
"Apa? Kalian tidak boleh begitu saja memotong uang jajanku seperti itu? Aku masih butuh uang kuliah selama satu tahun lagi, lalu ada biaya untuk beli buku dan sewa apartemen . Pak, Bu ... kalian tidak bercanda kan?"
Orang tuaku menyuruhku pulang untuk menghadiri pertemuan keluarga yang penting. Mereka memberi tahuku kalau mereka mau bercerai, dan karena aku sudah dewasa mereka memutuskan untuk berhenti memberiku uang jajan, dan berhenti membayar biaya bulanan, bahkan biaya pendidikanku juga.
Mereka memberikan segala macam alasan padaku untuk memotong uang jajan ku, alasannya karena biaya pengacara mereka lah, biaya untuk keluarga baru mereka lah, apalah gitu, biar mereka bisa meninggalkan ku, mereka menganggap ku hanya sebagai tameng dari pernikahan mereka sebelumnya, dan setelah semua ini terjadi, mereka membuangku dan mereka tidak ingin lagi memiliki hubungan dengan diriku lagi. Jahat!!
Yah memang benar aku tidak pernah dekat dengan mereka, mungkin selama sepuluh tahun pertama kehidupan masa kecilku saja. Namun setelah itu kehidupan kami menurun drastis. Mereka selalu saja bertengkar setiap malam. Aku bahkan tidak ingat siapa yang pertama kali selingkuh. Tapi perceraian mereka itu sudah cukup lama direncanakan.
Uang tidak pernah menjadi masalah bagi mereka. Mereka berdua pebisnis yang sukses. Itulah kenapa semua hal yang terjadi tidak begitu masuk akal, saat mereka bilang kalau mereka mau berhenti mendukungku, dan mereka tidak mau lagi memiliki hubungan apapun dengan diriku lagi.
"Laura, Sayang, ibu mau pindah ke kota lain dan begitu juga ayahmu. Dan ibu percaya kalau kau punya kemampuan, untuk berdiri di atas kedua kakimu sendiri. Kau sudah dewasa. Cobalah untuk mandiri sayang. Kita akan mengirimkan uang untuk biaya hidupmu tiap dua bulan di rekeningmu, dan tentu saja untuk apartemen mu. "
"Tapi setelah itu, kami berharap kau bisa mendukung dirimu sendiri. Kau perlu belajar menghargai uang."
Mereka berdua melanjutkan ocehan mereka, dan aku malas mendengarkan mereka. Aku berjalan keluar dari rumah masa kecilku itu dan melihatnya untuk terakhir kalinya, mereka bilang kalau mereka juga sudah menjual rumah itu, dan akan mengirim barangku ke apartemenku. Aku mulai melanjutkan perjalananku kembali ke tempatku, pikiranku mulai overdrive.
__ADS_1
Dua minggu berikutnya,
Hidupku menjadi semakin buruk. Sahabatku memutuskan persahabatan kami, karena aku tidak lagi kaya. Berita itu menyebar dengan cepat di antara teman-teman orang kayaku yang lain. Mereka mengetahui tentang perceraian orang tuaku, dan tentang diriku yang secara finansial.
Bahkan pacarku sendiri, kami yang sudah menjalin hubungan selama dua tahun, tiba-tiba saja memutuskanku begitu saja, karena orang tuanya bilang kalau dia tidak pantas bersama orang sepertiku. Rupanya Richard sedang mempersiapkan diri untuk berpolitik, dan aku sebagai anak dari orang tua dari hasil perceraian tidak akan terlihat baik di mata keluarga mereka.
Aku sedang duduk sendirian di apartemenku, diam-diam aku berdo'a dan bersyukur kalau mereka semua meninggalkanku. Jika ini hidupku yang sekarang, mungkin aku bisa memulainya sendiri dari awal, aku masih punya uang simpanan untuk satu setengah bulan ke depan. Tapi aku harus menemukan apartemen yang lebih kecil, dan menjual barang-barang mahalku secara online untuk menghasilkan pemasukkan. Karena aku sangat butuh biaya untuk membayar uang kuliahku yang akan jatuh tempo dalam dua bulan ke depan.
Aku kemudian membuka laptopku, dan sudah menyiapkan akun penjualan barangku. Aku perlu memasang gambar barang-barang ku didalamnya. Tapi sebelum itu aku memutuskan untuk melihat-lihat beberapa apartemen yang lebih kecil dulu. Hmmm mungkin aku harus mengganti mobilku juga.
Aku menangis saat memikirkan nasib kucingku Moly. Dia selalu ada untukku, sepanjang masa kecilku hingga hari ini. Dan pada akhirnya aku harus menjual kucing ku juga dan mengakhiri biaya perawatannya.
Jadi aku memutuskan untuk memanggil Lucy, memberi tahunya kalau aku ingin bertemu dengannya, dan membahas tentang menjual Moly. Dia tidak terdengar terkejut saat aku memberitahunya. Mungkin dia sudah pasti mendengar semua tentangku, tentang orang tuaku juga.
Aku berjalan menuju lobi, Aryo menyambutku. "Nona Baskara"
__ADS_1
"Oh Aryo, apa yang haris ku lakukan padamu. Sudah bertahun-tahun loh. Aku sudah bilang namaku Laura. Kumohon. Aku juga sebentar lagi akan keluar dari apartemen ini dalam beberapa minggu lagi." Aryo tampak sedih. Dia mengangguk dan memanggilku Laura. Dia membukakan pintu untukku, dan membuka topinya, berusaha terlihat ceria.
Aku pergi ke klub, dan langsung ke kantor Lucy. Kami berbicara sekitar satu jam. Dia sebenarnya sudah memiliki pembeli Moly, dan harganya lumayan bagus.
Jadi aku bilang padanya untuk melakukan penjualan. Aku pergi untuk mengucapkan selamat tinggal pada Moly, aku menyeka air mataku saat melihatnya. Aku menciumnya untuk yang terakhir kalinya dan berjalan pergi.
Aku pergi ke bar dan membeli satu botol anggur, untuk memberiku sedikit kekuatan setelah menangis. Saat aku mau pergi, seorang wanita datang mendekatiku.
"Permisi, apa kau punya waktu untuk bicara? Aku mungkin punya proposal bisnis untukmu. Kita bisa pindah ke tempat lain jika kau mau. Namaku Adriana." Dia tampak glamor. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan dariku.
"Ehm ... Usulan bisnis seperti apa?"
"Kenapa kita tidak memesan makan siang dulu, dan bicara lebih banyak. Bagaimana kalau aku bertemu denganmu di kedai seberang jalan. Di sana tidak terlalu banyak orang." Dia mengedipkan mata pada saat aku melihat sekelilingku. Tapi beberapa orang melihat ke arah kami. Aku juga melihat beberapa teman dari orang tuaku menatapku dengan tatapan kasihan mereka.
"Oke.. Aku akan menemuimu dalam sepuluh menit, aku mau mengambil mobilku dulu."
__ADS_1
Aku benar-benar membutuhkan uang. Dan kali ini aku hanya akan mendengarkannya.