My Best Partner

My Best Partner
bab 75


__ADS_3

Selesai makan malam, semua orang berkumpul di ruang tengah untuk mengobrol dan bersantai bersama, melihat Lean yang terlihat lebih pendiam


dari biasanya membuat Kean dan semua orang sedikit bingung.


“ Le,” panggil mama Dira.


“ Iya, Ma. Ada apa?”


“ Kok tumben kamu diam saja, biasanya paling rame. Apa kamu lagi sakit?” Mama Dira segera mengecek kening Lean dan ternyata suhu tubuhnya


normal, tidak demam.


Lalu, kenapa Lean berubah menjadi pendiam? Padahal biasanya dialah yang paling banyak bicara ketika berkumpul. Bahkan, biasanya dia selalu


saja ada yang diperdebatkan bersama Anne, namun sekarang hanya diam seperti patung.


“Lean gapapa kok, Ma. Hanya sedikit pusing saja, " ujar Lean.


" Yasudah, kalau begitu kamu istirahat saja," saran Mama Dira yang di angguki oleh Lean.


Setelah itu, Lean pamit pergi ke kamarnya terlebih dahulu untuk istirahat. Semua orang yang di sana hanya diam menatap ke arah Lean yang sudah pergi menjauh.


“ Kenapa Papa merasa aneh ya dengan sikap Lean, seperti ada sesuatu yang di


sembunyikan gitu.” Papa Ken mulai membuka suaranya setelah bayangan Lean tak terlihat. Dia paham betul dengan putranya itu, karena dia yang menemaninya tumbuh.


“ Maksud Papa apa?” tanya mama Dira yang sedikit kurang faham dengan ucapan suaminya. Karena perkataan itu seakan memiliki banyak arti.


“ Ya …,” Papa Ken bingung mau menjelaskan seperti apa karena dia sendiri juga belum yakin dengan pemikirannya sendiri. Takut feelingnya salah.


Setelah kondisi hening beberapa menit, tiba-tiba Anne membuka suara.


“ Kak Lean sedang patah hati.” Anne sudah tak bisa lagi menyimpannya sendiri, mungkin memang lebih baik mama dan papanya juga tahu. Jadi, mereka


bisa memberikan nasehat atau petuah bagi kakaknya, lagipula siapa suruh berbohong dan sembunyi-sembunyi tanpa minta restu terlebih dahulu, tiba-tiba melamar seorang wanita. Padahal, Kak Kean saja minta izin terlebih dulu sebelum dia melamar kak Dinda.


Kean hanya bisa menghembuskan nafas pajang, ketika melihat Anne yang akhirnya berbicara jujur pada Mama dan papanya. Biasanya Anne bisa


menyimpan sebuah rahasia, tapi kenapa kali ini dia mengatakannya?


“ Apa maksud kamu berbicara seperti itu, Anne? Memangnya kakakmu menjalin hubungan?” tanya Mama Dira dan di angguki Papa Ken. Mereka berxua menjadi penasaran, kenapa Lean bisa patah hati di saat mereka tak tahu jika dia menjalin hubungan.


“ Tidak, hanya menyukai seorang sahabatnya sejak lama. Terus berencana untuk melamar, tapi sayang lamarannya gagal karena si wanita itu tidak datang di malam kakak mempersiapkan lamaran. "


Anne memang sengaja tak menceritakan semuanya hanya garis besarnya saja.

__ADS_1


“ Sahabat? Apakah Leandra?” tanya Papa Ken karena setahunya sahabat wanita Lean hanya Leandra anak dari pemilik rumah sakit di mana Lean bekerja, dan Papa Ken juga merasa bahwa Lean itu punya perasaan lebih dari sekedar sahabat pada Lea.


Anne mengangguk.


Sedangkan mama Dira hanya diam saja karena dia tidak tahu siapa itu Leandra. Dinda yang mendengar nama Leandra seketika mengingat seorang wanita yang tempo hari terlihat seperti dekat dengan Kean sebelum mereka menikah.


Kemudian, Dinda menengok ke arah suaminya yang hanya diam tanpa merespon. Sepertinya dia juga


tahu, tapi  hanya diam.


Jadi, mereka sahabatan? Terus Lean menyukainya, tapi kenapa aku melihat bahwa si Lea itu suka pada abang? Apa jangan-jangan ada cinta segitiga di antara mereka? Dinda mencoba menerka-nerka.


Setelah itu, Kean ikut pamit pergi untuk menemui Lean. Dia ingin berbicara dengan adik kembarnya itu. Sesampainya di depan kamar Lean , Kean


mengetuk pitu kamarnya terlebih dahulu.


