
Setelah semuanya selesai, mereka bertiga pamit pulang untuk istirahat, besok akan datang lagi. Sesampainya di hotel, ternyata Papi Rian sudah memesankan kamar untuk Lean dan Nala.
" Yasudah, kalian istirahat saja dulu. Hitung-hitung honeymoon selama dua hari ke depan," ujar Papi Rian sembari memberikan kunci kamar.
Lean dan Nala hanya mengangguk.
Untungnya, Nala memang sedang libur sekolah, sedangkan Lean hanya punya libur sehari sehingga dia harus meminta cuti tambahan.
Selepas itu, mereka berpisah untuk pergi ke kamar masing-masing karena sudah larut malam.
Semoga kalian bisa menikmati hadiah honeymoon dari Papi! Ucap Papi Rian dalam hati yang masih menatap kepergian putri dan menantunya.
Melihat Lean yang masih bertahan sampai sekarang, membuat Papi Rian merasa kasihan. Dia juga seorang pria sehingga tahu betul pasti Lean cukup tersiksa saat tinggal bersama dalam satu kamar dengan seorang wanita yang sudah halal baginya, namun masih menahan diri untuk tidak melakukan hubungan suami istri.
Toh, mereka adalah suami istri yang sah jadi tidak ada larangan untuk melakukannya. Di luar sana, bahkan banyak anak seusia Nala sudah berani melakukannya, dan tidak ada masalah.
*
*
__ADS_1
Sesampainya di kamar hotel, mereka berdua di buat terkejut dengan kamar yang sudah di hias sangat romantis dengan lilin dan juga kelopak bunga mawar. Sepertinya, memang sudah di pesan khusus untuk pasangan yang sedang melakukan honeymoon.
Lean dan Nala saling pandang, lalu melihat kembali nomor kamar mereka. Siapa tahu mereka salah kamar, tapi ternyata tidak.
Seper detik kemudian, Lean mengulas senyum.
Ternyata Papi Rian cukup pengertian. Batin Lean.
Sedangkan orang yang di bicarakan tengah bersin-bersin.
"Apakah ada yang membicarakanku?" gumam Papi Rian sembari mengusap hidungnya yang memerah.
" Kak," panggil Nala.
" Apakah kamarnya nanti tidak terbakar? Begitu banyak sekali lilin di mana-mana," ucap Nala dengan polosnya.
Lean mencubit gemas hidung istrinya.
" Tentu saja tidak, ini itu yang di namakan suasana romantis!" jelas Lean.
__ADS_1
" Romantis?" tanya Nala yang diangguki oleh Lean. Tanpa berlama-lama, Lean segera menutup pintu kamarnya. Lalu mencium bibir istrinya yang sudah menjadi candu.
Sekarang, Nala sudah cukup pandai untuk membalas ciuman dari Lean. Bahkan, kini dia sudah mengalungkan tangannya di leher kokoh sang suami. Di karenakan jarak tinggi badan mereka cukup jauh, membuat Lean sedikit tidak nyaman berciuman dengan posisi berdiri. Lalu, dia mengendong Nala ala koala guna memudahkannya untuk berciuman.
Lean berjalan menuju ranjang mereka, tanpa melepaskan pagutan bibir yang semakin memanas itu. Perlahan, Lean merebahkan tubuh Nala di atas ranjang.
"Bee ... karena suasananya sudah sangat mendukung, boleh 'kan melanjutkan sesuatu yang sempat tertunda?" tanya Lean dengan mata yang sudah berselimut kabut ga*irah.
Nala mengangguk, membuat Lean tersenyum penuh kemenangan dan segera melepaskan pakaian atasnya.
Sepasang bola mata Nala membulat sempurna saat melihat tubuh sixpak suaminya. Selama menikah, Nala memang belum pernah melihat Lean bertelanjang dada. Dia selalu membawa baju ganti masuk ke dalam kamar mandi sehingga Nala tak pernah tahu seperti apa bentuk tubuh suaminya.
Ternyata tubuhnya ... Begitu berotot, pantas saja padat saat di pegang. Batin Nala.
Baru membuka baju saja sudah membuat otak sucinya mulai terkontaminasi. Apalagi ...
Melihat wajah Nala yang memerah di bawah cahaya temaram, membuat Lean tersenyum. Sepertinya istri kecilnya itu tengah malu. Tanpa berlama - lama Lean sudah kembali meraup bibir mungil itu.
Ciuman mereka semakin panas, bahkan tangan Lean sudah bergerak masuk kedalam baju Nala. Membuat gadis itu merasa seperti tersengat aliran listrik saat tangan suaminya bersentuhan dengan kulitnya.
__ADS_1
...****************...
Lanjut nggak? Mulai haredang yak...