My Best Partner

My Best Partner
Bonus part 1 ~ Menggoda


__ADS_3

Dikarenakan ada yang minta part bulan madu Lean dan Nala. Jadi, author akan tulis tapi kejadian ini flashback kebelakang sebelum Dinda hamil. Karena kehamilan Dinda terjadi di 6 bulan pernikahan mereka. Oke ... Selamat membaca.


Sesampainya di negara kincir angin itu, sepasang pengantin baru itu langsung menuju ke Hotel yang sudah Lean pesan. Malam ini mereka akan menginap di hotel terlebih dahulu, sebelum menjenguk Oma Sekar.


Sesampainya di kamar hotel, kamar itu sudah di hias sangat cantik dan romantis. Karena Lean memang memesan kamar khusus bulan madu.


" Cantik sekali," puji Nala dengan tersenyum lalu menatap lembut ke arah suaminya.


" Kamu menyukainya?" tanya Lean yang diangguki oleh Nala.


Bagaimana tak suka jika kamar mereka sudah di hias sangat cantik dan indah seperti ini. Memiliki suami yang sangat romantis memang ada kebahagian tersendiri. Lean meletakkan kopernya, lalu beranjak memasuki kamar mandi. Sedangkan Nala masih asyik meneliti dekorasi kamarnya.


Melihat kamar mandi yang juga di hias dengan romantis, membuatnya ingin mandi bersama. Lean menyembulkan kepalanya ke pintu yang sedikit terbuka.


" Bee ... mau main sabun nggak?" tawar Lean.


Nala menoleh ke arah suaminya, lalu menggeleng. Ia sudah tahu apa arti dari main sabun yang di katakan Lean sehingga membuat Nala langsung menolak. Saat ini, Nala memang belum ingin mandi bareng karena ia memiliki rencana lain.


Melihat Nala menolak ajakannya, Lean segera keluar dari kamar mandi dan berjalan menghampiri istrinya.


" Ayolah Bee ... mumpung suasananya mendukung, ya ... ya ...," bujuk Lean yang kini sudah memeluk Nala dari belakang.


" Nggak Kak, aku lagi tidak ingin main sabun. Jadi, Kakak mandi sendiri aja, ya ...," ucap Nala dengan menyuruh suaminya itu untuk kembali kamar mandi sendiri.


Lean hanya bisa menampilkan wajah cemberut, ingin memaksa takut jadi suami yang tak pengertian sama istri. Karena ketika ingin melakukan hubungan suami istri harus ada rasa saling rela satu sama lain, dan tidak ada unsur keterpaksaan di dalamnya. Jika ada unsur terpaksa, takutnya hanya salah satu saja yang menikmatinya.


Lean ingin memiliki hubungan yang sehat dan nyaman. Dia tak ingin menjadi suami egois yang tak mementingkan kenyamanan dan perasaan sang istri.

__ADS_1


Selesai mandi, tiba-tiba ponsel Lean berdering.


" Halo, Assalamualaikum," salam Lean pada seseorang di ujung telepon.


" Waalaikumsalam, apa kamu sudah sampai di Belanda?" tanya orang itu yang tak lain adalah Abi.


" Ya, baru saja sampai. Memangnya ada apa sampai membuatmu menelponku? Bukankan kamu tahu kalau aku sedang cuti?" ujar Lean.


Setelah itu, Abi menceritakan tentang masalah yang terjadi. Andai bukan sesuatu yang penting, Abi juga tak akan mengganggu Lean. Sedangkan Lean masih setia mendengarkan penjelasan Abi, lalu memberikan solusi untuk masalah yang terjadi. Bagaimana juga itu memang masih tanggung jawab Lean karena dia adalah Dokter utamanya.


Tak lama kemudian, Nala keluar dari kamar mandi dengan memakai lingerie seksi. Padahal, mereka sudah pernah menikah dan berhubungan. Namun, ini pertama kalinya Nala mempersiapkannya seperti ini sampai memakai pakaian seksi.


Nala berulang kali menarik nafas dan menghembuskannya guna meredam rasa gugupnya.


" Ayo Nala ... Kamu pasti bisa!" Nala mencoba menyemangati dirinya sendiri di depan cermin.


Setelah berhasil mengumpulkan semua keberanian, Nala memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Nala menghentikan langkahnya tatkala melihat Lean sedang menelpon dengan seseorang.


Kakak menelpon siapa? Batin Nala.


Karena penasaran, Nala berjalan menghampiri Lean, dan memeluknya dari belakang. Biasanya, Lean yang selalu berbuat seperti ini padanya.


Merasakan Nala memeluknya, membuat Lean tersenyum dan memegang tangan istrinya.


Nala menyembulkan kepalanya di balik punggung Lean agar bisa melihat wajah suaminya.


" Siapa yang menelpon?" tanya Nala penasaran.

__ADS_1


" Abi, sebentar ya" ucap Lean sembari menjauhkan teleponnya.


Mendengar bahwa yang menelpon adalah Abi, Nala memilih untuk melepaskan pelukannya agar suaminya itu menyelesaikan pembicaraan mereka terlebih dahulu. .


" Sudah ya, Bi. Sisanya Kamu urus sendiri, masak nggak bisa!" ujar Lean yang sudah ingin menikmati waktu honeymoon nya bersama sang istri.


Masak udah mengambil cuti, masih saja di ganggu untuk membicarakan pekerjaan, kan nggak enak!


" Kamu meremehkan aku?" kesal Abi.


" Bukan meremehkan, ah sudahlah ... Kamu itu mengganggu orang yang sedang honeymoon saja." jelas Lean yang tak mau berdebat lebih lama lagi.


" Iya ... Iya, mentang-mentang sudah punya istri aja begitu! "tukas Abi.


" Makanya, menikah! " ejek Lean.


" Aku mau menikah, tapi dengan Anne, " goda Abi.


" Nggak usah macam-macam kamu, ya! " lagi-lagi Lean memperingati sahabatnya itu agar tidak mendekati adiknya. Sedangkan Abi terdengar terkekeh dari ujung telepon. Setelah itu, Lean segera mematikan panggilannya.


Baru saja Lean membalikkan tubuhnya, sepasang matanya seketika membulat sempurna bola tatkala melihat penampilan istrinya saat ini yang begitu seksi dan menggoda sedang duduk bersandar di ranjang. Bahkan, air liurnya sudah hampir menetes saat melihat bagaimana posisi duduk istrinya itu.


Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang! Gumam Lean mulai berjalan menghampiri Nala.


...****************...


Hai guys, author kembali lagi. Ada yang mau tau part saat Lean bertemu Oma Sekar dan Aldert nggak? Kalau mau jawab di kolom komentar ya...

__ADS_1


__ADS_2