“ Siapa?”


“ Aku Le,”


“ Ada apa?”


“ Bisakah kita bicara sebentar?”


Akhirnya Kean membuka pintu kamar Lean. Ketika pintu terbuka, terlihat seorang pria yang tengah berdiri di balkon kamarnya. Kean berjalan menghampiri sang adik. Angin malam menerpa wajah tampan kedua pria itu.


“ Apa yang ingin kakak bicarakan?”


“ Kamu pasti sudah tau, tanpa kakak bicara.”


Lean menaikkan sudut bibirnya, ternyata Kean datang hanya ingin membicarakan tetang lamarannya yang gagalnya.


“ Kenapa, kakak mau menertawakan, atau___”


“ Kenapa pemikiranmu dangkal sekali tentang kakakmu ini, huh? Apakah kakak orang seperti itu?”sela Kean sebelum Lean menyelesaikan ucapannya.


Lean terdiam, Kean memang bukan orang seperti itu. Sebenarnya dia sendiri yang malu jika Kean tahu dia gagal melamar Lea, bahkan bukan hanya itu


saja. Kean pasti juga sudah melihat cctv saat Lean menelpon Lea.


“ Apakah kamu belum bisa move on?”


“ Sudah,” jawab Lean cepat.


“ Kamu yakin?” tanya Kean yang sedikit ragu jika

__ADS_1


Lean sudah move on. Karena di lihat dari sikapnya saja dia masih dalam fase pria yang sedang patah hati.


“ Tentu saja,  lagian orang yang tak pernah patah hati seperti kakak, tidak akan tahu mana yang sudah move on atau belum!” ketusnya.


Kean melingkarkan tangannya ke   Pundak Lean


sehingga jarak mereka jauh lebih dekat.


“ Ya kalau itu orang lain kakak pasti tidak tahu, tapi jika kamu kakak tahu. "


" Oh ya? "


Kean mengangguk, tentu saja Kean tahu karena mereka adalah saudara kembar yang sejak kecil selalu bersama.


" Le, bukankah kakak sudah sering ingatkan. Jangan mencintai seseorang terlalu dalam jika belum halal agar tidak mudah patah hati. Tapi, kakak juga tak bisa menyalahkan, karena cinta itu selalu datang tanpa permisi terlebih dahulu.”


“ Kamu jangan terlalu berlarut-larut dalam patah hati, apalagi hanya untuk wanita seperti Lea. Dia tak terlalu pantas mendapatkan cinta tulus dari pria baik seperti kamu. Seharusnya kamu itu bersyukur karena tidak berjodoh dengannya, itu tandanya author masih sayang sama kamu. Tenang saja, author pasti akan memberikan jodoh terbaik buat kamu, kalau tidak bisa di marahi sama


penggemarmu!" tukas Kean demi menenangkan adiknya.


(Si Kean ganteng mah bisa aja.😁)


Lean hanya terdiam dan mengangguk. Setelah di renungkan kembali. Apa yang di ucapkan Kean ada benarnya. Jika dia masih ngotot mendapatkan Lea, berarti. dia lebih menyukai bekas orang lain dong? Dan sudah berapa banyak pria yang sudah mencicipinya.


Astagfirullah, kenapa pikiranku jadi buruk begini sih. Batin Lean seraya mengelus dadanya.


Di sela-sela mereka sedang bercerita, entah kenapa, tiba-tiba Lean ingin curhat tentang kejadian yang juga membuatnya terus penasaran. Jujur, selama ini Kean sebenarnya adalah tempat curhat dan pendengar terbaik bagi Lean. Setidaknya kakak


kembarnya yang dingin  itu tidak akan membongkar atau menceritakan rahasianya kepada orang lain. Setelah itu, Lean mulai menceritakan masalahnya, sedangkan Kean mendengarkan dengan seksama.


Khuk khuk …


Kean tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar siapa nama wanita yang sejak tadi Lean bicarakan.


“ Kamu tidak sedang bercanda kan, Le?” tanya Kean untuk memastikan kembali karena Lean biasanya suka bercanda.


“ Tidak, kali ini aku serius! Makanya aku curhat dan minta pendapat karena___ ah sudahlah, menurut pemikiranmu gimana?”


“ Aku juga bingung sih mau memberikan pendapat apa. Jika beneran kamu dan Nala berjodoh, setidaknya tidak akan ada yang mempermasalahkan tentang kita yang tak punya nasab!”


“ Kenapa kamu berpikiran seperti itu?”


...****************...


Jangan lupa like, komen vote dan hadiahnya

__ADS_1


__ADS_2