
Di ruang keluarga, terlihat mama Dira sedang menjelaskan kepada Anne apa yang telah terjadi. Mama Dira berharap Anne bisa menerima Dinda, mengingat Anne begitu manja kepada Kean sebelumnya.
Ada rasa sedih sekaligus bahagia yang dirasakan gadis itu. Sedih karena sudah tidak leluasa jika ingin bermanja dengan kakak dinginnya itu, bahagia akhirnya bisa melihat dia menikah.
"Jadi pernikahan Kakak dadakan, makanya nggak sempat cerita sama Anne?"
"Iya sayang, bahkan sangat dadakan sekali," tutur Dira.
"No problem, Anne mengerti. Tapi___ apakah kakak mencintai wanita itu?" Anne mencoba memastikan lagi.
Pasalnya dia tahu betul bagaimana sikap kakaknya kepada seorang wanita selain dirinya. Dari dulu, Kean selalu saja memanjakan Anne dengan berbagai hal sampai membuat gadis merasa bahwa apakah nanti dia bisa mempunyai suami seperti Papa dan kakak-kakaknya?
Setiap pria di rumah ini mempunyai karakter yang berbeda, yang menyamakan mereka hanya sama-sama ganteng dan sangat menyayangi keluarga. Apalagi Anne dari kecil sudah hidup tanpa mamanya, membuat ketiga pria itu berusaha keras agar Anne tak pernah merasa kekurangan kasih sayang.
"Jadi, Anne bisa kan menerima kak Dinda?" tanya Mama Dira.
Anne masih terdiam seperti sedang berpikir.
"Jadi namanya Dinda? Kita lihat saja nanti, apakah dia bisa lulus jadi kakak ipar Anne apa tidak," ujar Anne dengan seringai tipis.
"Anne ...," tatapan Mama Dira dan Papa Ken berubah tajam saat mendengar ucapan Anne. Mereka berdua tidak menyangka bahwa Anne akan berucap seperti itu.
Mama Dira mengira bahwa Anne tahu kalau Dinda sedang dalam keadaan berduka, bisa membuat dia membantu menghiburnya. Bukan untuk mengetes apakah dia layak apa tidak!
Tak lama kemudian, Anne tersenyum terbahak-bahak karena berhasil membuat Mama dan Papanya tegang tegang cemas.
Melihat Anne yang terlihat tertawa membuat papa Ken menyadari kalau putrinya itu sedang bercanda.
"Apakah sudah puas? " ujar papa Ken.
Anne mengangguk karena dia memang cukup puas. Sedangkan mama Dira menghembuskan nafas panjang saat mengetahui bahwa putrinya ternyata hanya bercanda.
"Sudahlah, Anne mau menemui kak Kean mau interogasi dia." Anne bangun dari tempat duduknya.
"Jangan!" seru Mama Dira dan Papa Ken bersamaan.
Anne mengerutkan keningnya ketika melihat papa dan mamanya kompak melarangnya.
"Memangnya kenapa, Ma, Pa?"
Mama Dira dan Papa Ken saling pandang satu sama lain, lalu menarik Anne untuk duduk kembali.
"Kakakmu kan baru saja menikah, di tambah istrinya juga masih dalam keadaan berduka. Jadi kamu jangan mengganggu mereka, ya? Biarkan mereka berdua dulu, jangan di ganggu. Kalau Anne butuh penjelasan atau apapun, Mama sama Papa akan menjawabnya,"papar mama Dira.
" Oh,"jawab Anne singkat.
...☘️☘️☘️...
__ADS_1
Di dalam kamar, Kini Kean telah merubah posisinya dengan duduk bersandar di ranjang Queen size miliknya. Sedangkan Dinda menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Kean. Memeluk tubuh pria itu terasa sangat nyaman sekali, mungkin karena selama ini Dinda tak pernah mendapatkan pelukan hangat dari seorang pria. Jadi, ketika mendapatkan pelukan hangat dari Kean membuatnya merasa nyaman dan menenangkan
" Bang, "
" Iya, ada apa? "
" Kenapa Ibu pergi begitu cepat di saat Dinda belum bisa menemukan Devan dan membuatnya bahagia? Apakah Ibu sudah tidak suka tinggal di dunia ini?"
" Em, bukan tidak suka. Lebih tepatnya memang sudah takdir Ibu meninggal hari ini. Karena hidup, mati, jodoh, dan rezeki manusia itu sudah di tetapkan jauh sebelum kita lahir ke dunia. Dan itu semua hanya Allah yang tahu, kita sebagai makhluk ciptaannya hanya bisa ikhlas menerima semua itu."
