My Best Partner

My Best Partner
Partner Terbaik bab 93


__ADS_3

Tak lama kemudian, seorang Dokter wanita keluar dari ruangan UGD, membuat Papa Ken segera menghampirinya.


" Dok, bagaimana keadaan menantu dan calon cucu saya?" tanya Papa Ken panik.


" Sabar ya, Pak. Kita akan melakukan USG terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana keadaan bayinya karena pasien mengalami pendarahan yang cukup hebat," ucap Dokter itu.


Tubuh Papa Ken melemah ketika mendengar perkataan dari dokteritu. Dia masih berharap calon cucunya bisa bertahan. Kalaupun tidak, dia benar-benar tidak akan memaafkan orang-orang itu. Meskipun dalam islam di larang keras untuk menjadi pendendam, tapi Papa Ken akan tetap memberikan hukuman yang setimpal pada orang-orang itu. Siapa suruh mereka sudah membangunkan singa yang tidur.


Seper detik kemudian, ada beberapa perawat yang mendorong brankar di mana ada Dinda yang belum sadarkan diri.


Papa Ken terus mengikuti mereka sampai ke ruangan USG. Papa Ken hanya bisa menunggu di luar karena yang di perbolehkan masuk hanya suami dari pasien saja.


Di tempat yang sama, terlihat seorang pria tampan tengah berlari mencari di mana istrinya berada. Karena tak menemukan Dinda di ruangan UGD, Kean segera menelpon Papanya.


" Halo, assalamualaikum, Pa. Papa di mana?" tanya Ken pada seseorang di ujung telepon.


" Di depan ruangan Dokter kandungan Aminarti, kamu cepat kemari!" titah Papa Ken.


Setelah itu, Kean segera berlari untuk mencari di mana ruangan tersebut. Ketika sudah melihat di mana keberadaan papanya, Kean segera berlari untuk menghampiri Papa Ken.


" Pa, Dinda mana?" tanya Ken dengan nafas ngos-ngosan, terlihat jelas bahwa pria tampan itu habis berlari.


" Ada di dalam, Dokter sedang memeriksa bayi kalian."


Saat Kean ingin masuk ke dalam, pintu sudah terbuka memperlihatkan seorang dokter keluar dari sana, dan di ikuti para perawat yang mendorong sebuah brankar.


Mata Kean memerah, amarahnya semakin memuncak ketika melihat istrinya tertidur lemah di atas brankar dengan wajah lebam.


" Dok, bagaimana keadaan istri dan bayi saya?" tanya Kean dengan mata yang memerah.


" Saya mohon maaf Pak, istri anda mengalami keguguran. Kehamilannya masih terlalu muda, sehingga sangat rentang keguguran jika mendapatkan guncangan yang kerasa," jelas Dokter itu.


Tubuh Kean melemas, dunianya seakan berhenti. Papa Ken segera menopang tubuh anaknya untuk memberikan kekuatan. Kebahagian yang baru dia rasakan sebentar, begitu cepat sudah di ambil. Padahal, sore ini dia masih ingin melihat seperti apa calon bayinya, tapi Tuhan sudah mengambilnya lebih dulu.


Memori kejadian tadi pagi saat pertamakali dia tahu bahwa Dinda hamil, terlintas kembali. Bagaimana bahagianya dia, saat mengetahui akan menjadi seorang ayah. Bahkan, Kean sudah menyiapkan nama panggilan buat anak-anak mereka kepadanya.


" Sabar, Kean." Papa Ken menepuk pundak putranya agar dia tabah.

__ADS_1


Kean segera berjalan menghampiri istrinya, tanpa terasa air mata Kean menetes juga. Hatinya seakan teriris pisau tajam saat melihat wajah istrinya yang lebam-lebam. Kean merasa gagal menjadi suami karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.


" Pak, kita bawa pasien ke ruang rawat inap dulu, soalnya di sini akan menganggu pasien yang lain," ucap seorang perawat.


Kean mengangguk, dan terus mendampingi Dinda untuk di bawa ke ruang rawat inap, sedangkan Papa Ken membantu mengurus prosedur administrasi Dinda.


Ketika sudah berada di ruang rawat inap, Kean terus menggenggam tangan dinda, dan terus mengecupnya. Kean yang tidak ikut mengandung, bisa terpukul seperti ini, bagaimana Dinda nanti? Akankah dia bisa menerima hal ini?


" Maafkan abang, ya Nda ... Abang tidak bisa menjaga kamu dan calon bayi kita." lirih Kean dengan suara bergetar.


Begitulah Kean, dia pria dingin, tapi hatinya seperti hello kitty ketika bersangkutan dengan orang yang dia sayangi.


Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar, memperlihatkan Papa Ken yang masuk ke dalam ruangan Dinda. Ketika melihat raut wajah Kean yang begitu terpukul, membuat hati Papa Ken ikut sedih.


Suami mana yang tidak sedih saat melihat istrinya terluka, bahkan sampai kehilangan calon bayinya. Baru beberapa jam yang lalu, mereka semua bahagia tatkala mendengar akan ada anggota baru hadir ke tengah-tengah keluarga Fabio. Kini, kabar bahagia itu sudah berubah menjadi kabar duka.


