My Best Partner

My Best Partner
Bab 77


__ADS_3

Lean masih terdiam ketika tiba-tiba ada seorang gadis yang mengatakan cinta padanya di depan umum seperti ini. Meskipun  sering mendengar perawat atau keluarga pasien yang  mengatakan suka padanya, tapi mereka sampai seperti candaan, tidak seserius ini.


Jantung Rena  berdetak begitu cepat, tubuhnya bergetar, namun ada rasa lega karena sudah bisa mengatakan apa isi hatinya selama ini.


“ Apa saya tadi tidak salah dengar?” tanya Lean untuk memastikan kembali.


Rena menggeleng. “ Anda tidak salah dengar, saya memang mencintai anda Dokter Leanne. Bahkan sejak pertama saya bekerja di rumah sakit,”


jelas Rena.


Rena memang menyukai Lean sejak pertama kali bertemu, atau biasa di sebut cinta pada pandangan pertama. Seorang Dokter tampan, hebat yang selalu mencuri perhatian sekaligus hatinya.


Lean terdiam sejenak, mencoba menyusun kalimat penolakan yang tak terlalu menyakitkan. Jujur dia tak ada rasa sedikitpun dengan gadis depannya saat ini, ternyata seperti ini rasanya ketika


ada seseorang mengungkap cintanya pada kita, tapi kita tak ada rasa sedikitpun.


“ Saya minta maaf Rena, saya tidak ada perasaan apapun untuk kamu. “


Menolak dengan kalimat yang sopan lebih baik, daripada memberi harapan palsu.


Ucapan penolakan dari Lean bagaikan sebuah petir yang menyambar Rena, tapi Rena berusaha untuk tenang.


Rena menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Kenapa, Dok? Apa karena saya hanya seorang perawat biasa?”


“ Bukan, saya tidak pernah memandang seseorang dari statusnya. Siapapun di asalkan bisa membuat saya jatuh hati, saya akan menerimanya.” Lean memang tak pernah memandang seseorang dari status sosialnya, asalkan dia gadis baik, dan bukan milik orang lain. Itu tak menjadi masalah bagi Lean


karena dia lebih memandang hati, bukan status sosial.


“ Jika seperti itu, bisakah anda memberikan saya satu kesempatan? Beri saya waktu sebulan jika dalam waktu itu anda tetap tidak bisa


mencintai saya, saya akan menyerah dan pergi.”


Lean terdiam, gadis di depannya ini cukup keras kepala dan gigih sekali. Apakah author sedang mengirimkan jodoh padaku? Dari matanya aku


melihat ada ketulusan, bukan hanya sebuah bualan semata. Jika di pikirkan kembali, dia juga merupakan perawat yang baik, tidak ada riwayat kriminal.


Apa aku coba saja sholat istikharah dulu, sekaligus mengenalnya? Toh, dalam islam juga tidak ada larangan untuk saling mengenal seseorang yang ingin di jadikan pasangan hidup. Asalkan masih dalam batasan syariah, dan tujuannya ke sesuatu yang halal, bukan hanya untuk pacaran.

__ADS_1


“ Saya akan pikirkan terlebih dulu.”


Wajah sendu Rena, kembali tersenyum ketika mendengar Lean mengatakan untuk memikirkannya dulu, setidaknya dia masih ada peluang.


“ Terimakasih.”


“ Tapi kita hanya saling mengenal tidak lebih, jangan lakukan kontak fisik jika tidak dalam keadaan darurat, dan saya bukan pria yang hanya ingin pacaran, melainkan menikah.”


Rena mengangguk mengerti, bukankah itu jauh lebih baik. Jika dia bisa membuat Lean jatuh cinta padanya, berarti dia akan menjadi istri seorang


Leanne.


Setelah pembicaraan itu selesai, Lean pamit pulang ke rumahnya tanpa mengantar Rena karena arah mereka berlawanan.


Rena semangat! Kamu harus bisa membuat pria idamanmu jatuh cinta padamu. Masih ada waktu satu bulan untuk mengejar cinta Dokter Leanne.


Rena mencoba menyemangati dirinya sendiri. Dia yang hanya orang biasa, ketika ingin mendapatkan rembulan memang harus butuh perjuangan lebih.


