kalau kelamaan di bawah teriknya sinar matahari yang jahat.


Anne dan Nala masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Melihat hal itu, Lean mengerutkan keningnya.


" Anne, duduk depan. Apakah kamu pikir kakak ini supirmu, huh? Kamu suruh duduk sendirian di depan. "


Nala dan Anne saling berdebat untuk duduk di depan. Anne menyuruh Nala duduk di depan agar lebih dekat dengan kakaknya, sedangkan Nala menolak, dia tak mau duduk di depan karena akan canggung. Melihat mereka berdua justru saling berdebat, membuat Lean geleng-geleng kepala.


" Sampai kapan kalian akan berdebat? Ini jadi mau pergi apa nggak?"


" Jadi!" seru mereka bersamaan.


"Kalau jadi, Anne cepat duduk depan!" titah Lean penuh penekanan.


Terpaksa Anne yang duduk di depan bersama kakak tengilnya itu. Setelah sabuk pengaman sudah terpasang, Lean segera mengemudikan mobilnya melaju menuju ke pusat perbelanjaan terdekat.


Sesampainya di sana, sudah ada Hans yang setia menunggu di depan pintu masuk mall. Mereka bertiga keluar dari mobil, dan berjalan menghampiri Hans.


" Apakah menunggu lama?" tanya Anne ramah.


"Tidak juga."


" Dia siapa lagi Anne?" tanya Lean yang sedikit aneh ketika melihat Anne terlihat dekat dengan pria. Padahal biasanya dia sangat cuek dengan lawan jenis.


" Dia teman Nala, namanya Hans."


Lean dan Hans saling berjabat tangan untuk berkenalan. Selepas itu, mereka berempat masuk ke pusat perbelanjaan.


Melihat Hans yang terus berjalan di sisi samping Nala, dan mengajaknya berbicara. Menunjukkan bahwa dia tertarik pada Nala.


Dasar gadis kecil yang labil! Beberapa hari lalu mengatakan bahwa dia pacarku, sekarang justru welcome saja ketika ada pria yang mendekatinya. Gumam Lean dalam hati.


Lean merasa dia seakan hanya di jadikan obat nyamuk sekaligus orang yang membayarkan belanjaan adiknya saja.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2