" Papa," sapa Kean saat melihat Papanya yang datang.


Papa Ken, berjalan menghampiri Kean sembari menepuk pundak putranya itu.


" Kamu harus sabar dan lebih kuat agar bisa menguatkan Dinda nantinya. Mungkin, ini adalah cobaan dari Allah untuk menguji seberapa besar kesabaran kamu dan Dinda. Semua yang kita miliki itu hanya titipan, dan Allah bisa mengambilnya kapanpun, tanpa harus meminta persetujuan terlebih dulu. "


Semua orang inginnya selalu hidup bahagia, namun namanya hidup itu tak luput dari cobaan yang akan datang menghampiri. Perjalanan hidup, pasti akan ada duka, dan bahagia. Sejak awal menikah, pernikahan Kean dan Dinda sudah selalu di beri kebahagiaan, mungkin ini saatnya untuk menguji seberapa mampu mereka berdua mengatasi sebuah cobaan yang datang menghampiri rumah tangganya.


Sebuah pernikahan adalah ibadah yang paling lama, sehingga cobaannya juga tentu tidak akan mudah.


" Apakah Papa tahu kenapa Dinda bisa seperti ini?" tanya Kean yang penasaran kenapa bisa istrinya memiliki luka lebam dan mengalami pendarahan. Setahu Kean, di perusahaan tidak ada yang namanya perundungan.


Apalagi Dinda bekerja di ruangan yang tak terhubung dengan karyawan lain, sehingga membuat kemungkinan terjadinya hal itu sangatlah kecil.


" Apa kamu pernah mendengar bahwa Dinda mempunyai musuh, atau orang yang pernah dia singgung? " bukannya menjawab, Papa Ken justru bertanya kembali.


Kean menggeleng, selama ini dia tidak pernah mendengar cerita tentang Dinda yang mempunyai musuh. Yang Kean tahu, Dinda hanya mempunyai satu teman yaitu Dion. Selama kuliah, dia dikucilkan karena berasal dari keluarga miskin sehingga tidak ada yang mau berteman dengannya.


" Kenapa Papa bertanya seperti itu?"


Papa Ken hanya menghembuskan nafas berat. " Tidak apa-apa, kamu temani Dinda saja di sini. Soal orang yang mencelakai Dinda, biar menjadi urusan Papa!" tukas Papa ken sebelum pergi keluar dari ruangan Dinda.

__ADS_1


Kean mengerutkan keningnya, dia menjadi bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ingin rasanya Kean ikut pergi untuk menemui orang-orang itu, tapi dia juga harus menemani istrinya.


...☘️☘️☘️...


Di sebuah ruangan basecamp yang sangat sepi, terlihat beberapa wanita yang terus memberontak meminta untuk di lepaskan.


"Hei! Apakah kalian tuli! Bisa lepaskan kita nggak, apa kalian tidak takut kepalanya di penggal dan di jadikan santapan buaya oleh keluarga kita! " teriak Cika dengan penuh ancaman.


Cika berani berkata seperti itu, karena dia pernah memergoki ayah Stasya tengah memenggal kepala orang yang telah berkhianat padanya.


Nino menghampiri ketiga wanita itu.


" Saya tidak takut sama sekali! Jika kalian masih saja cerewet, akan ku sobek mulut itu!" ancam balik Nino membuat Cika dan Deby seketika terdiam.


" Jika kamu berani merobek mulutku, akan kupastikan kepalamu akan terputus dari badan!" kini, Stasya mulai membuka suara.


Nino menyeringai, mendengar ucapan Stasya.


" Memangnya kamu siapa berani memenggal kepalaku, huh?" tanya Nino tanpa takut sedikitpun.


Kini Stasya ikut menyeringai." Apakah kamu tahu siapa Mahendra Radjasa? " ucap Stasya penuh kebanggaan menyebutkan nama ayahnya.


" Oh ..., kamu putrinya?" tanya Nino dengan santainya.


Stasya mengerutkan keningnya ketika melihat raut wajah pria yang ada di depannya ini tidak terlihat ketakutan sama sekali. Biasanya, dengan mendengar nama ayahnya saja, sudah membuat orang ketakutan. Karena ayah Stasya terkenal kejam dan bisa melakukan semua hal yang ingin dia lakukan. .


" Kenapa kamu tidak takut sama sekali?"


Nino mendekatkan wajahnya. " Apa yang harus aku takutkan dari seorang Mahendra Radjasa?" tantang Nino.


Stasya terdiam, dengan dada yang memburu menahan amarah.


" Apa kamu tahu seperti apa seorang Kenzo Clarence Fabian? " Kini Nino bertanya balik kepada Stasya.


Cika dan Deby hanya bisa saling pandang, mereka berdua memang tidak tahu siapa orang itu. Tapi, dari ucapan pria di depannya saat ini, terlihat seakan dia adalah orang yang jauh lebih menakutkan dari ayah Stasya.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya oke...


Pish ... Jangan hujat author ya karena di buat keguguran ... Karena di balik badai akan ada.... Isi sendiri😁


__ADS_2