...☘️☘️☘️...


di tempat lain, terlihat seorang gadis cantik tengah frustasi menatap lembaran kertas soal ujian serta buku-buku menumpuk di depannya. Sepertinya dia butuh liburan untuk merefres otaknya yang penuh dengan soal-soal ujian.


Ya biasalah wanita, apalagi dia dari kecil hidup serba kecukupan, ingin beli apapun bisa, namun Nala hanya akan membeli sesuatu yang menurutnya penting saja. Dia akan lebih memilih membeli makanan enak daripada barang-barang branded yang tak penting.


ponsel Nala tiba-tiba berbunyi, sebuah notifikasi chat masuk dari Anne.


Anne : Hey baby, apakah ujianmu sudah selesai? Aku lagi boring pengen  main dan jalan bareng.


Nala  : Belum Anne, besok terakhir.  tumben boring, memangnya mamamu kemana?


Nala berkata seperti itu karena sejak mamanya kembali, Anne jarang mengatakan boring. Kalau dulu sih iya.


Anne : Mamaku sibuk menemani papa pergi dinas terus.  Taulah si papa, manja sekali dinas selalu


ingin di temani mama. Aku kan jadi sendirian lagi deh, ada teman saat malam ketika kak


Dinda sudah pulang kerja. Tapi ya begitu, hanya sebentar karena kak Kean terus memanggil menyuruhnya masuk kamar. Entahlah kenapa para suami di rumahku pada lengket semua sama istrinya. seperti tak ingin di tinggal kemana-mana sedikitpun.

__ADS_1


Nala hanya geleng-geleng kepala membaca pesan teks yang berisi curhatan dari sahabatnya itu. Padahal keluarganya banyak, ada maid juga, tapi selalu menggerutu kesepian. Memang sih, kakaknya semua bekerja, pulang ketika malam, hanya kak Lean saja yang kerjanya tergantung shift.


Nala : Kasihan sekali sahabat cantikku ini, sini aku peluk lewat imajinasi. Tapi bukan hanya papamu saja yang seperti itu, Anne. Papiku juga begitu, kalau pergi dinas selalu mengajak mami, nggak mau sendirian.


Anne : Berarti kita senasib beb. Yasudah kalau begitu besok pulang sekolah kita heng out bareng ya, untuk merefresh otak, hati dan pikiran.


Nala : Baiklah. Sampai ketemu besok.


...☘️☘️☘️...


Mendengar suara  ketukan sepatu dengan lantai, membuat Anne segera turun dari ranjang dan keluar daei kamar untuk melihat siapa yang datang.


“ Kakak …,” panggil Anne seraya berlari menghampiri Lean yang baru mau masuk ke dalam kamarnya.


“ Kenapa?”


“ Besok masuk kerja jam berapa?”


“ Besok___ memangnya kenapa?” bukannya menjawab, Lean justru bertanya balik.


“ Kebiasaan deh, ditanya bukannya jawab dulu malah nanya balik,” gerutu Anne.


Lean hanya tersenyum melihat adiknya yang sudah manyun. “ Masuk shift malam, emangnya kenapa?”


“ Kalau begitu, siang anterin jalan-jalan ya," ajak Anne dengan wajah penuh harap.


Lean menjitak kening Anne, membuatnya mengelus kesakitan.


“ Bukankah kakak bilang masuk shift malam, kok kamu malah minta anterin jalan-jalan sih!” protes Lean yang tak mengerti dengan adiknya ini.


“ Ya, kan masih ada waktu beberapa jam sebelum kerja,ya …”  Anne mencoba memohon dengan wajah memelas.


Lean hanya bisa menghela nafas berat. “ Yasudah besok kakak anterin. Tapi, pulangnya gimana? "


" Kalau pulang nanti gampang, yang penting anterin sekaligus temani jalan-jalan saja dulu. "


Lean menyeringai." Bilang saja minta di bayarin, pakek bilang temani jalan-jalan segala! "tukas Lean.

__ADS_1


Anne tersenyum dengan memperlihatkan giginya yang putih. Itu juga adalah salah satu alasannya, namun ada alasan lain yang jauh lebih utama.


...****************...


__ADS_2