My Hot Daddy

My Hot Daddy
Ep. 30


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan baik bersama James. Aku bolak-balik, dari tempatku ke tempatnya. Adriana mengirimi ku email tentang berakhirnya kontrakku dengan James. Dia menawarkanku kesempatan lain. Tapi aku menolak dan bilang kalau aku sudah tidak ingin melanjutkannya. Dan dia tidak membujukku lagi untuk itu. Aku pikir dia curiga, dengan apa yang terjadi antara James dan diriku.


Aku baru saja kembali dari kampus. Dan James tiba-tiba menatapku dengan ekspresi serius. Ini adalah salah satu kesempatan yang langka, di mana dia bisa kembali ke rumah lebih awal dari kantor.


"Jadi, bagaimana harimu dikampus?" Dia bertanya dengan sedikit gelisah, sepertinya dia bertanya tentang hal lain selain itu.


"Yah seperti biasa. Kenapa bertanya?"


"Ahh tidak. Jangan khawatir. Aku hanya bertanya." Tapi ekspresinya mengatakan sebaliknya.


"Ngomong-ngomong, aku harus kembali ke kantor. Anggap saja ini rumahmu. Aku mungkin akan pulang larut malam. Aku akan mengirimimu pesan, Laura." Dia mencium pipiku, dan meninggalkanku sendirian di tempatnya.


Apa itu tadi?


Dia pasti mengirimi ku pesan sebelumnya, dia mungkin mengatakan kalau dia memiliki jadwal untuk sore ini dan dia mungkin akan menghabiskan harinya dengan menonton film bersamaku. Tapi dia tidak mengatakan apapun.


Aku memutuskan untuk menelepon Jerri, dan menghabiskan soreku bersamanya juga dengan Renata, mengejar tugas-tugas pendampingku yang sempat aku lewati.


"Jadi, biar kutebak, pasti kau sedang ada masalah, kan?" Jerri langsung bertanya, saat kami sedang dalam perjalanan menjemput Renata, untuk makan malam lebih awal di bar favoritnya.


"Sepertinya, maksudku dia mengenalkanku pada orang tuanya, ibunya juga sangat baik. Kau akan menyukai ibunya jika melihatnya. Mereka begitu hangat." Aku tertawa mengingat ibunya. "Kupikir kami baik-baik saja. Dia memang memperkenalkanku sebagai pacarnya. Ibunya memberitahuku kalau aku yang pertama kali mereka temui." Aku mengangkat bahu, sementara Jerri menepuk tanganku. "Tapi sore ini dia tampak aneh, seperti ... uhm, mungkin aku hanya perasaanku. Mudah-mudahan aku salah menilainya." Jerri menertawakanku, dan mengatakan padaku semuanya akan baik-baik saja.


Sesampainya di bar..


"Renata!" Aku terkikik. Renata terus memberikanku tembakan, saat aku terus-menerus kehilangan kesempatan bermain billiar. Tangan ku sudah melamban karena bir, saat kami bermain biliar. Koordinasi tanganku seperti berusia anak dua tahun.


Tiba-tiba ada yang memanggilku..

__ADS_1


"Laura?" Dari semua orang yang bisa dilihat di bar itu, orang itu adalah Richard.


"Hei, Richard!" Jelas menunjuk ke situasi bar.


Lalu dia tertawa. "Tidak, tidak , aku di sini bersama teman-temanku dari klub. Itu urusan mereka. Terlalu lama kalau aku harus jelaskan padamu." Dia mengangkat bahu dan memelukku erat-erat.


"Aku merindukanmu Laura, apa yang kau lakukan di sini?" Dia menatap Renata di belakangku.


"Ehm iya ... oh, hei ini Renata, calon istri Jerri, sahabatku. Aku sebagai pendamping pria untuk di acara pernikahan mereka nanti." Aku menyeringai padanya, benar-benar yakin, kalau aku mabuk seratus persen.


Richard terkejut dengan penjelasan ku tapi dia berusaha tetap tenang. "Jadi, kau mau menari bersamaku?" Dia akhirnya bertanya padaku.


"Ya tentu. Tunggu, aku harus menurunkan ini dulu. Aku kalah taruhan dengan Renata." Renata menggelengkan kepalanya di depan ku, jelas tidak suka jika aku pergi berdansa dengan Richard.


