My Best Partner

My Best Partner
Bab 135


__ADS_3

" Pi, kamar Nala nomor berapa?" tanya Mami Senja yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


" Di kamar nomor 207," sahut Papi Rian dari dalam kamar mandi.


Setelah itu, Mami Senja segera turun dari ranjang dan bergegas ingin menemui putrinya. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suaminya memanggil.


" Mami mau ke mana? "tanya Papi Rian yang baru saja keluar dari kamar mandi.


" Mau bertemu Nala. "


" Tidak perlu ke sana," ujar Papi Rian yang berjalan untuk mengganti pakaian.


" Kenapa? "tanya Mami Senja bingung kenapa suaminya tidak memperbolehkan ia menemui putrinya. Padahal, dia sudah sangat rindu pada sang putri.


" Nala sekarang sudah punya suami jadi kita tidak boleh sembarangan mendatangi kamarnya. Ini masih terlalu pagi, biarkan dia menikmati waktu bersama suaminya dulu," pungkas Papi Rian.


Dahi Mami Senja berkerut saat mendengar ucapan suaminya, seperti ada yang aneh, tapi apa?


Padahal, biasanya dia juga masih ke kamar Nala dan tidak pernah di larang. Tapi, kenapa sekarang di larang?


" Ada yang Papi sembunyikan dari Mami?" tebak Mami Senja. Tiba-tiba dia merasa bahwa suaminya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Papi Rian menggeleng, tidak mungkin dia mengatakan bahwa sudah menyiapkan paket honeymoon buat sang anak dan menantu.


Mami Senja berjalan menghampiri Papi Rian, lalu menatap matanya dengan intens. Seperti sedang menyelidiki sesuatu.


" Sepertinya Mami sedang mencium aroma kebohongan," ucap Mami Senja yang mencoba memancing Papi Rian agar jujur.

__ADS_1


" Mi, sama suami itu jangan curigaan, napa! Sudah, Papi mau siap-siap. Hari ini ada janji temu dengan klien, Mami ikut apa nggak?" Papi Rian mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Ikut dong! " jawab Mami Senja cepat. Mana mungkin dia membiarkan Papi Rian bertemu klien wanitanya yang cantik dan seksi itu sendirian. Apalagi saat bertemu pertama kalinya, dia sudah memperlihatkan bibit-bibit wanita yang haus akan perhatian dan sentuhan pria, membuat Mami Senja semakin waspada.


Meskipun dia tahu bahwa suaminya itu setia, tapi kalau di goda terus-menerus pasti akan goyah juga.


Melihat istrinya cemburu, membuat Papi Rian merasa bangga sekaligus senang. Itu pertanda bahwa istrinya masih sangat mencintainya dan takut kehilangan dirinya.


...☘️☘️☘️...


Di kamar lain, terlihat Lean sudah mengambil makanan dari seorang kurir. Nala yang sudah kelaparan, langsung menyantap makanan itu dengan lahap.


" Makan yang banyak ya istri kecilku, biar kuat kalau di ajak gelud lagi!" goda Lean.


"Gelud?" Nala mengerutkan keningnya saat mendengar suaminya mengatakan kata gelud.


" Iya, gelud enak kayak semalam," lanjut Lean yang membuat Nala langsung melotot.


Melihat ekspresi Nala yang terkejut, membuat Lean tertawa puasa. Sebenarnya dia hanya becanda, tapi kalau misalnya di kasih ya alhamdulillah, kalau tidak ya gapapa. Dia sadar bahwa istrinya ini masih kecil jadi harus punya banyak- banyak bersabar dan menahan diri.


"Nggak usah kaget dan panik seperti itu, Kakak hanya becanda!" ujar Lean sambil mencubit gemas pipi Nala yang sudah mengembang.


Selesai makan, mereka hanya duduk santai di sofa sambil menonton televisi. Mau keluar jalan-jalan, Nala masih merasa sedikit sakit untuk berjalan.


" Kak, " panggil Nala.


" Hem, kenapa Bee?"

__ADS_1


" Apakah Kakak sudah ingin punya anak?" tanya Nala penasaran.


" Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Lean yang jadi ikut penasaran.


Nala mendongakkan wajahnya menatap wajah sang suami. "Gapapa, hanya ingin tanya saja. Bukankah itu percakapan umum bagi pasangan suami istri?! "


Lean mengangguk. Apa yang di katakan istri kecilnya itu memang benar, ini adalah percakapan umum bagi sepasang suami istri.


" Kakak sih sedikasihnya saja, tapi mungkin belum untuk saat ini," jawab Lean.


" Kenapa? "


Lean mengubah posisi duduknya, dari memeluk menjadi saling berhadapan dengan istrinya. Lalu, menggenggam tangan Nala dan menatapnya intens.


" Karena istri Kakak masih terlalu kecil untuk hamil dan melahirkan. Jadi, kita pacaran dulu aja, ya ..., " ucap Lean dengan tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Nala.


" Bukankah kita sudah menikah? Kenapa pacaran lagi?" tanya Nala dengan polosnya.


Lean jadi merasa sangat gemas dengan istri kecilnya ini yang sangat polos.


" Maksudnya, pacaran versi halal Nala sayang...," ujar Lean dengan mencubit gemas pipi Nala.


" Sakit ..., " rengek Nala dengan mengusap pipinya.


" Habisnya, kamu gemesin, sih!"


Nala hanya bisa mencebik mendengar gombalan Lean.

__ADS_1


...****************...


Maaf ya guys... Sistem review pihak Noveltoon sepertinya sedang lambat. Makanya, updatan bab dari semalam baru selesai review. Jadi kalian harus bersabar. Oke👌


__ADS_2