" Sekarang, anggap saja kalau Ibu sudah tidak merasakan sakit lagi karena harus bertahan melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya. Kita sebagai anaknya hanya bisa mengirim doa semoga Ibu tenang dan di tempatkan di tempat terbaik di sisi Allah."
Dinda terdiam, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh suaminya. Mungkin dia memang harus ikhlas menerima ini semua. Bersedih terus menerus juga tak akan bisa mengembalikan ibunya ke dunia, apalagi memutar kembali waktu yang sudah terlewatkan Itu sangat tidak mungkin.
" Jadi, apakah pertemuan kita juga adalah takdir? "
Kean mengangguk.
Dinda menatap Kean dengan senyum menghiasi bibirnya.
" Aku suka abang yang sekarang, tidak terlalu dingin seperti dulu."
"Oh, ya?"
Dinda mengangguk, karena sikap Kean memang jauh berbeda dari sebelumnya. Jika dulu dia sangat dingin dan cuek, sekarang pria itu penuh dengan kehangatan.
Melihat Dinda sudah mulai tersenyum kembali, membuat Kean ikut tersenyum. Dia merasa bersyukur saat melihat Dinda sepertinya sudah mulai berdamai dengan hatinya.
"Sekali lagi, terima kasih karena sudah hadir di waktu yang tepat."
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, membuat Kean turun dari ranjang, dan berjalan untuk membukakan pintu.
Saat pintu terbuka, ternyata ada seorang maid membawa nampan berisikan makanan.
" Maaf Tuan, saya di suruh nyonya untuk mengantarkan makanan."
"Oh, iya."
Kean mengambil nampan itu, dan mengucapkan terimakasih. Lalu meletakkan makanan itu ke atas meja. Kean baru ingat kalau dia dan Dinda belum makan dari tadi siang.
"Kita makan dulu, ya," ajak Kean. Sebenarnya Kean jarang makan di kamar jika tidak darurat.
"Abang makan sendiri saja, ya. Dinda tidak selera makan."
Kean mengerutkan keningnya saat mendengar Dinda tidak mau makan.
"Kamu harus tetap makan, kalau nggak makan nanti sakit."
__ADS_1
Dinda menggeleng, dia benar-benar tidak ada nafsu makan.
Mengingat pesan papa dan mamanya yang menyuruhnya menjaga Dinda dengan baik, membuat Kean berpikir bagaimana caranya agar Dinda mau makan. Dan satu-satunya cara adalah dengan menyuapinya makan.
" Abang suapi, ya," tawar Kean.
"Nggak usah bang, Dinda belum nafsu makan."
Melihat Dinda yang keras kepala, membuat Kean terpaksa langsung menggendong tubuh Dinda.
"Abang mau ngapain?"
" Udah diem!"
Kean menurunkan tubuh Dinda di sofa,lalu dia mengambil makanan yang sudah di bawakan oleh maid.
"Buka mulutnya!" Kean menyodorkan sendok berisi makanan.
Dinda masih menggeleng, membuat kean mulai merasa kesal.
"Kalau nggak mau makan, Abang akan menghukum mu!" ancam Kean.
Dinda mengerutkan keningnya, baru saja dia berpikir bahwa Kean bersikap lembut, tapi sekarang udah galak lagi. Terpaksa Dinda membuka mulutnya, dan kean langsung memasukkan makanan itu kedalam mulut Dinda.
Saat memakan makanan itu, bola mata Dinda terbuka lebar, rasanya sangat enak sekali.
"Bagaimana? Enak, kan?"
Dinda mengangguk, membuat Kean tersenyum dan mengusap kepala Dinda sampai rambutnya berantakan.
"Abang ...," rengek Dinda saat melihat kean mengacak rambutnya.
"Mangkanya kalau di suruh suami itu yang nurut, jangan membantah! Nanti dosa, masuk neraka, mau?"
Dinda memicingkan matanya, lalu mencondongkan wajahnya mendekati Kean.
"Kenapa Abang sudah seperti ibu yang___" tiba-tiba air mata Dinda menetes kembali. Entah kenapa dia jadi teringat almarhum ibunya.
Dulu, saat Dinda sakit dan susah makan. Nada akan memaksa menyuapinya dan mengatakan perkataan seperti apa yang di katakan Kean.
Melihat Dinda yang kembali menangis, membuat Kean meletakkan piringnya lalu menenggelamkan kepala Dinda ke dalam pelukannya.
"Maaf kalau abang salah bicara."
Mendengar Kean meminta maaf, membuat Dinda semakin menangis. Awalnya Dinda mengira dia bisa kuat, ternyata mengingat Nada saja sudah membuat dadanya terasa sesak dan kembali sedih seperti ini.
Ternyata kehilangan Nada sungguh berat bagi Dinda.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya ya...