Tapi pikiranku sudah buram, dan aku kesal dengan James. Aku sudah menunggunya berhari-hari, meminta waktu luangnya. Aku tahu dia sibuk, dan aku sudah berusaha bersabar. Jadi aku sangat senang, saat dia memberi tahu ku kalau dia ingin menghabiskan sisa hari itu denganku. Tapi hari ini dia sedikit berbeda, ada sesuatu yang aneh dengannya.


Aku pikir menjadi pacarnya itu akan lebih berarti baginya. Tapi sepertinya aku masih seperti mainannya. Mainan yang ia mainkan, sesuka hatinya.


Aku mengambil tangan Richard, dan tiba-tiba pinggangku diraih oleh James.


Tunggu, sejak kapan dia ada di sini?


Aku menatap Jerri dengan curiga. Dia memasang ekspresi bersalah di wajahnya. Dan memang kenyataannya begitu.


"Richard, tolong lepaskan tangannya. Dia mabuk, dan dia akan pulang bersamaku." Kata-katanya sedingin es, tapi tangannya terasa panas di pinggangku.


Sangat panas.

__ADS_1


Aku benar-benar membenci James sekarang. Aku tidak akan pernah bisa menolaknya. Ada sesuatu dalam dirinya, yang mengaburkan penilaianku.


Astaga, James.


Perjalanan pulang ke rumah begitu sunyi. Dia tidak banyak bicara. Aku masih merasa mabuk. Aku terhuyung-huyung dan dia menggendongku masuk ke dalam rumahnya dan membantuku melepas sepatu bertali ku.


"Terima kasih, James, aku ..." Dia menempelkan bibirnya ke bibirku. Kurang lebih begitu. Dia kemudian merobek topku. Dia mungkin marah. Dia nenar-benar gila.


"Kau milikku." Dia menarik rambutku ke belakang dan mengis*p leherku dengan posesif. Dia melepas bra ku dan mengisap buah dadaku satu per satu dengan kasar, membuatku mengerang keras.


"Richard, jangan pernah menyentuh apa yang seharusnya menjadi punyaku." Dia menarikku lebih dekat padanya dan meremas pant*tku.


"Kau tidak seharusnya membiarkan dia menyentuhmu, kenapa? Kau pacarku. Tapi kenapa?" Dia tampaknya marah. Aku kemudian mendorongnya kembali. Aku kesal dengannya.


"Kau! Jangan pernah katakan itu saat kau memperlakukan pacarmu, seperti mainan yang bisa kau mainkan kapan pun kau mau. Hari ini seharusnya menjadi sore untuk kita! Kau mengirimkanku pesan, lalu kau menatapku, seperti ada yang salah denganku! Aku bertanya padamu tapi kau tidak menjawabku. Aku tahu ada yang salah."


Mataku mulai berkaca-kaca. Aku menyilangkan tangan, dan mulai menangis.


Kenapa ini begitu sulit! Seharusnya ini menjadi hal yang mudah karena aku mencintainya.


"Aku. Aku minta maaf sayang. Tolong jangan menangis." Dia memelukku erat, dan mencium keningku.


"Aku tidak menangis." Aku memukul dadanya yang berotot. "Aku ingin bahagia denganmu! Tapi kau membuatnya sulit untukku, untuk kita."


"Aku mencintaimu! Aku sangat mencintaimu! Tapi ini salah! Aku terlalu tua untukmu sayang. Aku dua puluh tahun lebih tua darimu. Kau pantas mendapat seseorang yang lebih muda, seseorang yang bisa membuatmu bahagia." Dia berjalan menjauh dariku, menggerakkan tangannya untuk mengusap rambutnya yang tebal. Dia duduk di sofa, tangannya menutupi wajahnya.


Aku berjalan ke arahnya, dan duduk di pangkuannya. Aku mengangkang, dan meletakkan dadaku yang telanj*ng di dadanya, dan meletakkan wajahku di lekuk lehernya, dan menghirup aromanya.

__ADS_1


"Aku tidak menginginkan orang lain. Aku hanya menginginkanmu. Aku milikmu. Kau milikku. Aku mencintaimu dan soal itu kita akan menghadapinya bersama dengan segala konsekuensinya nanti." Aku melontarkan kata-kata itu kembali padanya.


Dia tersenyum padaku.


__ADS_2